Fenomena awan pelangi kembali mencuri perhatian publik setelah langit Bogor menampilkan warna-warni tak biasa yang tampak menyatu dengan awan, bukan membentuk busur seperti pelangi pada umumnya. Kemunculan ini langsung viral di media sosial karena tampilannya yang unik dan jarang terlihat, terutama di siang hari.
Peristiwa ini bukan sekadar pemandangan indah, tetapi juga memicu rasa penasaran banyak orang tentang apa sebenarnya yang terjadi di balik fenomena tersebut.
Mengapa warna bisa muncul di awan? Apakah ini sama dengan pelangi biasa, atau justru fenomena yang berbeda? Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian membuka ruang untuk memahami sisi ilmiah dari keindahan langit yang satu ini.
Baca Juga: Fenomena Langit Australia Berubah Merah! Siklon Narelle 2026 Jadi Pemicunya
Fenomena Awan Pelangi di Langit Bogor
Beberapa waktu lalu, warga Jonggol, Bogor, dihebohkan dengan muncunya awan berwarna-warni di siang hari. Warna seperti merah muda, hijau, hingga ungu tampak menyebar di bagian tepi awan, menciptakan pemandangan yang tidak biasa. Banyak warga yang langsung mengabadikan momen tersebut dan membagikannya di media sosial.
Fenomena serupa bahkan kembali muncul di wilayah lain di Jawa Barat, seperti Indramayu. Bentuknya tidak utuh seperti pelangi biasa, melainkan terlihat menggantung dan hanya sebagian saja.
Hal ini membuat banyak orang mengira fenomena tersebut sebagai tanda alam tertentu, padahal secara ilmiah, ini adalah fenomena optik atmosfer.
Menurut penjelasan dari pihak meteorologi, kondisi ini terjadi karena kombinasi antara sinar matahari yang masih kuat dan keberadaan butir-butir air di udara, terutama saat masa peralihan musim.
Pada periode ini, hujan lokal masih sering terjadi, namun langit juga cukup cerah yang menghasilkan kombinasi ideal untuk menciptakan fenomena visual seperti ini.
Apa Itu Awan Iridescent?
Awan pelangi atau yang dikenal sebagai iridescent cloud merupakan fenomena optik atmosfer yang menghasilkan warna-warni menyerupai pelangi pada awan. Namun berbeda dengan pelangi biasa, warna pada awan ini tidak membentuk lengkungan, melainkan mengikuti bentuk awan itu sendiri.
Warna-warna tersebut muncul akibat interaksi cahaya matahari dengan partikel kecil berupa butiran air atau kristal es di dalam awan. Efek visualnya sering terlihat di bagian tepi awan yang tipis atau semi-transparan.
Fenomena ini bukanlah tanda bahaya atau pertanda cuaca ekstrem. Sebaliknya, awan iridescent lebih merupakan hasil dari proses fisika cahaya yang terjadi secara alami di atmosfer.
Syarat Terbentuknya Awan Pelangi
Awan pelangi tidak muncul setiap saat. Ada beberapa kondisi khusus yang harus terpenuhi agar fenomena ini bisa terlihat:
- Awan tipis dan transparan
Biasanya berasal dari jenis awan tinggi seperti cirrus atau altocumulus, yang memungkinkan cahaya matahari menembusnya. Jika awan terlalu tebal, cahaya tidak akan bisa menembus dan efek warna tidak akan muncul.
- Ukuran partikel seragam
Butiran air atau kristal es di dalam awan harus memiliki ukuran yang relatif sama, sekitar 1-10 mikron. Keseragaman ini penting karena menentukan pola difraksi Cahaya, jika ukurannya berbeda-beda, warna akan terlihat pudar atau bahkan tidak muncul sama sekali.
- Sudut matahari tertentu
Posisi matahari yang rendah, seperti pagi atau sore hari, membuat proses pembelokan cahaya lebih optimal. Pada sudut ini, cahaya lebih mudah berinteraksi dengan partikel awan dan menghasilkan spektrum warna yang terlihat jelas.
Ketiga faktor ini harus hadir secara bersamaan, sehingga tidak heran jika fenomena ini tergolong jarang terlihat secara jelas.
Baca Juga: Jangan Terlewat! Fenomena Pink Moon Muncul 1-2 April, Ini Waktu Terbaik Melihatnya
Bagaimana Awan Pelangi Terbentuk?
Berikut gambaran sederhana proses terbentuknya awan pelangi:
Berbeda dengan pelangi biasa yang terbentuk melalui refraksi (pembiasan cahaya di dalam tetesan air hujan), awan pelangi terbentuk melalui difraksi, yaitu pembelokan cahaya di sekitar partikel kecil.
Secara ilmiah, setiap butiran air atau kristal es bertindak seperti “celah kecil” yang membelokkan cahaya. Karena cahaya matahari terdiri dari berbagai panjang gelombang, setiap warna akan dibelokkan pada sudut yang berbeda. Inilah yang menghasilkan gradasi warna seperti biru, hijau, merah, hingga ungu.
Menariknya, karena proses ini terjadi pada banyak partikel sekaligus, pola warna yang terbentuk tidak beraturan seperti pelangi, melainkan tampak menyebar dan menyatu dengan struktur awan.
Fakta Unik Awan Iridescent
- Tidak membentuk busur seperti pelangi, melainkan mengikuti bentuk awan
Berbeda dari pelangi yang memiliki bentuk setengah lingkaran yang jelas, awan iridescent justru terlihat menyatu dengan struktur awan.
Warna-warnanya muncul secara acak di tepi awan, mengikuti alur dan bentuk alami awan itu sendiri. Hal inilah yang kemudian membuat tampilannya terasa lebih organik dan tidak simetris.
- Lebih sering muncul saat peralihan musim hujan ke kemarau
Fenomena ini banyak terjadi saat musim pancaroba karena kondisi atmosfer sedang tidak stabil yang masih ada sisa hujan yang menghasilkan butiran air di udara, sementara sinar matahari tetap cukup kuat. Kombinasi ini menjadi faktor utama terbentuknya awan pelangi.
- Bisa terjadi di berbagai wilayah, termasuk Indonesia
Meski sering dianggap langka, awan iridescent sebenarnya bisa muncul di banyak tempat selama syaratnya terpenuhi. Di Indonesia sendiri, fenomena ini sudah beberapa kali terlihat di berbagai kota, termasuk Bogor, Yogyakarta, hingga Manado.
- Warna paling terang biasanya muncul pada awan yang baru terbentuk
Awan yang masih muda biasanya memiliki partikel air yang lebih seragam ukurannya. Kondisi ini membuat difraksi cahaya terjadi lebih sempurna, sehingga warna yang dihasilkan terlihat lebih terang dan jelas dibandingkan awan yang sudah berkembang lebih tebal.
- Fenomena ini mirip dengan warna pada gelembung sabun atau permukaan CD
Jika diperhatikan, pola warna pada awan pelangi sangat mirip dengan kilauan pada gelembung sabun atau cakram CD.
Keduanya terjadi karena prinsip fisika yang sama, yaitu difraksi cahaya yang menghasilkan spektrum warna akibat perbedaan panjang gelombang.
- Tidak berbahaya dan tidak berkaitan langsung dengan bencana cuaca
Banyak orang mengira fenomena ini sebagai pertanda cuaca ekstrem, padahal tidak demikian. Secara ilmiah, awan iridescent hanya merupakan efek visual dari interaksi cahaya dan partikel kecil di atmosfer, tanpa kaitan langsung dengan badai atau bencana.
- Bisa muncul di siang hari, bahkan kadang menjelang sore
Tidak seperti pelangi biasa yang identik setelah hujan, awan pelangi justru bisa muncul di siang hari ketika matahari cukup terang.
Bahkan dalam beberapa kondisi, fenomena ini juga terlihat lebih jelas saat menjelang sore ketika sudut matahari mulai rendah.
Fenomena awan pelangi di Bogor menjadi bukti bahwa keindahan alam sering kali hadir dari proses ilmiah yang kompleks namun menakjubkan. Di balik warna-warni yang memukau, terdapat interaksi antara cahaya matahari dan partikel kecil di atmosfer yang menghasilkan efek difraksi.
Meskipun terlihat langka dan spektakuler, awan iridescent bukanlah tanda bahaya. Justru, fenomena ini menjadi pengingat bahwa langit menyimpan banyak kejutan yang bisa kita nikmati sekaligus pelajari. Dalam sekejap, sains berubah menjadi lukisan alam yang singkat, unik, dan penuh makna.
Baca Juga: BMKG Rilis 10 Kota Terpanas Maret 2026, Apakah Kotamu Termasuk?
Sumber:
https://www.ipb.ac.id/news/index/2026/05/awan-pelangi-ramai-diperbincangkan-di-media-sosial-ini-penjelasan-dosen-ipb-university/
Penulis: Raka Adichandra
Editor: Firda Wandira