Kebutuhan akan layanan taman penitipan anak (daycare) di Indonesia terus meningkat seiring dengan perubahan pola sosial dan ekonomi, terutama meningkatnya jumlah orang tua bekerja. Menurut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), fasilitas taman penitipan anak masih terpusat di sejumlah provinsi, dengan dominasi kuat dari wilayah Pulau Jawa.
Per Mei 2026, terdapat 2.597 taman penitipan anak di Indonesia. Provinsi Jawa Tengah menempati posisi teratas dengan 560 taman penitipan anak, menjadikannya wilayah dengan jumlah fasilitas daycare terbanyak di Indonesia. Tingginya angka ini mencerminkan besarnya kebutuhan layanan pengasuhan anak sekaligus berkembangnya ekosistem pendukung keluarga di provinsi tersebut.
Baca Juga: Ini Dia Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Punya Anak
Di posisi kedua, Jawa Timur mencatatkan 432 fasilitas, diikuti Daerah Istimewa Yogyakarta dengan 217 taman penitipan anak. Data ini menegaskan bahwa kawasan Jawa masih menjadi pusat utama layanan pengasuhan anak di Indonesia.
Sementara itu, Jawa Barat dan Kalimantan Selatan sama-sama memiliki 157 fasilitas, menandakan pertumbuhan layanan daycare yang mulai merata di luar pusat tradisional. Di sisi lain, Aceh (122) dan Riau (114) juga menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan.
Wilayah Sumatra dan Kalimantan lainnya turut masuk dalam daftar, seperti Sumatra Barat dengan 97 fasilitas dan Kalimantan Timur dengan 79 fasilitas. Meski jumlahnya lebih rendah dibandingkan Pulau Jawa, kehadiran taman penitipan anak di wilayah ini tetap penting sebagai indikator meningkatnya kesadaran akan pentingnya pengasuhan anak usia dini. Daftar sepuluh besar ditutup oleh Bengkulu dengan 68 daycare.
Sayangnya, terdapat tiga provinsi yang belum memiliki fasilitas daycare yang tercatat, yakni Maluku Utara, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan. Adapun Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Maluku masing-masing hanya memiliki 1 taman penitipan anak.
Minimnya fasilitas taman penitipan anak di provinsi timur Indonesia disebabkan oleh urbanisasi, kepadatan penduduk, hingga partisipasi angkatan kerja perempuan. Di wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi dan partisipasi pekerja perempuan yang besar seperti Jawa, permintaan terhadap daycare cenderung lebih besar, sehingga mendorong pertumbuhan fasilitas secara signifikan. Sebaliknya, di wilayah dengan sebaran penduduk yang lebih terpencar dan akses terbatas, pengembangan daycare masih menghadapi tantangan struktural.
Baca Juga: Ragam Faktor Ekonomi yang Bikin Enggan Punya Anak
Sumber:
https://dapo.kemendikdasmen.go.id/sp
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor