Kerugian yang dialami perusahaan pelat merah tidak selalu terjadi hanya dalam satu tahun. Sejumlah BUMN dan anak usaha BUMN bahkan mencatat kerugian secara beruntun selama beberapa tahun.
Kondisi tersebut terlihat pada perusahaan konstruksi dan farmasi, seperti PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Indofarma Tbk, dan PT Kimia Farma Tbk.
Baca Juga: Danantara Resmi Merger 7 Perusahaan BUMN, Ini Alasannya
Daftar BUMN yang Rugi Bertahun-tahun
1. Wijaya Karya, rugi hampir Rp20 triliun dalam tiga tahun
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA menjadi perusahaan dengan akumulasi kerugian terbesar dalam periode tiga tahun terakhir. Berdasarkan laporan tahunan WIKA mencatat rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sekitar Rp7,13 triliun pada 2023, Rp2,27 triliun pada 2024, dan melonjak menjadi Rp9,71 triliun pada 2025. Dengan demikian, total kerugian dalam tiga tahun tersebut mencapai sekitar Rp19,11 triliun.
Kerugian WIKA dipengaruhi oleh keterlibatannya dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Investasi WIKA di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia PSBI mengalami penurunan nilai dari 39,12% menjadi 33,36%, sehingga tekanan keuangan proyek tersebut turut berdampak pada kinerja perusahaan.
Selain itu, WIKA membiayai berbagai proyek infrastruktur melalui pinjaman perbankan, dan obligasi yang menimbulkan beban bunga tinggi setiap tahun.
Efisiensi anggaran pemerintah turut menekan kinerja WIKA. Penyesuaian dan penundaan sejumlah proyek infrastruktur dapat mengurangi kontrak serta pendapatan perusahaan. Kondisi tersebut menjadi semakin berat karena WIKA tetap harus menanggung biaya operasional dan kewajiban pembiayaan yang telah ada.
2. Waskita Karya, lima tahun berturut-turut membukukan rugi
Waskita Karya menjadi perusahaan kedua yang mencatat rugi selama tiga tahun berturut-turut.
Laporan perusahaan menunjukkan rugi tahun berjalan sekitar Rp4,02 triliun pada 2023, Rp3,91 triliun pada 2024, dan Rp4,48 triliun pada 2025. Untuk 2025, Waskita mencatat pendapatan usaha sekitar Rp8,82 triliun, turun dari Rp10,71 triliun pada 2024. Sementara itu, perusahaan masih mampu meningkatkan laba bruto menjadi Rp1,58 triliun karena berhasil menekan beban pokok pendapatan.
Data laporan keuangan 2025 juga memperlihatkan besarnya tekanan pendanaan. Waskita mencatat beban bunga sekitar Rp4 triliun, sedangkan laba sebelum beban tersebut belum cukup untuk menghasilkan laba bersih positif. Dengan pendapatan yang menurun dan beban keuangan yang besar, perusahaan tetap harus menanggung tekanan pada tingkat laba bersih.
Selain itu, posisi keuangan Waskita masih menunjukkan liabilitas (kewajiban perusahaan) yang sangat besar. Pada akhir 2025, liabilitas perusahaan tercatat sekitar Rp67,06 triliun, sedangkan ekuitas hanya sekitar Rp3,67 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa restrukturisasi keuangan masih menjadi bagian penting dalam proses pemulihan perusahaan.
Salah satu penyebab kerugian Waskita Karya (WSKT) adalah struktur permodalan yang rapuh. Pada 2025, rasio Debt-to-Equity (DER) perusahaan mencapai 18,27 kali, yang menunjukkan bahwa jumlah utang jauh lebih besar dibandingkan ekuitas. Kondisi tersebut membuat beban keuangan perusahaan semakin tinggi.
Selain itu, penggunaan utang jangka panjang untuk membiayai proyek penugasan, seperti pembangunan jalan tol, melebihi kemampuan arus kas perusahaan. Akibatnya, WSKT menghadapi tekanan untuk memenuhi kewajiban utang dan bunga, sementara penerimaan dari proyek belum cukup untuk menutup kebutuhan pembiayaan tersebut.
3. Adhi Karya, Rugi Melonjak Jadi Rp5,60 Triliun pada 2025
PT Adhi Karya (Persero) Tbk atau ADHI mencatat kerugian besar pada 2025. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, ADHI membukukan rugi tahun berjalan Rp5,60 triliun pada 2025. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan rugi Rp60,1 miliar pada 2024 setelah penyajian kembali. Sebelumnya, ADHI melaporkan laba bersih Rp252 miliar untuk tahun buku 2024.
Kerugian ADHI dipengaruhi oleh keterlibatannya dalam proyek LRT Jabodebek, di mana ADHI menjadi kontraktor utama. Selain itu, ADHI juga terlibat dalam berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan investasi jalan tol yang membutuhkan pendanaan besar.
Selain tekanan pendanaan dari proyek-proyek infrastruktur, lonjakan kerugian ADHI pada 2025 turut dipengaruhi oleh beban non-operasional dalam rangka penyesuaian nilai aset dan program restrukturisasi perusahaan. Akibatnya, ADHI tetap mencatat laba usaha Rp179,49 miliar, tetapi berbalik menjadi rugi tahun berjalan Rp5,60 triliun.
4. Indofarma, kerugian turun tetapi belum keluar dari tekanan
PT Indofarma Tbk merupakan anak usaha BUMN farmasi yang juga mengalami kerugian selama beberapa tahun. Perusahaan mencatat rugi sekitar Rp457,6 miliar pada 2022, meningkat menjadi sekitar Rp721 miliar pada 2023, kemudian turun menjadi sekitar Rp334,5 miliar pada 2024. Pada 2025, kerugian kembali menyusut menjadi sekitar Rp77,9 miliar.
Dengan demikian, akumulasi kerugian pada 2022–2025 mencapai sekitar Rp1,59 triliun. Indofarma menyediakan laporan tahunan dan laporan keuangan 2022 hingga 2025 pada laman resmi perusahaan.
Penurunan kerugian pada 2025 menjadi sinyal perbaikan. Penjualan bersih perusahaan pada tahun tersebut mencapai sekitar Rp151,5 miliar, sedangkan rugi periode berjalan turun 76,7% dibandingkan 2024. Perusahaan juga menekan beban umum dan administrasi sebesar 55,2% serta memperbaiki struktur modalnya.
Meski demikian, masalah Indofarma belum sepenuhnya selesai. Perusahaan masih menghadapi keterbatasan likuiditas dan posisi ekuitas negatif. Pada 2025, defisiensi modal turun dari sekitar Rp1,14 triliun menjadi Rp707 miliar, tetapi angka tersebut menunjukkan bahwa kerugian kumulatif masih memberikan dampak besar terhadap struktur keuangan perusahaan.
Indofarma juga menghadapi persoalan tata kelola yang turut memperberat kondisi perusahaan. Karena itu, pemulihan tidak cukup dilakukan melalui efisiensi biaya. Perusahaan perlu memperbaiki penjualan, arus kas, tata kelola, serta struktur permodalan secara bersamaan.
5. Kimia Farma, kerugian mulai mengecil
PT Kimia Farma Tbk mencatat kerugian selama empat tahun berturut-turut pada 2023–2025. Namun, tren kerugian mulai membaik pada 2025. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, Kimia Farma mencatat rugi tahun berjalan sekitar Rp1,96 triliun pada 2023, Rp1,21 triliun pada 2024, dan turun menjadi Rp443,36 miliar pada 2025.
Penurunan kerugian pada 2025 menunjukkan adanya perbaikan kinerja, meskipun perusahaan masih belum mencatat laba. Kimia Farma juga menghadapi tekanan dari sisi pendapatan.
Penjualan bersih turun dari sekitar Rp9,94 triliun pada 2024 menjadi Rp9,22 triliun pada 2025. Namun, perusahaan berhasil menekan sejumlah beban sehingga kerugian dapat dikurangi secara signifikan.
Baca Juga: BP BUMN Pangkas 67 Entitas Anak Usaha Telkom, Ini Tujuannya
Sumber:
Hasil Riset GoodStas