Nasional

Danantara Resmi Merger 7 Perusahaan BUMN, Ini Alasannya

Danantara resmi melakukan merger 7 perusahaan BUMN di sektor logistik Simak apa saja perusahaannya dan alasan di balik kebijakan tersebut.

Danantara Resmi Merger 7 Perusahaan BUMN, Ini Alasannya

Ilustrasi Logistik | Ollie Craig/Pexels

Merger BUMN kembali menjadi sorotan setelah Danantara Asset Management resmi memulai konsolidasi tujuh perusahaan pelat merah di sektor logistik. Langkah yang ditandai dengan penandatanganan Shareholder Agreement (SHA) dan Akta Penggabungan pada 30 Juni 2026 ini menjadi bagian dari transformasi besar untuk menciptakan ekosistem logistik nasional yang lebih efisien, terintegrasi, dan tentunya kompetitif.

Selain menyederhanakan struktur perusahaan, konsolidasi ini juga diklaim mampu menghemat biaya operasional hingga puluhan triliun rupiah setiap tahunnya. Transformasi tersebut merupakan bagian dari strategi Danantara dalam mendukung Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 sekaligus program Asta Cita Pemerintah.

Dengan mengurangi fragmentasi perusahaan dan menghilangkan berbagai fungsi yang saling tumpang tindih, pemerintah berharap biaya logistik nasional dapat ditekan sehingga daya saing Indonesia semakin meningkat.

Baca Juga: Merek & Perusahaan Merger 15 BUMN Logistik: Peta Kinerja dan Tantangan Integrasi

7 Perusahaan BUMN Sektor Logistik yang Mengalami Merger

Berikut daftar tujuh perusahaan logistik BUMN yang resmi dikonsolidasikan ke dalam satu entitas:

7 Perusahaan BUMN Sektor Logistik yang Mengalami Merger | GoodStats
7 Perusahaan BUMN Sektor Logistik yang Mengalami Merger | GoodStats

Selama masa transisi, ketujuh perusahaan tersebut akan berada di bawah PT Multi Terminal Indonesia sebagai surviving entity atau entitas yang tetap bertahan. Nantinya, perusahaan ini akan menjadi pusat integrasi operasional, keuangan, hukum, hingga tata kelola sebelum proses merger selesai sepenuhnya.

Melalui penyatuan tersebut, Danantara ingin membangun satu ekosistem logistik yang mampu melayani berbagai kebutuhan distribusi nasional tanpa harus melibatkan banyak perusahaan dengan fungsi yang serupa. Dengan demikian, proses bisnis diharapkan menjadi lebih sederhana sekaligus lebih efisien.

Di sisi lain, PT Pos Indonesia memastikan layanan kepada masyarakat tetap berjalan normal selama masa transisi. Perseroan saat ini memiliki jaringan 5.597 titik layanan, armada sekitar 8.032 unit, melayani lebih dari 2,2 juta pelanggan, serta memproses sekitar 300 ribu paket setiap hari.

Seluruh proses integrasi juga disebut akan mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan manajemen risiko.

Apa Urgensi Dilakukannya Merger Perusahaan BUMN?

Penggabungan perusahaan bukan sekadar mengurangi jumlah entitas BUMN. Pemerintah dan Danantara menilai langkah ini menjadi fondasi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saing logistik nasional.

1. Menghilangkan Transaksi Berlapis yang Memicu Pemborosan

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menyebut sumber inefisiensi terbesar berasal dari layering transaction, yakni transaksi berlapis antara induk perusahaan dan anak usaha yang mengerjakan pekerjaan serupa. Skema tersebut membuat biaya operasional meningkat karena satu pekerjaan harus melewati beberapa perusahaan dalam grup yang sama.

Dengan penyederhanaan struktur perusahaan, praktik tersebut diharapkan dapat dihilangkan sehingga tercipta efisiensi sekitar Rp30 triliun per tahun. Selain itu, terdapat potensi tambahan penghematan sekitar Rp20 triliun melalui penutupan anak perusahaan yang selama ini terus merugi.

2. Mengurangi Duplikasi Fungsi dan Layanan

Selama ini beberapa perusahaan logistik BUMN memiliki layanan yang saling beririsan. Akibatnya, terjadi kompetisi internal sekaligus pemborosan sumber daya.

Melalui merger, berbagai fungsi tersebut akan diintegrasikan sehingga tidak lagi terjadi pengulangan investasi, infrastruktur, maupun sumber daya manusia untuk layanan yang sama.

3. Membangun Ekosistem Logistik dari Hulu hingga Hilir

Konsolidasi memungkinkan seluruh layanan logistik berada dalam satu jaringan yang saling terhubung. Skala bisnis yang lebih besar juga diharapkan meningkatkan daya saing perusahaan logistik nasional, terutama menghadapi persaingan di tingkat regional.

4. Menekan Biaya Logistik Nasional

Biaya logistik Indonesia masih tergolong lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara ASEAN. Pemerintah berharap penyederhanaan struktur perusahaan dapat menurunkan biaya distribusi sehingga berdampak pada efisiensi dunia usaha secara keseluruhan.

5. Mendorong Transformasi BUMN yang Berkelanjutan

Meski demikian, Komisi VI DPR RI mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi tidak cukup diukur dari jumlah perusahaan yang berhasil digabungkan.

Tantangan terbesar justru berada pada tahap pasca-merger, mulai dari penyatuan budaya kerja, harmonisasi proses bisnis, penguatan tata kelola, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tanpa integrasi yang berjalan baik, efisiensi yang diharapkan berpotensi tidak optimal.

Baca Juga: Perusahaan BUMN dengan Pendapatan Terbesar di 2024

Beberapa Transformasi BUMN yang Dinilai Berhasil

Merger bukan satu-satunya strategi transformasi BUMN. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan pelat merah menunjukkan perbaikan kinerja setelah melakukan restrukturisasi maupun perubahan model bisnis.

1. PT Pupuk Indonesia

Perusahaan mengubah skema subsidi dari model cost-plus menjadi mekanisme mark-to-market. Perubahan ini membuat perusahaan memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengelola risiko fluktuasi harga komoditas sekaligus meningkatkan profitabilitas.

2. PT Pertamina (Persero)

Pertamina melakukan konsolidasi dengan menggabungkan Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan Pertamina International Shipping (PIS) dalam Subholding Downstream. Langkah tersebut menyederhanakan struktur organisasi, mengurangi tumpang tindih operasional, serta memperkuat integrasi bisnis hilir energi.

3. PT Krakatau Steel

Restrukturisasi berhasil membalikkan kondisi perusahaan dari rugi sekitar Rp981 miliar pada April 2025 menjadi laba sekitar Rp635 miliar pada April 2026. Pada saat yang sama, utang perusahaan juga turun signifikan dari sekitar US$1,7 miliar menjadi US$1,1 miliar.

4. Transformasi Kawasan Industri

Kinerja sektor kawasan industri juga mengalami peningkatan. Pada 2025, penyediaan lahan industri bertambah hingga 142 hektare. Pendapatan meningkat dari Rp3,09 triliun menjadi Rp3,81 triliun, sementara laba naik dari Rp830 miliar menjadi Rp1,3 triliun.

Perbaikan tersebut turut mendorong masuknya investasi asing langsung senilai sekitar US$400-500 juta dan menciptakan sekitar 10.000 lapangan kerja baru.

5. PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo)

Pelindo mencatatkan laba Rp1,48 triliun hingga April 2026, melonjak sekitar 169 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp550 miliar. Kinerja tersebut menjadi salah satu contoh transformasi BUMN yang menunjukkan dampak nyata terhadap profitabilitas perusahaan.

Transformasi yang dilakukan berbagai BUMN menunjukkan bahwa penyederhanaan struktur organisasi, restrukturisasi bisnis, hingga perubahan model operasional dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kinerja perusahaan.

Namun, sebagaimana diingatkan DPR, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kemampuan setiap perusahaan menjalankan integrasi secara menyeluruh setelah proses merger selesai.

Pada akhirnya, merger tujuh BUMN logistik menjadi salah satu langkah paling ambisius dalam reformasi perusahaan pelat merah.

Apabila integrasi operasional, tata kelola, dan budaya kerja dapat berjalan sesuai rencana, konsolidasi ini tidak hanya berpotensi menghemat puluhan triliun rupiah setiap tahun, tetapi juga memperkuat daya saing logistik nasional sekaligus menghadirkan layanan yang lebih efisien bagi masyarakat dan dunia usaha.

Baca Juga: Ekspor Batu Bara Kini Wajib Lewat BUMN, Apa Alasannya?

Sumber:

Hasil Riset GoodStats

Penulis: Raka Adichandra Editor: Firda Wandira

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?