Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan tahun 2026 di level 8.748,13 pada 2 Januari 2026. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, IHSG mengalami pergerakan yang sangat tajam, mulai dari mencetak rekor tertinggi sepanjang masa hingga turun drastis ke level 6.300-an.
Dalam periode 2 Januari hingga 19 Mei 2026, IHSG tercatat melemah sekitar 26,32%. Kondisi ini menunjukkan besarnya tekanan yang terjadi di pasar modal Indonesia sepanjang awal tahun.
Januari Tembus Rekor
Pada 20 Januari 2026, IHSG berhasil menembus level tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) di angka 9.134,70. Momen ini menjadi sejarah baru karena untuk pertama kalinya IHSG mampu bertahan di atas level psikologis 9.000.
Penguatan IHSG saat itu didorong sentimen positif awal tahun, termasuk aktivitas rebalancing portofolio oleh manajer investasi dan masuknya dana asing ke pasar saham Indonesia. Optimisme terhadap ekonomi domestik serta harapan kebijakan suku bunga global yang lebih stabil turut menopang kenaikan IHSG.
Longsor Usai Cetak ATH
Setelah mencetak ATH, IHSG langsung mengalami tekanan besar. Dalam waktu sekitar 10 hari, IHSG turun dari 9.134,70 ke level 8.329,61 pada akhir Januari. Bahkan pada 2 Februari 2026, IHSG sempat jatuh ke 7.922,73 sebelum kembali menguat ke area 8.200-an pada akhir Februari.
Pelemahan berlanjut sepanjang Maret hingga Mei. Pada akhir Maret 2026, IHSG turun ke level 7.048,22. Memasuki April, IHSG masih bergerak melemah dan ditutup di level 6.956,80 pada akhir bulan.
Sementara itu pada Mei 2026, tekanan di pasar semakin besar. IHSG kembali merosot hingga menyentuh level 6.370,68 pada 19 Mei 2026.
Rupiah Melemah dan Tekanan dari MSCI-FTSE
Tekanan terhadap IHSG semakin berat setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah. Pada 19 Mei 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp17.701 per dolar AS.
Di saat yang sama, pasar global juga dibayangi ketegangan baru di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia yang membuat investor cenderung mengurangi aset berisiko, termasuk saham di pasar berkembang seperti Indonesia.
Selain faktor global, MSCI sempat membekukan penyesuaian saham Indonesia karena menilai pasar domestik masih kurang transparan. Salah satu sorotan utamanya berkaitan dengan persoalan free float atau jumlah saham yang beredar di publik dan struktur kepemilikan saham di sejumlah emiten Indonesia.
Baca Juga: Indeks Kepercayaan Industri April 2026 Turun, Imbas Perang?
Dalam tinjauan indeks yang diumumkan pada 12 Mei 2026, MSCI juga mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes, seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Perubahan tersebut berlaku efektif mulai 1 Juni 2026.
Selain itu, MSCI turut menghapus sejumlah saham dari MSCI Small Cap Indexes, di antaranya ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG. Sementara AMRT justru masuk ke kategori MSCI Small Cap Indexes.
Lebih lanjut, pada Rabu (13/5/2026), FTSE Russell mengumumkan akan menghapus saham-saham Indonesia yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC) atau kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi dalam review Juni 2026. Kebijakan tersebut mulai berlaku efektif pada 22 Juni 2026.
FTSE Russell juga menyatakan masih menunda penyesuaian peringkat indeks secara penuh, peningkatan free float, hingga penambahan saham Indonesia setidaknya sampai evaluasi September 2026 guna memberikan waktu pemantauan tambahan terhadap pasar domestik.
Kondisi IHSG Rabu, 20 Mei 2026
IHSG hari ini, Rabu (20/5/2026), kembali bergerak volatil. Pada sesi pertama perdagangan, IHSG dibuka melemah di level 6.286,65. IHSG sempat naik ke 6.458,08 pada pukul 09.59 WIB, namun kemudian kembali turun hingga menyentuh titik terendah di 6.217,52 pada pukul 11.22 WIB.
IHSG menutup sesi pertama di level 6.332,18 dan kembali dibuka pada sesi kedua di angka 6.361,02 pada pukul 13.30 WIB.
Pergerakan IHSG hari ini juga bertepatan dengan pidato Presiden Prabowo Subianto dalam penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027 di DPR RI.
Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung tantangan geopolitik global, target pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 5,8% hingga 6,5% pengawasan ekspor komoditas, hingga komitmen pemberantasan korupsi. Sentimen dari agenda tersebut turut menjadi perhatian pelaku pasar dan investor di tengah tekanan besar terhadap IHSG dan pasar keuangan Indonesia.
Baca Juga: 10 Mata Uang Terlemah pada 2026, Ada Rupiah?
Sumber:
https://www.idx.id/id
https://stockbit.com/symbol/USDIDR
Penulis: Andy Apriyono
Editor: Editor