Di tengah tekanan yang membayangi industri otomotif nasional dalam dua tahun terakhir, kinerja penjualan kendaraan roda empat masih menunjukkan pelemahan. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil baru pada tahun lalu turun sekitar 7% dibandingkan capaian tahun 2024.
Di sisi lain, PT Agrinas Pangan Nusantara, baru-baru ini dinilai mengambil langkah yang cukup kontroversial, yakni dengan mengimpor 105 ribu unit mobil pikap dan truk dari India guna mendukung program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Padahal, menurut Kementerian Perindustrian, sebagian merek mobil dalam negeri juga sudah mampu memproduksi mobil pikap dan truk ringan, bahkan memiliki kapasitas produksi sekitar 1 juta unit per tahun.
Lebih lanjut, PT Agrinas turut mengimpor 35 ribu unit pikap dari Mahindra jenis Scorpio Double Cabin serta 70 ribu unit sisanya dari Tata Motors model Yodha dan Ultra T.7 Light Truck. Adapun, total anggaran impor kendaraan tersebut tembus di angka Rp24,66 triliun.
Padahal, menurut Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, apabila permintaan kendaraan itu dipenuhi oleh produsen dalam negeri, industri otomotif tanah air sejatinya akan memperoleh dampak positif sekitar Rp27 triliun.
“Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pick up dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati oleh industri di luar negeri. Namun, apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional juga akan dirasakan di dalam negeri," ujarnya dalam siaran pers pada Kamis (19/2/2026), mengutip Suara.
Baca Juga: Jepang Capai Nilai Impor Kendaraan Bermotor Paling Banyak di Indonesia
Karena kebijakan impor tersebut sudah terlanjur berjalan, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menganalisis dampak impor tersebut dengan metode modelling ekonomi menggunakan input-output. Dari pemodelan ini, ditemukan sejumlah proyeksi kerugian yang harus ditanggung industri otomotif nasional, berikut rinciannya.
Apabila meninjau dari Produk Domestik Bruto (PDB), total kerugian berada di kisaran angka Rp39,29 triliun. Artinya, aktivitas ekonomi, seperti produksi komponen, logistik, hingga tenaga kerja justru “pindah” ke negara India.
Selain itu, pendapatan masyarakat juga diperkirakan akan kena imbasnya, sebanyak Rp39,05 triliun.
Lebih lanjut, surplus usaha yang seharusnya bisa diterima oleh pabrik otomotif bengkel di pinggir jalan, toko sparepart, dan pelaku usaha lainnya yang terlibat dalam rantai industri diperkirakan berkurang hingga Rp21,67 triliun.
Terakhir, pajak bersih, yaitu penerimaan negara yang timbul dari aktivitas ekonomi industri otomotif, diperkirakan berkurang sekitar Rp0,24 triliun.
Temuan dari perhitungan CELIOS juga menggarisbawahi bahwa kegiatan impor kendaraan dari India dapat mengancam 330 ribu tenaga kerja lokal dengan kerugian pendapatan tenaga kerja mencapai Rp17,38 triliun.
Sebagai catatan, perhitungan proyeksi kerugian tersebut memiliki dua asumsi, yakni:
- Jumlah unit dari dalam negeri yang berkurang sama seperti jumlah impor (105 ribu unit)
- Harga dalam negeri sebesar Rp197 juta (Gran Max tertinggi)
Alasan Agrinas Impor Mobil Pikap
Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota menyampaikan sejumlah alasan dibalik keputusan mengimpor 105 ribu kendaraan dari India.
“Kami memesan dengan harga yang sangat kompetitif, hampir 50% lebih murah dari kompetitornya. Dari sisi daya tahan, tenaga, dan konsumsi bahan bakar, kendaraan ini sangat andal dan berkualitas,” jelasnya dalam keterangan kepada awak media pada Minggu (22/2/2026), mengutip Okezone.
Ia juga menambahkan, upaya ini merupakan siasat dari keterbatasan dana program Koperasi Merah Putih yang merupakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto
Joao menjelaskan bahwa ia telah mempertimbangkan penggunaan kendaraan produksi buatan tanah air, buktinya beberapa dari permintaan kendaraan telah dipenuhi oleh pabrikan lokal, namun masih ada kendala.
“Semua produk dalam negeri untuk truk roda enam sudah habis. Coba sekarang beli Kino pick up atau Mitsubishi Canter, sudah tidak tersedia. Harus menunggu paling cepat satu tahun,” tegasnya.
Sebagai realisasi dari kebijakan mengimpor mobil pikap dari India, Joao mengumumkan bahwa pengiriman kendaraan akan dilakukan secara bertahap. Terhitung sejak 20 Februari 2026, sebanyak 200 unit mobil pikap produksi Mahindra telah tiba di Indonesia.
"Sampai akhir bulan ini (target) sudah 1.000 unit. Tahun ini kita usahakan bisa sampai semua, yang Mahindra dan Tata juga," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jakarta pada Jumat (20/2/2026), mengutip Kompas.
Baca Juga: 10 Negara Paling Bergantung pada Impor Batu Bara Indonesia 2025
Sumber:
https://www.instagram.com/p/DU-OSJAANhv/?img_index=1
Penulis: Faiza Az Zahra
Editor: Editor