Ketersediaan dokter menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Namun, jumlah dokter yang tersedia tidak selalu tersebar secara merata di setiap wilayah. Perbedaan jumlah penduduk dan distribusi tenaga kesehatan membuat kepadatan dokter antardaerah masih menunjukkan kesenjangan.
Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2026 mencatat rasio dokter terhadap populasi secara nasional sebesar 0,81 dokter per 1.000 penduduk. Jumlah tersebut sudah melebihi target 2026 yang sebanyak 0,80 dokter per 1.000 penduduk. Indonesia sendiri memiliki total 233.791 tenaga medis dan kesehatan, sudah di atas target yang sebesar 229.759 orang.
Meski telah mencapai target, beberapa provinsi tercatat memiliki rasio dokter terhadap penduduk yang jauh lebih tinggi dibanding provinsi lain, mencerminkan jurang kesenjangan yang masih lebar.
Baca Juga: Warga Sleman Habiskan Hampir Rp1 Juta Untuk Makan Sebulan, Tertinggi di DIY
DKI Jakarta jadi provinsi paling padat dokter pada Agustus 2026. Ibu kota Indonesia tersebut memiliki total 20.477 dokter, sehingga rasio dokter terhadap jumlah penduduknya menjadi 191,92 dokter per 100.000 penduduk.
Jumlah tersebut hanya sedikit lebih besar dibanding Bali yang ada di peringkat kedua dengan rasio 190,08 dokter per 100.000 penduduk. Meski begitu, jumlah dokter di provinsi tersebut jauh lebih sedikit, tercatat sebanyak 8.531 dokter.
DI Yogyakarta duduk di bangku ketiga dengan rasio sebesar 142,58 per 100.000 penduduk. Jumlah dokter di provinsi tersebut mencapai 5.422 dokter per Agustus 2026.
Di luar Jawa, terdapat Sulawesi Utara yang memiliki 3.892 dokter, sehingga rasionya menjadi sebesar 142,02 dokter per 100.000 penduduk. Kepulauan Riau menyusul dengan rasio sebesar 135,17 per 100.000 penduduk, diperoleh dari 3.032 dokter di provinsi tersebut.
Daftar provinsi dengan rasio dokter per penduduk terbanyak ditutup oleh Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur, yang masing-masing rasionya sebesar 106,88 dan 99,25. Kalimantan Utara sendiri memiliki 811 dokter, sedangkan jumlah dokter di Kalimantan Timur jauh lebih banyak, mencapai 4.455 dokter.
Ketimpangan Akses Layanan Kesehatan
Ketimpangan akses layanan kesehatan masih dirasakan di beberapa provinsi. Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia menyebutkan bahwa sekitar 26,8% puskesmas di Indonesia belum memiliki dokter gigi. Padahal, lulusan dokter gigi tiap tahunnya tidaklah sedikit.
“Produktivitas dokter gigi per tahun sekitar 3.000-an dengan kurang lebih 48 FKG yang ada. Nah, yang menjadi masalah kenapa ada puskesmas yang tidak punya dokter gigi,” ujar Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), Suryono (10/8/2026).
Terbatasnya dokter gigi di daerah tertentu masih didorong akibat kurang memadainya ketersediaan sarana dan prasarana.
“Menjadi sangat penting adanya pemerataan dengan fasilitas yang memadai,” lanjutnya.
Sementara itu, sekitar 63,8% dokter spesialis jantung juga masih terpusat di Jawa. Menurut Kementerian Kesehatan, Indonesia memiliki 99 dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah (SpJP) pada 2020. Angkanya melonjak menjadi 414 dokter pada 2026. Meski tumbuh pesat, Indonesia masih kekurangan dokter jantung.
Pada 2026, menurut proyeksi Kemenkes, Indonesia setidaknya membutuhkan 6.801 dokter SpJP, sedangkan jumlah yang saat ini tersedia baru 1.639 dokter.
Di luar masalah jumlah, ketimpangan distribusi juga masih jadi perhatian, dengan kebanyakan dokter SpJP berada di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Pakar Manajemen Rumah Sakit UMY, Qurratul Aini, menyebut bahwa ketimpangan ini sudah terbentuk sejak proses pendidikan.
“Pusat produksinya sendiri sudah timpang sejak awal. Sekitar 63,8% peserta didik spesialis berasal dari Jawa dan Bali. Sementara itu, Indonesia bagian timur hanya menyumbang sekitar 1%,” ujarnya (22/7/2026).
Dalam hal ini, pemerintah perlu terus melakukan pemerataan lewat strategi yang lebih komprehensif.
“Pemerataan tidak dapat dicapai hanya dengan menambah jumlah lulusan. Hal yang jauh lebih penting adalah memastikan dokter memiliki alasan untuk tetap mengabdi di daerah,” ungkapnya.
Baca Juga: Wanita DIY Lebih Panjang Umur daripada Pria, Mengapa?
Sumber:
https://dreams.kemkes.go.id/user/sebaran/