Upaya penurunan stunting terus menjadi fokus nasional melalui berbagai program intervensi, termasuk Makan Belajar Gizi (MBG). Program ini berjalan beriringan dengan strategi nasional percepatan penurunan stunting. Meski demikian, tantangan masih besar di sejumlah wilayah yang mencatat prevalensi stunting cukup tinggi.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir, tetapi kondisi stunting baru terlihat setelah bayi berusia dua tahun.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, terdapat beberapa provinsi yang menempati posisi teratas dengan prevalensi stunting balita tertinggi. Gambaran ini penting sebagai pijakan untuk menentukan prioritas intervensi dan memetakan daerah yang membutuhkan perhatian lebih intensif.
Papua Pegunungan menduduki peringkat pertama dengan prevalensi stunting mencapai 40%. Di posisi kedua terdapat Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan 37%. Sulawesi Barat menyusul dengan persentase 35,4%, diikuti Papua Tengah dengan 32,5%.
Selanjutnya Papua Barat Daya mencatat angka 30,5%, disusul Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan prevalensi 29,8%. Terakhir, Aceh berada di posisi ketujuh dengan 28,6%.
Dari data tersebut menunjukkan bahwa tantangan penurunan stunting masih terkonsentrasi di wilayah timur Indonesia dan beberapa provinsi lain yang menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan maupun ketahanan pangan.
Faktor Penyebab Stunting
Berdasarkan BAPPENAS, stunting pada anak disebabkan oleh banyak faktor, antara lain:
1. Asupan Gizi Balita
Asupan gizi yang seimbang memegang peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan balita. Ketika anak mengalami kekurangan gizi, kondisi tersebut sebenarnya masih bisa diperbaiki melalui pemberian nutrisi yang tepat sehingga dapat mengejar ketertinggalan pertumbuhan. Namun, jika kebutuhan gizi tidak terpenuhi terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, berbagai masalah kesehatan dapat muncul dan berdampak jangka panjang pada tumbuh kembang anak.
2. Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi menjadi salah satu penyebab langsung terjadinya stunting pada anak. Balita yang mengalami kekurangan gizi cenderung memiliki daya tahan tubuh lebih lemah, sehingga lebih mudah terserang berbagai infeksi. Beberapa penyakit yang umum dialami balita antara lain cacingan, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), diare, serta beragam infeksi lainnya.
3. Kondisi Ibu
Faktor ibu juga berperan besar dalam risiko stunting, terutama jika mengalami kekurangan nutrisi sejak masa sebelum hamil, selama kehamilan, hingga menyusui. Kondisi seperti usia ibu terlalu muda atau terlalu tua, tubuh yang pendek, infeksi, masalah kesehatan jiwa, kehamilan berisiko (BBLR, IUGR, dan persalinan prematur), jarak kehamilan yang terlalu dekat, serta hipertensi turut meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak.
4. Faktor Genetik
Faktor genetik menjadi modal dasar yang menentukan kualitas serta kecepatan pertumbuhan seseorang. Melalui informasi gen dalam sel telur yang telah dibuahi, proses pertumbuhan sudah ditetapkan sejak awal, sehingga berpengaruh besar pada hasil akhir pertumbuhan.
5. Pemberian ASI Eksklusif
Praktik pemberian ASI yang kurang optimal dapat berdampak pada tumbuh kembang anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, kemudian dilanjutkan dengan makanan pendamping yang tepat sambil tetap memberikan ASI hingga usia 24 bulan. Pemberian ASI hingga dua tahun berkontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan nutrisi penting bagi bayi.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Dapur MBG Terbanyak Mei 2025
Sumber:
https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/survei-status-gizi-indonesia-ssgi-2024/
Penulis: Prayogi Hadi Santoso
Editor: Editor