7 Hambatan dalam Penerapan Sustainable Living 2026, Faktor Ekonomi Nomor 1

Konsep sustainability semakin marak disuarakan, tetapi faktor ekonomi masih menjadi hambatan terbesar publik Indonesia dalam menerapkannya.

7 Hambatan dalam Penerapan Sustainable Living 2026, Faktor Ekonomi Nomor 1 Ilustrasi Sustainable Living | Akil Mazumder/Pexels
Ukuran Fon:

Dewasa ini, konsep sustainable living atau kehidupan berkelanjutan tengah gencar disuarakan. Sustainable living adalah penerapan gaya hidup untuk mengurangi dampak negatif terhadap alam. Konsep ini lahir dilatarbelakangi oleh kondisi bumi yang mengalami perubahan drastis akibat aktivitas manusia. Kerusakan lingkungan, berbagai bentuk pencemaran, dan perubahan iklim adalah dampak nyata dari perubahan tersebut.

Gaya hidup keberlanjutan menjadi langkah penting untuk menjaga masa depan bumi. Menggunakan sumber daya dengan bijak merupakan salah satu contoh penerapannya, terutama terhadap sumber daya yang bersifat tidak dapat diperbaharui. Meskipun ramai disuarakan, masih ada tantangan dalam realisasi konsep keberlanjutan ini.

Kebutuhan Ekonomi yang mendesak jadi faktor utama yang menghambat sustainable living
Kebutuhan Ekonomi yang mendesak jadi faktor utama yang menghambat sustainable living | GoodStats

Berdasarkan survei Jakpat pada 2026, ada beberapa alasan yang menjadi hambatan masyarakat Indonesia dalam menerapkan sustainable living. Hambatan paling utama berkaitan dengan prioritas ekonomi yang mendesak dengan persentase 38%. Gen X (kelahiran tahun 1965-1980) memiliki suara paling tinggi dibandingkan generasi lain untuk alasan tersebut sebesar 45%.

Penghalang selanjutnya yang sama-sama memiliki angka 30% di urutan kedua berkaitan dengan fasilitas publik yaitu kurangnya informasi atau panduan serta infrastruktur umum yang tidak memadai. Responden Gen X kembali mendominasi dengan jumlah suara masing-masing 33% dan 37%.

Mahalnya produk ramah lingkungan berada di urutan keempat dengan persentase 27%. Kali ini, Milenial atau Gen Y (kelahiran tahun 1981-1996) mendominasi dalam alasan tersebut.

Di posisi kelima, hambatan dalam penerapan sustainable living yang cukup banyak dibicarakan adalah terkait aksesibilitas lokal yang terbatas dengan angka 26%. Suara Gen X mendominasi untuk alasan ini yang berkaitan dengan akses seperti fasilitas daur ulang.

Adapun responden Gen Z (kelahiran tahun 1997-2012) unggul dalam dua alasan terbawah yaitu kesulitan dalam menemukan produk yang sesuai (23%) dan preferensi terhadap kebiasaan yang sudah ada (21%).

Dari temuan survei ini, dapat disimpulkan bahwa prioritas ekonomi menjadi penghalang utama penerapan gaya hidup berkelanjutan di semua generasi, terutama pada Gen X. Uniknya, Gen Z juga memiliki kesulitan dalam menemukan produk yang sesuai untuk mendukung konsep kehidupan berkelanjutan. Sementara itu, preferensi kebiasaan menjadi penghalang paling kecil dan memengaruhi sekitar 1 dari 4 responden Gen Z dan Gen X yang terlibat dalam survei.

Baca Juga: Plastik Masih Jadi Andalan, Ini 10 Penggunaan Utamanya pada 2026

Penerapan Sustainable Living

Konsep kehidupan berkelanjutan dapat diterapkan dalam skala kecil yaitu rumah tangga, misal dengan mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak digunakan, berjalan kaki atau bersepeda jika jarak tempuh pendek, serta menghemat penggunaan air bersih. Membeli produk lokal juga dapat dilakukan untuk mengurangi jejak karbon.

Upaya lain meliputi membawa wadah sendiri untuk makanan yang dibawa pulang, menggunakan pembersih rumah tangga yang ramah lingkungan, menggunakan botol minum dan tas belanja yang bersifat reusable, mengurangi produk sachet sekali pakai, tidak membakar sampah, berkebun di rumah, hingga mendaur ulang sampah anorganik.

Metodologi Survei

Jakpat merilis survei bertajuk Sustainable Living & the Plastic Pivot: Responding to Market Changes pada Mei 2026. Survei ini melibatkan 1.373 responden dengan margin of error di bawah 5%. Periode pengumpulan data pada 16—17 April 2026 melalui aplikasi mobile Jakpat.

Baca Juga: 71% Publik RI Pakai Tas Reusable Imbas Kenaikan Harga Plastik

Sumber:

https://insight.jakpat.net/sustainable-living-the-plastic-pivot-responding-to-market-changes/

Penulis: Alifia Ayu Fitriana
Editor: Editor

Konten Terkait

Perpanjangan Rute LRT Jakarta 1B Diperluas ke Dukuh Atas, Ini Detail Rutenya

Pemprov DKI resmi memperpanjang LRT Jakarta Fase 1B Velodrome - Dukuh Atas. Simak detail rutenya di sini.

Per Agustus 2026, TPST Bantar Gebang Berhenti Menerima Sampah Campur. Apa Alasannya?

TPST Bantar Gebang sudah overload dan tidak menerima sampah campur mulai Agustus 2026. Apa yang harus dilakukan oleh warga?

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook