Plastik merupakan salah satu bahan yang sulit untuk dipisahkan dalam aktivitas sehari-hari. Budaya konsumsi plastik telah mengakar selama bertahun-tahun. Pemakaiannya yang praktis, ringan, dan harga yang terjangkau membuat penggunanya sukar berganti dengan bahan lain.
Terjadinya perseteruan di Timur Tengah akhir-akhir ini turut memengaruhi eksistensi plastik. Harganya melonjak drastis karena efek domino dari konflik tersebut. Selain itu, meningkatnya permintaan plastik menjelang hari besar seperti Idulfitri juga membuat harganya semakin tinggi.
Fenomena kenaikan harga plastik dapat berimbas pada perilaku masyarakat. Berdasarkan hasil survei terbaru Jakpat, naiknya harga plastik membuat mayoritas responden melakukan beberapa upaya untuk mengurangi penggunaan bahan ini.
Masyarakat menunjukkan beragam respons setelah kenaikan harga plastik. Mayoritas dari responden (71%) memilih untuk membawa tas belanja tidak sekali pakai atau reusable dengan perempuan memiliki persentase lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Pilihan ini menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, terutama di kalangan perempuan. Selain baik untuk lingkungan, penggunaannya juga lebih ekonomis dalam jangka panjang.
Di urutan selanjutnya, publik memutuskan untuk membawa wadah sendiri (57%) untuk berbagai keperluan. Upaya-upaya lainnya secara berurutan yaitu membawa kotak bekal, botol, atau peralatan makan (48%), memilih alternatif dari plastik (40%), memakai ulang kantong plastik sebelumnya (37%), dan menggunakan satu kantong plastik untuk semua barangnya.
Berbagai upaya tersebut menggambarkan pergeseran gaya hidup melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang berdampak terhadap lingkungan. Meskipun terkesan sederhana, jika perubahan perilaku untuk meninggalkan plastik ini konsisten dilakukan dapat menekan jumlah sampah plastik yang semakin tinggi setiap tahunnya.
Sementara itu, 8% responden tidak memiliki niat untuk mengurangi penggunaan plastik meskipun terjadi kenaikan harga. Mayoritas dilakukan oleh laki-laki (11%). Kelompok ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga plastik tidak menjadi faktor utama untuk mendorong pergeseran perilaku.
Bagi sebagian masyarakat, kebiasaan dalam menggunakan plastik dan berbagai kelebihannya masih cukup dominan.
Baca Juga: Harga Plastik Naik, UMKM Menjerit: Begini Respon Pemerintah
Pilihan untuk Mengurangi Plastik
Naiknya harga plastik selain memengaruhi perilaku masyarakat juga mendorong penggunaan alternatif lain. Sebagian besar responden memilih menggunakan tas ramah lingkungan yang bersifat lebih dari sekali pakai (72%) alih-alih plastik.
Di bawahnya, karton (48%) menjadi alternatif pilihan pengganti plastik. Kemudian, beberapa responden juga memilih menggunakan paper bag (39%), dan tas jaring (38%). Pilihan bahan-bahan tersebut menunjukkan bahwa keterbukaan masyarakat terhadap berbagai alternatif sebagai pengganti plastik.
Sebagian kecil responden menggunakan wadah plastik keras atau thinwall (37%). Meskipun masih berasal dari plastik, penggunaan wadah jenis ini dapat digunakan berkali-kali dan dinilai lebih baik dibandingkan plastik sekali pakai.
Metodologi Survei
Jakpat merilis survei bertajuk Sustainable Living & the Plastic Pivot: Responding to Market Changes pada Mei 2026. Survei ini melibatkan 1.373 responden dengan margin of error di bawah 5%. Periode pengumpulan data pada 16—17 April 2026 melalui aplikasi mobile Jakpat.
Baca Juga: Negara Asia Jadi Penyumbang Sampah Plastik ke Laut Terbesar
Sumber:
https://insight.jakpat.net/sustainable-living-the-plastic-pivot-responding-to-market-changes/
Penulis: Alifia Ayu Fitriana
Editor: Editor