Ekonomi dan Bisnis

Siapa yang Paling Diuntungkan dari Piala Dunia 2026?

Siapa sebenarnya yang paling untung dari Piala Dunia 2026? Simak analisis mendalam mengenai aliran pendapatan FIFA dan beban finansial yang dipikul tuan rumah!

Siapa yang Paling Diuntungkan dari Piala Dunia 2026?

Potret Piala Dunia | Fauzan Saari/Unsplash

Bagi banyak kota di dunia, memenangkan pencalonan sebagai tuan rumah kompetisi olahraga terbesar seperti Piala Dunia dipandang sebagai pencapaian yang luar biasa. Studi dampak ekonomi yang beredar sering kali menjanjikan pengembalian finansial yang masif, menggambarkan kota penyelenggara akan dibanjiri keuntungan berlipat ganda dari masuknya gelombang turis global.

Namun, di balik panggung megah pesta bola tersebut, realitas ekonomi yang terjadi di lapangan justru menunjukkan pola yang sangat timpang. Alih-alih mendatangkan kemakmuran jangka panjang bagi kas daerah, keuntungan finansial terbesar dari mega-event ini diproyeksikan mengalir hampir sepenuhnya ke kantong penyelenggara turnamen, sementara masyarakat lokal dan pemerintah daerah harus menanggung risiko finansial yang tidak sedikit. Hal ini diungkapkan oleh sebuah studi yang dilakukan North Carolina State University.

FIFA yang Paling Diuntungkan dalam Setiap Penyelenggaraan Piala Dunia

Hak siar penyiaran menjadi sumber keuntungan FIFA selama pergelaran Piala Dunia
Hak siar penyiaran menjadi sumber keuntungan FIFA selama pergelaran Piala Dunia | GoodStats

Sumber: Pengeluaran FIFA Selama Piala Dunia 2026 Tembus US$3,76 Miliar

Menurut riset dari Michael Edwards, seorang Profesor Manajemen Taman, Rekreasi, dan Pariwisata di North Carolina State University, FIFA merupakan pemenang ekonomi yang paling diuntungkan dalam setiap gelaran Piala Dunia.

Hal ini terjadi karena FIFA memegang kendali penuh atas seluruh aliran pendapatan yang paling berharga, paling menguntungkan, dan paling mudah ditingkatkan skalanya. Rata-rata, FIFA mengantongi pendapatan sekitar US$4,30 miliar dari setiap penyelenggaraan Piala Dunia. Sebagai gambaran, pada siklus ganda Piala Dunia antara tahun 2015 hingga 2022 yang mencakup turnamen di Rusia dan Qatar, komitmen komersial tersebut sukses menghasilkan pendapatan fantastis mencapai US$14 miliar untuk FIFA.

Tren keuntungan masif ini diperkirakan akan terus meroket pada siklus Piala Dunia 2026. Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa siklus Piala Dunia kali ini ditargetkan menghasilkan pendapatan total lebih dari US$13 miliar bagi FIFA. Pendapatan ini ditopang oleh tiga pilar utama, yakni penjualan hak siar global yang diperkirakan menyumbang sebesar US$3,90 miliar, penjualan tiket dan paket hospitalitas premium sebesar US$3,00 miliar, serta kesepakatan sponsor korporat yang diproyeksikan menembus angka US$2,80 miliar.

Angka-angka spektakuler ini menegaskan bahwa seluruh roda bisnis Piala Dunia bergerak untuk memaksimalkan keuntungan FIFA dan jaringan komersialnya, bukan untuk menyubsidi kota-kota yang menjadi tempat pertandingan berlangsung.

Bagaimana dengan Kota Penyelenggara Pertandingan Piala Dunia?

Perbedaan distribusi finansial FIFA dengan rian rumah penyelenggara PIala Dunia
Perbedaan distribusi finansial FIFA dengan rian rumah penyelenggara PIala Dunia | GoodStats

Sebaliknya, kota tuan rumah dan pemerintah daerah setempat justru kerap kali terjebak dalam ilusi angka-angka manis. Edwards menjelaskan bahwa studi dampak ekonomi tradisional biasanya hanya menghitung total pengeluaran pengunjung lalu mengalikannya dengan angka pengganda untuk memperkirakan keuntungan luas, tanpa benar-benar memperhitungkan biaya publik yang harus dikeluarkan oleh pemerintah lokal menggunakan uang pembayar pajak.

Biaya operasional yang sangat besar mulai dari penyediaan keamanan ekstra, penyesuaian sistem transportasi publik, persiapan stadion agar sesuai standar ketat FIFA, hingga penyediaan layanan darurat sepenuhnya dibebankan kepada anggaran publik daerah. Ironisnya, kota penyelenggara umumnya menerima sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali dari pendapatan langsung tiket pertandingan pada hari H, sehingga pemerintah dan pembayar pajaklah yang menanggung hampir seluruh risiko finansial dari acara ini.

Dampak positif terhadap ekonomi lokal pun sering kali bersifat sangat terpusat dan hanya sementara. Memang benar bahwa sektor-sektor tertentu seperti hotel, restoran, dan penyedia transportasi yang berada di dekat pusat aktivitas turnamen akan menikmati lonjakan keuntungan yang signifikan karena kenaikan tarif premium selama acara berlangsung.

Namun, begitu peluit akhir ditiup dan para turis pulang, tingkat permintaan biasanya langsung merosot kembali ke tingkat normal, membatasi dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat luas. Bahkan di dalam sektor hospitalitas itu sendiri, keuntungan yang diraup terdistribusi secara tidak merata. Pemilik hotel dapat melipatgandakan keuntungan mereka melalui tarif kamar yang melonjak tinggi, sementara upah para pekerja hotel di lapangan sering kali tetap stagnan tanpa ada kenaikan yang berarti.

Baca Juga: Prediksi Juara Piala Dunia 2026

Sumber:

https://cnr.ncsu.edu/news/2026/06/fifa-world-cup-economic-impact/

Penulis: Anggia Leksa Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?