Pendidikan menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kualitas pembangunan sumber daya manusia di suatu wilayah. Salah satu ukurannya adalah rata-rata lama sekolah (RLS), yaitu rata-rata jumlah tahun yang telah ditempuh penduduk dalam menjalani pendidikan formal.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), RLS mengukur rerata waktu dalam satuan tahun yang ditempuh oleh penduduk usia 15 tahun ke atas dalam menyelesaikan semua jenjang pendidikan formal.
Pada 2025, rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia berada di angka 9,07 tahun, setara dengan SMP/sederajat. Angkanya hanya sedikit meningkat dari tahun 2024 yang sebesar 8,85 tahun. Hal ini berarti, rata-rata penduduk Indonesia hanya sekolah hingga SMP/sederajat, sangat jauh dari program wajib belajar yang diterapkan di Indonesia yang sebesar 13 tahun (hingga SMA/sederajat).
Jika ditinjau menurut wilayahnya, Kota Banda Aceh, Aceh, menjadi wilayah dengan rata-rata lama sekolah paling lama di Indonesia. Rata-rata penduduk usia 25 tahun di kota tersebut memiliki lama sekolah mencapai 13,37 tahun pada 2025.
Banda Aceh juga jadi satu-satunya wilayah yang punya RLS di atas 13 tahun. Hal ini berarti, rata-rata penduduk di Kota Banda Aceh telah menyelesaikan pendidikan setidaknya hingga SMA/sederajat (12 tahun).
Tingginya RLS Banda Aceh dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sebagai ibu kota Provinsi Aceh, Banda Aceh menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut. Konsentrasi berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Syiah Kuala dan sejumlah institusi pendidikan lainnya, membuat akses masyarakat terhadap pendidikan lanjutan relatif lebih terbuka.
Karakteristiknya sebagai wilayah perkotaan juga berperan. Ketersediaan fasilitas pendidikan yang lebih lengkap, kemudahan akses menuju sekolah dan perguruan tinggi, serta tingginya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan turut mendorong penduduk untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Baca Juga: Banda Aceh Jadi Daerah dengan Durasi Sekolah Perempuan Terlama 2025
Di posisi kedua, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, mencatatkan rata-rata lama sekolah sebesar 12,56 tahun, tertinggi kedua secara nasional. Kota Ambon, Maluku, berada di bangku ketiga dengan 12,37 tahun, disusul Kota Yogyakarta (DI Yogyakarta) dengan 12,13 tahun dan Kota Madiun (Jawa Timur) sebesar 12,12 tahun.
Di bawahnya, Kota Bekasi, Jawa Barat, mencatatkan rata-rata lama sekolah sebesar 12,11 tahun, terpaut tipis dari Kota Madiun. Kota Tangerang Selatan, Banten, mengisi posisi ketujuh dengan 12,10 tahun, diikuti Kota Ternate (Maluku Utara) dengan 12,09 tahun.
Daftar 10 besar wilayah dengan rata-rata lama sekolah tertinggi ditutup oleh Kota Pekanbaru, Riau, dan Kota Jayapura, Papua, yang rata-rata lama sekolahnya sama-sama sebesar 12,08 tahun.
Seluruh 10 wilayah dengan rata-rata lama sekolah (RLS) tertinggi pada 2025 berasal dari kategori kota. Hal ini menunjukkan bahwa faktor urbanisasi, konsentrasi fasilitas pendidikan, serta karakteristik sosial ekonomi perkotaan memiliki pengaruh besar terhadap capaian pendidikan penduduk.
Masih Ada Jurang Ketimpangan
Sebaliknya, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, memiliki rata-rata lama sekolah paling rendah, yakni hanya 2,19 tahun, yang setara dengan jenjang kelas dua SD/sederajat.
Jika dibandingkan dengan Kota Banda Aceh, selisihnya mencapai 11,18 tahun, yang berarti rata-rata lama sekolah penduduk Banda Aceh lebih dari enam kali lipat dibandingkan Nduga.
Rendahnya RLS Nduga berkaitan erat dengan kondisi geografis wilayah yang memiliki tantangan besar dalam penyediaan layanan dasar. Bentang alam pegunungan, keterbatasan akses transportasi, serta jarak antarpermukiman yang jauh dapat menjadi hambatan dalam pembangunan sekolah, distribusi tenaga pendidik, dan keberlanjutan pendidikan anak-anak.
Data ini menegaskan bahwa pembangunan pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan pemerataan. Wilayah perkotaan dengan fasilitas pendidikan yang lebih lengkap cenderung memiliki capaian pendidikan lebih tinggi, sementara daerah terpencil masih menghadapi persoalan akses dan ketersediaan layanan pendidikan.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, pemerintah terus mendorong pemerataan akses pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk Papua Pegunungan.
Selain itu, pemerintah juga menjalankan berbagai program afirmasi pendidikan bagi masyarakat di daerah terpencil, seperti dukungan biaya pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran, serta pengembangan layanan pendidikan yang menyesuaikan dengan kondisi geografis setempat.
Baca Juga: 10 Daerah dengan Rata-Rata Lama Sekolah Tertinggi di Jawa Timur 2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDE1IzI=/-metode-baru--rata-rata-lama-sekolah.html