Perputaran roda ekonomi di suatu wilayah, khususnya di Jawa Barat, tak luput dari dukungan berbagai sektor atau pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat. Selain aktivitas penjualan dan pembelian barang secara konvensional, kontribusi nyata dari masyarakat juga mengalir melalui pajak penghasilan yang disetorkan kepada negara.
Sinergi finansial inilah yang menjadi bahan bakar utama pembangunan daerah. Di tengah dinamika tersebut, rilis data terbaru dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Jawa Barat per 19 Mei 2026, memotret peta demografi komitmen profesi masyarakat di Tanah Pasundan pada tahun 2025.
Wiraswasta Jadi Kelompok Pekerjaan Terbesar di Jawa Barat
Baca Juga: Jenis Pekerjaan Utama Penduduk Bekerja Indonesia 2025
Kelompok wiraswasta kokoh berdiri di peringkat pertama sebagai kelompok profesi terbesar dengan jumlah yang sangat masif, yakni mencapai 14,44 juta orang. Angka ini merepresentasikan sekitar 36,06% dari total 40,07 juta jiwa penduduk Jawa Barat, yang sekaligus menegaskan kemandirian ekonomi lewat UMKM menjadi pilar utama hajat hidup warga Jabar.
Di posisi kedua, terdapat kelompok pelajar/mahasiswa yang mendominasi dengan jumlah mencapai 9,76 juta penduduk, disusul oleh sektor pertanian/peternakan di peringkat ketiga dengan total 1,52 juta penduduk.
Memasuki peringkat keempat, sektor aparatur atau pejabat negara mencatatkan angka sebanyak 716,9 ribu penduduk, yang kemudian diikuti oleh profesi tenaga pengajar di posisi kelima dengan jumlah 335,3 ribu penduduk.
Selanjutnya, kelompok pensiunan berada di peringkat keenam dengan total 281,2 ribu penduduk. Untuk sektor pelayanan medis atau tenaga kesehatan, posisinya berada di peringkat ketujuh dengan jumlah 107,7 ribu penduduk, diikuti oleh profesi nelayan di peringkat kedelapan yang mencakup 72,3 ribu penduduk.
Sementara itu, bidang profesi yang bergerak di keagamaan dan kepercayaan menempati peringkat kesembilan dengan jumlah 16,8 ribu penduduk. Adapun kategori pekerjaan lainnya yang tidak termasuk dalam kesembilan poin di atas mengantongi angka yang sangat besar, yaitu mencapai 12,8 juta penduduk.
Kritik Lapangan Kerja di Jabar dan Respons Santai Dedi Mulyadi
Meski sektor informal seperti wiraswasta mendominasi secara kuantitas, ketersediaan lapangan kerja formal di Jawa Barat masih menghadapi tantangan serius. Berdasarkan survei Litbang Kompas pada tahun 2025, figur publik Dedi Mulyadi dinilai kurang baik dalam menangani permasalahan lapangan pekerjaan di Jawa Barat. Survei tersebut menyebutkan sebanyak 57,6% warga Jawa Barat menilai buruk, sementara 7,3% menilai sangat buruk soal ketersediaan lapangan kerja.
Menanggapi penilaian minor dari publik tersebut, Dedi pun menanggapi santai mengenai kritikan berdasarkan survei tersebut. Bahkan, dia mengaku senang apabila ada kritikan mengenai ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja di Jawa Barat sebagai bahan evaluasi konstruktif.
Lebih lanjut, Dedi mengatakan, kekurangan minat dari anak muda zaman sekarang itu menjadi salah satu masalah yang perlu disoroti oleh pihak pemerintah. Saat ini menurutnya, kebanyakan pelamar memilih untuk bisa diterima bekerja di pabrik dan enggan melirik sektor produksi lapangan seperti pertanian atau konstruksi.
"Yang menjadi problem adalah anak-anak yang ngelamar kerjanya senangnya ke pabrik. Enggak mau kerja di sektor itu. Misalnya, ngurusin sawah enggak mau, ikut kerja kuli bangunan enggak mau, kan ada problem itu juga. Mereka memilih pekerjaannya pada sektor formal," ucap Dedi di Sabuga, Kota Bandung, Rabu (20/8/2025) dikutip Liputan6.
Baca Juga: Ini Dia Pekerjaan yang Diprediksi Bakal Digantikan AI 2025
Sumber:
https://disdukcapil.jabarprov.go.id/
Penulis: Anggia Leksa
Editor: Editor