Berdasarkan catatan World Health Organization (WHO), virus Nipah merupakan penyakit zoonosis berbahaya dengan tingkat kematian yang tinggi, meski hingga kini penyebarannya masih terbatas secara geografis.
Sejak pertama kali terdeteksi pada tahun 1998 di Malaysia, wabah virus Nipah telah menyebabkan kejadian luar biasa di lima negara, termasuk Malaysia, Singapura, Bangladesh, India, dan Filipina.
Data WHO mencatat Malaysia mengalami wabah besar pada periode 1998–1999 dengan sekitar 265 kasus dan 105 kematian, disusul Singapura pada 1999 dengan 11 kasus dan satu kematian yang berkaitan dengan impor babi.
Sejak tahun 2001, Bangladesh menjadi negara dengan kasus virus Nipah terbanyak, dengan estimasi 261 kasus dan 199 kematian, serta melaporkan kejadian hampir setiap tahun.
India juga melaporkan wabah sporadis sejak 2001 dengan sekitar 100 kasus dan 70 kematian, terutama di wilayah Bengal Barat dan Kerala.
Filipina mencatat wabah pada tahun 2014 dengan 17 kasus dan sembilan kematian, termasuk bukti transmisi antarmanusia. WHO menegaskan bahwa tingkat kematian virus Nipah secara global berkisar antara 40 hingga 75%, bergantung pada deteksi dini dan kapasitas pelayanan kesehatan.
Hingga saat ini, seluruh wabah virus Nipah pada manusia masih terbatas di kawasan Asia tanpa adanya penyebaran lintas benua. Meskipun risiko penularan global dinilai rendah, WHO tetap menetapkan virus Nipah sebagai penyakit prioritas karena potensi wabah cepat dan fertilitas yang tinggi.
Karakteristik Penularan dan Tingkat Mortalitas Virus Nipah
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui kelelawar buah sebagai reservoir alami, serta dapat menyebar lewat hewan perantara seperti babi.
Penularan virus Nipah pada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, serta kontak erat antarmanusia melalui cairan tubuh.
WHO mencatat bahwa penularan antarmanusia lebih sering terjadi pada wabah di Bangladesh dan India, khususnya pada strain NiV-B.
Dari sisi mortalitas, virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, dengan case fatality rate global berkisar antara 40 hingga 75%.
Data epidemiologi menunjukkan bahwa Bangladesh mencatat angka kematian tertinggi, yaitu 199 kematian dari sekitar 261 kasus sejak tahun 2001.
Tingginya mortalitas virus Nipah dipengaruhi oleh keterlambatan diagnosis, keterbatasan terapi spesifik, serta komplikasi berat seperti ensefalitis dan gangguan pernapasan akut.
Situasi Virus Nipah di Asia dan Kesiapsiagaan Indonesia
Sebaran virus Nipah di Asia hingga kini masih terkonsentrasi di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, terutama di Bangladesh dan India yang melaporkan kasus hampir setiap tahun.
Data WHO menunjukkan bahwa Bangladesh menjadi negara dengan jumlah kasus terbanyak secara global, dengan tingkat kematian yang tetap tinggi meskipun jumlah kasus relatif terbatas.
India juga mengalami wabah sporadis, termasuk kasus terbaru di Bengal Barat, namun berhasil melakukan pengendalian melalui pelacakan kontak dan isolasi ketat. Hingga saat ini, tidak ada laporan penyebaran lintas benua, sehingga risiko global virus Nipah dinilai rendah. Meski demikian, WHO tetap menetapkan virus Nipah sebagai penyakit prioritas karena potensi wabah cepat dan tingginya angka fatalitas.
Risiko virus Nipah juga menghantui Indonesia, mengingat keberadaan reservoir alami berupa kelelawar buah tersebar luas di berbagai wilayah.
Pemerintah Indonesia telah memperkuat sistem surveilans, kesiapsiagaan fasilitas kesehatan, serta edukasi pencegahan kepada masyarakat.
Dengan deteksi dini, kesiapan respon, dan kerja sama lintas sektor, Indonesia diharapkan mampu meminimalkan risiko masuk dan penyebaran virus Nipah di masa depan.
Baca Juga: Temuan Masalah Kesehatan Lansia di CKG 2025
Sumber:
https://www.who.int/health-topics/nipah-virus-infection#tab=tab_1
Penulis: Angel Gavrila
Editor: Editor