Indikator pemerataan pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari distribusi sekolah berdasarkan setiap jenjangnya. Hal ini juga menjadi cerminan sejauh mana aksesibilitas infrastruktur pembelajaran telah menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Baca Juga: Jumlah Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan di Indonesia
Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sekolah di tingkat pendidikan dasar mendominasi sekolah di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk tahun ajaran 2025/2026. Sekolah Dasar (SD) menempati posisi tertinggi dengan total mencapai 149.028 sekolah, disusul oleh Taman Kanak-kanak (TK) yang berjumlah 98.085 unit.
Sebaliknya, terdapat penurunan jumlah institusi yang signifikan seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan ke tingkat menengah. Jumlah SMP tercatat sebanyak 43.593 sekolah, sementara pada tingkat menengah atas, jumlahnya jauh lebih sedikit dengan SMA sebanyak 14.810 sekolah dan SMK sebanyak 14.185 sekolah.
Jumlah sekolah ini merupakan hasil dari akumulasi antara sekolah negeri dan swasta. Di setiap jenjangnya, sekolah swasta selalu memiliki jumlah yang jauh lebih banyak dibanding sekolah negeri. Adapun jika dilihat berdasarkan tahun ke tahun, jumlah sekolah setiap jenjangnya tidak selalu cenderung meningkat. Beberapa jenjang sekolah mengalami jumlah penurunan angka dari tahun sebelumnya.
Kelengkapan Fasilitas di Sekolah Jadi PR
Selain sebaran sekolah yang merata di setiap daerah, kelengkapan fasilitas yang mendukung proses pembelajarannya pun perlu menjadi perhatian. Hingga sekarang, masih ditemukan sekolah dengan fasilitas pembelajaran yang tidak memadai. Banyak sekolah yang atap ruang kelasnya atap bocor, tidak memiliki perpustakaan, akses ke teknologi terbatas, hingga toilet tidak layak.
Oleh karena itu pada tahun 2025, pemerintah melalui Kemendikdasmen telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp16,9 triliun kepada 16.167 satuan pendidikan penerima manfaat untuk pembangunan sarana dan prasarana pendidikan. Program tersebut mencakup pembangunan Unit Sekolah Baru (USB), tambahan ruang kelas, perpustakaan, toilet, laboratorium, serta berbagai fasilitas pendidikan lainnya.
“Pembangunan sarana dan prasarana fisik itu, kalau kita ibaratkan tubuh manusia adalah raganya. Pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh faktor-faktor eksternal, termasuk sarana dan prasarana yang memadai,” jelas Abdul Mu'ti selaku Mendikdasmen, pada Jumat (6/3/2026), melansir laman resmi Kemendikdasmen.
Di samping itu, pemerintah juga memperkuat pemanfaatan teknologi dalam mendukung pembelajaran melalui program Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID). Pada tahun 2025, sebanyak 288 ribu satuan pendidikan di Indonesia telah menerima dan mengoperasikan perangkat ini.
Program ini dirancang secara komprehensif, tidak hanya memberikan bantuan fisik berupa laptop, tetapi juga mencakup peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan serta penyediaan materi digital. Dengan adanya program ini ,diharapkan suasana belajar mengajar di kelas menjadi lebih interaktif.
Baca Juga: SMA Swasta Dominasi 51% SMA Indonesia pada 2024/2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table?subject=521&sortBy=date%2Ctitle&sortOrder=desc%2Casc
Penulis: Silmi Hakiki
Editor: Editor