Utang merupakan salah satu instrumen penting dalam pengelolaan ekonomi sebuah negara. Melalui utang, pemerintah dapat membiayai pembangunan, menjaga stabilitas fiskal, dan mengatasi kebutuhan mendesak di kala penerimaan negara belum mencukupi. Selama dikelola secara hati-hati dan produktif, utang dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk di Indonesia.
Laporan Bank Indonesia menyebutkan bahwa utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$424,41 miliar per September 2025, turun dibanding bulan sebelumnya yang sebesar US$431,77 miliar. Penurunan utang luar negeri ini salah satunya diakibatkan turunnya aliran masuk modal asing ke surat berharga negara (SBN).
Perkembangan ULN Indonesia
Sepanjang 2025, jumlah utang Indonesia cenderung fluktuatif. Pada Januari, ULN Indonesia mencapai US$426,33 miliar, yang kemudian turun tipis menjadi US$425,99 miliar pada bulan berikutnya. Lonjakan tertinggi terjadi pada Mei, dengan posisi ULN Indonesia mencapai US$434,3 miliar. Setelahnya, ULN terus turun, hingga mencapai titik terendah sepanjang 2025, yakni US$424,41 miliar pada September.
Dari total utang luar negeri tersebut, US$210,13 miliar merupakan utang pemerintah dan US$191,14 miliar merupakan utang swasta. Sisanya sebanyak US$154,21 miliar berasal dari utang bukan lembaga keuangan, US$37 miliar dari lembaga keuangan, dan US$22,96 miliar dari bank sentral.
Kreditur Terbesar September 2025
Jika ditinjau dari asal negaranya, Singapura menjadi pemberi utang terbanyak, mencapai US$55,5 miliar per September 2025, turun tipis dari Agustus 2025 yang sebanyak US$56,604 miliar. Proporsinya mencapai 13,07% dari total utang luar negeri Indonesia. Sejak 2010, Singapura konsisten menjadi kreditur terbesar Indonesia.
Di bawah Singapura ada Amerika Serikat (AS) dengan US$26,67 miliar, disusul China dengan US$23,3 miliar. Menariknya, utang luar negeri dari AS naik 1,21% dari bulan sebelumnya, sedangkan utang dari China malah turun 6,25%.
Masih dari Asia Timur, Jepang mengisi bangku keempat dengan memberi utang sebesar US$20,13 miliar. Selain itu, Indonesia juga mengambil utang dari Hong Kong sebesar US$18,84 miliar dan Korea Selatan sebanyak 8,89 miliar.
Di luar Asia, Prancis menyusul dengan US$8,12 miliar, diikuti Jerman (US$5,15 miliar), Inggris (US$4,33 miliar), dan Belanda (US$4,01 miliar).
Ditinjau dari sektornya, ULN Indonesia periode ini banyak digunakan dalam sektor jasa keuangan dan asuransi, dengan nominal mencapai US$75,85 miliar, diikuti industri pengolahan dengan US$50,84 miliar serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial mencapai US$48,88 miliar.
Baca Juga: Berapa Total Utang Indonesia 2025 Berdasarkan Data BI?
Sumber:
https://www.bi.go.id/en/statistik/ekonomi-keuangan/sulni/Default.aspx
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor