Ranjau laut Iran yang dilaporkan dipasang di Selat Hormuz memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan minyak dunia.
Jalur pelayaran strategis ini selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu titik paling vital dalam perdagangan energi global.
Ketika ketegangan geopolitik meningkat, ancaman gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk kembali menghantui pasar global dan memicu lonjakan harga energi.
Selat Hormuz sendiri terletak di antara Iran di bagian utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan.
Meski wilayahnya relatif sempit, jalur ini memiliki peran luar biasa penting karena menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20 persen minyak dunia yang diperdagangkan melalui jalur laut melewati selat ini setiap hari.
Data dari lembaga energi internasional menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, sekitar 14 hingga 16 juta barel minyak mentah dan kondensat per hari melintas melalui Selat Hormuz.
Selain minyak, jalur ini juga menjadi rute penting bagi perdagangan gas alam cair (LNG) global. Karena kapasitas pipa darat alternatif jauh lebih kecil, setiap gangguan di selat ini berpotensi langsung memengaruhi stabilitas energi dunia.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup, Apa Dampaknya pada Ekonomi Dunia?
Strategi Iran Menebar Ranjau Laut
Ketegangan meningkat setelah Iran dilaporkan mulai menempatkan ranjau laut di jalur navigasi utama Selat Hormuz. Langkah ini disebut sebagai respons terhadap meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Strategi tersebut diduga dijalankan oleh IRGC Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps) dengan memanfaatkan kapal-kapal kecil berkecepatan tinggi yang sulit terdeteksi radar.
Kapal ini dilaporkan mampu membawa dua hingga tiga ranjau sekaligus dan menyebarkannya di jalur yang biasa dilalui tanker minyak.
Jika benar digunakan secara luas, ranjau-ranjau tersebut berpotensi merusak kapal tanker raksasa yang melintas di jalur sempit itu.
Iran sendiri diperkirakan memiliki persediaan antara 2.000 hingga 6.000 ranjau laut, termasuk beberapa varian yang berasal dari teknologi Rusia dan China.
Situasi ini membuat banyak kapal tanker internasional memilih menunggu di perairan dekat Dubai dan Oman sambil menanti kepastian keamanan jalur pelayaran.
Respons AS terhadap Ranjau Laut di Selat Hormuz
Militer Amerika Serikat merespons cepat perkembangan tersebut. Komando militer AS mengklaim telah melancarkan operasi udara terhadap armada kapal Iran yang diduga terlibat dalam penyebaran ranjau.
Dalam operasi tersebut, Washington menyatakan 16 kapal penyebar ranjau berhasil dihancurkan. Rekaman operasi yang dirilis menunjukkan serangan terhadap kapal-kapal kecil Iran yang beroperasi di malam hari.
Presiden Donald Trump juga memberikan ultimatum keras kepada Teheran. Ia menegaskan bahwa Iran harus segera menyingkirkan ranjau yang telah dipasang di jalur pelayaran internasional tersebut.
Menurut Trump, jika ranjau tersebut tidak segera dihapus, Iran akan menghadapi konsekuensi militer yang jauh lebih besar. Pernyataan ini mempertegas bahwa konflik di kawasan Teluk berpotensi berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas.
Baca Juga: Analisis Emosi Warga Indonesia terhadap Konflik Iran vs Israel
Dampak Konflik Iran vs AS-Israel
Ketegangan di Selat Hormuz langsung berdampak pada pasar energi global. Ancaman dari Teheran bahkan menyebut harga minyak mentah berpotensi melonjak hingga US$200 per barel jika konflik semakin meluas dan jalur energi utama dunia terganggu.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak dunia sudah menunjukkan kenaikan signifikan.
Selain harga energi yang meningkat, situasi keamanan pelayaran juga memburuk. Sejak konflik meningkat, total 14 kapal dilaporkan menjadi korban serangan di sekitar Selat Hormuz. Tiga insiden terbaru bahkan dikaitkan dengan serangan dari IRGC Iran.
Serangkaian serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz memperlihatkan bagaimana konflik di kawasan tersebut mulai berdampak langsung pada aktivitas pelayaran internasional.
Tiga insiden terbaru yang menimpa kapal Mayuree Naree, ONE Majesty, dan Star Gwyneth menambah panjang daftar kapal yang terdampak konflik di jalur energi strategis dunia itu.
Secara keseluruhan, sejak konflik meningkat pada awal Maret 2026, tercatat 14 kapal mengalami serangan atau kerusakan di wilayah sekitar Selat Hormuz. Situasi ini membuat banyak perusahaan pelayaran dan operator tanker mulai menunda perjalanan mereka.
Selain meningkatkan risiko keselamatan awak kapal, gangguan pelayaran tersebut juga memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia, yang pada akhirnya ikut mendorong volatilitas harga energi global.
Jika konflik terus bereskalasi, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga oleh ekonomi global yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi dari kawasan tersebut.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?
Sumber:
Dikutip dari Berbagai Sumber
Penulis: Raka Adichandra
Editor: Firda Wandira