Selat Hormuz Ditutup, Apa Dampaknya pada Ekonomi Dunia?

Apa jadinya jika Selat Hormuz ditutup? Jalur strategis ini memengaruhi harga minyak, inflasi, hingga stabilitas ekonomi global.

Selat Hormuz Ditutup, Apa Dampaknya pada Ekonomi Dunia? Ilustrasi Kapal Melintas di Selat Hormuz | Adem Percem/Unsplash
Ukuran Fon:

Selat Hormuz saat ini menjadi perbincangan panas dunia akibat menegangnya konflik antara Iran dengan AS. Perbincangan ini menjadi semakin serius setelah adanya isu penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan minyak dunia.

Pertanyaannya, jika benar terjadi pentupan Selat Hormuz, seberapa besar guncangannya bagi ekonomi global dan bagi Indonesia?

Seberapa Penting Selat Hormuz bagi Perdagangan Dunia?

Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Meski relatif sempit, Selat Hormuz menjadi jalur vital dalam perdagangan minyak dan kerap disebut sebagai chokepoint paling krusial di dunia.

Sekitar satu dari lima barel minyak yang diperdagangkan lewat laut setiap hari melintasi selat ini. Artinya, lebih dari 20 persen pasokan minyak global bergantung pada jalur tersebut.

Negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran mengandalkan Selat Hormuz sebagai rute utama ekspor mereka.

Volume Minyak yang Diangkat Melalui Selat Hormuz | GoodStats
Volume Minyak yang Diangkat Melalui Selat Hormuz | GoodStats

Data terbaru menunjukkan volume minyak mentah dan kondensat yang melintas di Selat Hormuz berada di kisaran 14-16 juta barel per hari dalam lima tahun terakhir.

Pada tahun 2022, volumenya mencapai sekitar 16 juta barel per hari, sebelum turun kembali ke kisaran 14,3 juta barel pada 2024 dan sekitar 14,2 juta barel pada kuartal pertama 2025.

Untuk produk minyak bumi lainnya, volumenya meningkat konsisten mulai dari 4,8 juta barel per hari pada 2020 menjadi sekitar 5,9 juta barel per hari pada 2024 hingga awal 2025. Jika digabungkan, total arus energi yang melewati selat ini bisa mendekati 20 juta barel per hari.

Bukan hanya minyak mentah saja yang melalui Selat Hormuz ini. Sekitar seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) dunia juga melewati jalur yang sama. LNG dari kawasan Teluk sangat vital bagi pasar Asia dan Eropa.

Inilah yang membuat Selat Hormuz menjadi kunci keamanan energi global. Meskipun tersedia pipa darat sebagai alternatif, kapasitasnya jauh lebih kecil dibandingkan volume yang melintas melalui lautan. Artinya, jika jalur ini terganggu, nyaris tidak ada rute lain yang sepadan. 

Baca Juga: Internasional 10 Negara Cadangan Minyak Terbesar Dunia

Selat Hormuz sebagai Alat Geopolitik

Posisinya yang strategis menjadikan Selat Hormuz bukan sekadar jalur ekonomi, melainkan juga instrumen geopolitik. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan selat ini, Iran memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas kawasan tersebut.

Dalam berbagai periode ketegangan Iran dengan AS, ancaman penutupan dan blokade Selat Hormuz kerap muncul sebagai respons politik maupun militer.

Dengan sekitar 20 persen minyak dunia melewati perairan ini, ancaman penutupan saja sudah cukup membuat pasar energi global bergejolak.

Secara teori, Iran dapat menggunakan kontrol atas wilayah sekitarnya sebagai alat tekanan. Dalam beberapa insiden sebelumnya, kapal-kapal tanker sempat menumpuk di sekitar pelabuhan kawasan Teluk akibat meningkatnya risiko keamanan.

Bahkan transmisi peringatan kepada kapal yang melintas pernah terjadi, mempertegas betapa sensitifnya kawasan ini.

Maka dari itu, Selat Hormuz disebut sebagai senjata non-militer paling berbahaya di Kawasan Timur Tengah. Tanpa menembakkan satu peluru pun, ketidakpastian di selat ini bisa memicu lonjakan harga minyak dan memperbesar risiko krisis energi global.

Apa yang Terjadi Jika Selat Hormuz Ditutup?

Skenario penutupan penuh memang keputusan yang ekstrem, mengingat kepentingan banyak negara besar di dalamnya. Bahkan gangguan sementara saja sudah cukup memicu kepanikan pasar.

Dampak paling nyata adalah lonjakan harga minyak. Jika pasokan minyak global berkurang 15-20 juta barel per hari dalam waktu singkat, harga di pasaran akan segera naik.

Dalam skenario terburuk, harga minyak bahkan bisa melonjak tajam dan menembus level harga tertinggi, bahkan berpotensi melampaui 100 dolar AS per barel jika gangguan berlangsung lama.

Lonjakan harga minyak ini juga mengakibatkan naiknya harga bensin, solar, LPG, hingga bahan bakar penerbangan.

Biaya produksi industri juga diperkirakan akan naik, ongkos distribusi melonjak, dan pada akhirnya akan memicu inflasi global. Negara-negara yang selama ini berperan sebagai pengimpor energi akan merasakan tekanan yang paling besar.

Selain minyak, gangguan pasokan LNG juga dapat memperparah situasi. Dunia berisiko menghadapi krisis energi global ganda, baik minyak dan gas sekaligus.

Industri petrokimia, logam, pulp dan kertas, serta manufaktur juga akan terdampak karena biaya energi yang lebih mahal.

Naiknya harga minyak dunia dan produk industri pun juga akan sangat berpengaruh pada perekonomian Indonesia. Lalu bagaimana dengan nasib Indonesia?

Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak dan LPG, Indonesia sangat sensitif terhadap lonjakan harga energi global.

Kenaikan harga minyak dunia berpotensi mendorong naiknya harga bahan bakar domestik, biaya transportasi, dan harga kebutuhan pokok. Inflasi global yang merambat ke dalam negeri pun juga dapat menekan daya beli masyarakat.

Sektor logistik dan pelayaran juga terdampak. Biaya asuransi kapal naik, rute pengiriman bisa diperpanjang, dan tarif kontainer berpotensi meningkat. Dalam jangka panjang, ketidakpastian ini bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi global, termasuk ekonomi Indonesia.

Baca Juga: 7 Jalur Laut Sempit Simpul Perdagangan Minyak

Apakah Ada Jalur Alternatif Lain?

Pertanyaan penting berikutnya yaitu apakah dunia benar-benar tidak punya pilihan selain Selat Hormuz?

Beberapa negara Teluk memang memiliki pipa alternatif yang mengarah ke Laut Merah atau pelabuhan lain di luar Teluk Persia. Namun kapasitasnya sangat terbatas dan tidak mampu menggantikan seluruh volume yang biasa melewati selat tersebut.

Di Indonesia, PT Pertamina (Persero) telah menyiapkan skenario mitigasi jika terjadi eskalasi konflik Timur Tengah. Salah satu langkahnya adalah pengalihan rute kapal pengangkut minyak mentah melalui jalur yang lebih aman, termasuk via Oman dan India.

Selain itu, rencana diversifikasi sumber impor dan pemanfaatan cadangan energi strategis juga menjadi bagian dari strategi antisipasi.

Meski begitu, ketergantungan global pada Selat Hormuz tetap tinggi. Sehingga, stabilitas kawasan ini menjadi faktor krusial bagi ekonomi dunia.

Ketergantungan pada minyak dan gas dari Selat Hormuz membuat setiap konflik yang terjadi di Timur Tengah memicu efek domino hingga harga BBM dan kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Analisis Emosi Warga Indonesia terhadap Konflik Iran vs Israel

Sumber:

https://www.eia.gov/todayinenergy/detail.php?id=65504

Penulis: Raka Adichandra
Editor: Editor

Konten Terkait

Terlalu Sering Scroll? Waspadai Fenomena Brainrot

Sering sulit fokus setelah terlalu lama scroll media sosial? Fenomena brainrot bisa jadi salah satu penyebabnya.

7 Pemain eFootball Paling Dicari Kolektor Akun

Di dunia eFootball, memiliki akun dengan pemain yang langka dan unggul adalah idaman banyak penggemar. Saat ini, tren jual beli akun efootball semakin ramai kar

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook