Situasi sosial-politik Indonesia belakangan ini kembali menghangat melalui gelombang aksi demonstrasi yang membawa berbagai tuntutan, mulai dari desakan penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Aksi turun ke jalan yang terjadi di berbagai wilayah ini banyak diinisiasi oleh mahasiswa dan koalisi masyarakat sipil. Hal tersebut menunjukkan bahwa generasi muda saat ini cukup kritis dan peduli terhadap beragam kebijakan pemerintah yang dinilai kurang sesuai atau merugikan masyarakat.
Di samping menyuarakan tuntutan melalui demo, banyak jenis keterlibatan aktivitas politik lain yang dilakukan anak muda khususnya pada enam bulan terakhir ini.
Baca Juga: Ini Alasan Generasi Muda Indonesia Takut Menyuarakan Pendapatnya
Berdasarkan survei Indonesia Millenial and Gen Z Report 2027 oleh IDN Research Institute, mayoritas anak muda di Indonesia cenderung memilih memanfaatkan ruang digital dalam merespons isu sosial-politik. Aktivitas yang paling mendominasi adalah membagikan ulang dan menandatangani petisi online, yang mencatatkan persentase tertinggi sebesar 51%.
Selain itu, kepedulian secara finansial dan intelektual juga cukup terlihat, yang mana 20% anak muda memilih untuk melakukan donasi dan 19% lainnya aktif mengikuti diskusi online resmi.
Di sisi lain, hasil survei ini juga menunjukkan adanya kelompok pasif yang cukup signifikan, dengan 31% responden menyatakan tidak melakukan apapun dalam menanggapi dinamika sosial-politik yang terjadi.
Sementara itu, keterlibatan anak muda pada jalur-jalur konvensional atau aksi di lapangan justru mencatatkan angka yang minim. Berdasarkan survei tersebut hanya ada 4% anak muda yang memilih untuk berpartisipasi dengan mengikuti demonstrasi secara langsung. Jalur formal berupa pelaporan masalah ke instansi terkait juga menjadi opsi yang paling jarang, yakni hanya 3% responden yang menyatakan bersedia melapor ke pengaduan resmi.
Pola ini menegaskan adanya pergeseran gaya pergerakan generasi muda yang kini jauh lebih condong memanfaatkan platform digital dan internet dibandingkan metode tradisional. Kondisi ini memungkinkan keterlibatan dalam merespons isu sosial-politik menjadi lebih mudah dan beragam. Selain itu, informasi yang sangat mudah didapatkan membuat semua kalangan masyarakat dapat mengetahui dinamika kebijakan pemerintah yang sedang ramai dikritisi.
Mayoritas Anak Muda Lebih Memercayai Konten Berbasis Data
Cepatnya arus informasi di ruang digital, membuat masyarakat perlu berhati-hati dalam menerima fakta yang diberitakan. Nyatanya, keberadaan konten hoaks yang menyesatkan hingga kini masih sering ditemukan.
Oleh karena itu dalam menghindari hal tersebut, anak muda baik dari kalangan Milenial atau Gen Z, lebih memilih jenis konten berupa data & fakta visual dengan persentase sebesar 41%. Di posisi berikutnya, terdapat dua jenis konten yang sama kuat, yakni konten humor/meme isu serius yang dan rilis resmi pemerintah/lembaga yang sama-sama mencatatkan angka sebesar 34%.
Sementara itu, jenis konten berbasis narasi personal dan media informasi formal berada di barisan persentase yang lebih rendah. Konten berupa video pendek cerita netizen berada di peringkat keempat dengan perolehan sebesar 24%, disusul oleh konten berita formal media massa yang diminati oleh 22% responden. Terakhir, konten berupa utasan atau threads warga biasa menjadi jenis aktivitas digital yang paling sedikit dipilih, dengan persentase hanya sebesar 16%.
Pada akhirnya, bersuara di ruang digital merupakan bukti kepedulian generasi muda terhadap dinamika sosial-politik yang sedang terjadi. Namun, aksi ini harus diiringi oleh pemahaman terhadap isu yang sedang berkembang, bukan sekadar ikut-ikutan atau FOMO tanpa mengerti esensi dan situasi nyata di lapangan.
Adapun survei ini dilakukan terhadap 628 responden yang berasal dari kelompok Milenial (279) dan Gen Z (349). Mayoritas responden merupakan perempuan (52%) dan berasal dari Pulau Jawa khususnya daerah Jabodetabek dengan persentase mencapai 36%.
Baca Juga: Dari Mana Anak Muda Mendapat Informasi Politik?
Sumber:
https://www.indonesiasummit.com/id
Penulis: Silmi Hakiki
Editor: Editor