Orang Indonesia kembali bergerak. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 mencatat 10,1 persen penduduk Indonesia adalah migran seumur hidup antar provinsi, naik dari 9,7 persen pada 2024. Artinya, satu dari sepuluh orang tinggal di provinsi yang berbeda dari tempat lahirnya. Sementara itu, 1,1 persen penduduk berumur lima tahun ke atas merupakan migran risen, yaitu mereka yang tinggal di provinsi lain pada lima tahun sebelumnya. Angka ini juga naik setelah turun pada Periode antara Tahun 2022 hingga Tahun 2024.
Baca Juga: 10 Kawasan Perkotaan dengan Populasi Terbesar di Dunia 2025, Ada Jakarta?
Lalu, provinsi mana yang paling banyak menerima migran, mana yang paling banyak ditinggalkan, dan ke mana arah perpindahannya?
Provinsi Mana yang Paling Banyak Menerima Migran?
Jawabannya Kepulauan Riau. Pada migrasi risen, provinsi ini mencatat persentase migran masuk tertinggi, yaitu 4,5 persen. Posisi berikutnya ditempati DI Yogyakarta (3,7 persen), Papua Barat (2,1 persen), Sumatera Barat (2,1 persen), dan Kalimantan Tengah (1,9 persen).
Pada migrasi seumur hidup, Kepulauan Riau juga memimpin dengan 43,0 persen. Hampir separuh penduduknya lahir di provinsi lain. BPS menduga penyebabnya adalah posisi provinsi ini yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia, kawasan perdagangan bebas, serta lapangan kerja di manufaktur, logistik, dan perdagangan.
Di bawahnya ada Kalimantan Timur (31,7 persen), Kalimantan Utara (31,2 persen), DKI Jakarta (30,1 persen), dan Papua Barat Daya (27,2 persen). Yogyakarta punya cerita lain: daya tariknya adalah pendidikan. Sekitar 90 persen migran yang masuk ke sana berusia produktif, dan lebih dari separuhnya belum kawin.
Provinsi Mana yang Paling Banyak Ditinggalkan?
Pada migrasi risen, DKI Jakarta mencatat persentase migran keluar tertinggi, yaitu 4,2 persen. Setelahnya ada Kalimantan Tengah (2,6 persen) dan Kalimantan Utara (2,4 persen). Pada migrasi seumur hidup, DKI Jakarta (32,4 persen) juga teratas, disusul DI Yogyakarta (20,4 persen), Sumatera Barat (19,8 persen), Jawa Tengah (17,6 persen), dan Sulawesi Selatan (15,0 persen).
Jakarta unik karena masuk lima besar migran masuk sekaligus lima besar migran keluar seumur hidup. Artinya, daya tarik dan daya dorongnya sama-sama kuat. BPS menyebut kepadatan, mahalnya biaya hidup, dan keterbatasan permukiman membuat sebagian penduduk memilih tinggal di wilayah penyangga.
Dari sisi perantau, Sumatera Barat menempati posisi ketiga dengan 19,8 persen penduduknya tercatat sebagai migran keluar seumur hidup. BPS mengaitkannya dengan budaya merantau masyarakat Minangkabau, baik untuk sekolah, bekerja, maupun berusaha. Sensus Penduduk 2020 mencatat sekitar 981 ribu orang kelahiran Sumatera Barat tinggal di provinsi lain, sementara yang lahir di provinsi lain dan menetap di Sumatera Barat hanya sekitar 400 ribu.
Gambaran paling jelas terlihat pada migrasi neto, yaitu selisih migran masuk dan keluar. Kepulauan Riau (2,6 persen) dan DI Yogyakarta (2,3 persen) mencatat surplus terbesar. Di ujung sebaliknya, DKI Jakarta (-2,7 persen) paling defisit, diikuti Kalimantan Utara (-0,8 persen), serta Banten, Kalimantan Tengah, dan Papua yang sama-sama -0,7 persen.
Pola ini terlihat jelas pada grafik berikut. Dua provinsi teratas, Kepulauan Riau dan DI Yogyakarta, jauh lebih banyak menerima migran daripada kehilangan penduduknya. Sebaliknya, tiga provinsi terbawah, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan DKI Jakarta, lebih banyak ditinggalkan daripada menerima migran baru.
Bagaimana Pola Asal-Tujuan Perpindahannya?
Pola utamanya adalah dekat dulu. Migran cenderung pindah ke provinsi tetangga atau yang masih satu pulau karena biaya lebih murah dan jaringan sosial sudah ada. Penduduk kelahiran Sumatera umumnya berpindah ke provinsi lain di Sumatera, begitu pula di Kalimantan dan Sulawesi.
Meski begitu, Pulau Jawa tetap jadi magnet. DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten adalah tujuan utama migran seumur hidup dari berbagai wilayah. Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi daerah asal dengan sebaran paling luas.
Pada migrasi risen, lebih dari 80 persen migran dari Jakarta pindah ke provinsi di Jawa. Rinciannya, 40,6 persen ke Jawa Barat dan 30,2 persen ke Jawa Tengah. Sebanyak 51,2 persen migran asal Yogyakarta juga pindah ke Jawa Tengah.
Dari sisi penerima, kedekatan wilayah terlihat jelas pada tabel berikut. Lebih dari separuh migran masuk Banten berasal dari Jakarta, dan hampir separuh migran masuk Sulawesi Barat berasal dari Sulawesi Selatan.
Apakah Polanya Berubah Sejak Sensus 2020?
Pola besarnya relatif sama. Sensus Penduduk 2020 mencatat Jawa Tengah (sekitar 6,0 juta orang) dan Jawa Timur (sekitar 3,5 juta orang) sebagai daerah asal migran seumur hidup terbanyak. Sebaliknya, Jawa Barat (sekitar 2,7 juta), Banten (sekitar 1,6 juta), dan Riau (sekitar 1,4 juta) mencatat tambahan penduduk neto terbesar dari migrasi seumur hidup.
Untuk migrasi risen, DKI Jakarta juga sudah tercatat paling banyak ditinggalkan pada 2020. Sekitar 797 ribu orang keluar, sedangkan yang masuk hanya sekitar 212 ribu, sehingga neto Jakarta minus sekitar 585 ribu orang. Susenas 2025 menunjukkan arah yang sama, dengan DKI Jakarta kembali paling defisit (-2,7 persen).
Meski begitu, kedua angka ini tidak bisa dibandingkan langsung. Sensus 2020 menyajikan jumlah orang dengan periode risen 2015–2020, sedangkan Susenas 2025 menyajikan persentase dengan periode 2020–2025.
Siapa yang Bermigrasi?
Sebagian besar migran risen (83,3 persen) berusia produktif. Komposisi laki-laki dan perempuan seimbang, masing-masing 50,0 persen. Pendidikannya juga cenderung lebih tinggi: hampir separuh migran lulusan SMA atau perguruan tinggi, sementara pada nonmigran hanya sekitar sepertiga.
Migrasi Menggeliat Lagi, Wilayah Penyangga Kian Dilirik
Data Susenas 2025 menunjukkan perpindahan penduduk kembali meningkat. Kepulauan Riau dan Yogyakarta menjadi penerima terbesar, sedangkan Jakarta paling banyak ditinggalkan, terutama ke Jawa Barat dan Jawa Tengah. Satu hal yang perlu dicermati: arah perpindahan ini bisa jadi cerminan perbedaan peluang dan biaya hidup antarwilayah.
Baca Juga: 30 Kota dengan Populasi Terbanyak di Dunia, Jakarta Nomor 1!
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/09/28/afda10be4236aa2cf312c60a/profil-migran-hasil-survei-sosial-ekonomi-nasional-2025.html?utm_source=chatgpt.com