Tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk menjadi cerminan pemerataan pendidikan serta kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Oleh karena itu, memotret persentase penduduk Indonesia berdasarkan jenjang pendidikan yang ditamatkan menjadi penting khususnya dalam memahami kondisi aktual pendidikan nasional sekaligus sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan pembangunan di bidang pendidikan dan ketenagakerjaan.
Baca Juga: Tingkat Pendidikan Pemuda Indonesia 2024, Mayoritas Lulusan SMA Sederajat
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia pada tahun 2025 berada pada jenjang pendidikan menengah dan dasar. Kelompok dengan persentase terbesar adalah penduduk yang menamatkan SMA/SMK sederajat, yakni sebesar 31,25%. Angka ini mengindikasikan bahwa pendidikan menengah atas telah menjadi jenjang yang paling umum diselesaikan oleh masyarakat.
Di sisi lain, penduduk dengan pendidikan SD sederajat dan SMP sederajat juga masih mendominasi, masing-masing sebesar 23,9% dan 22,48%, yang menandakan bahwa sebagian besar penduduk berhenti pada jenjang pendidikan dasar hingga menengah pertama. Sementara itu, proporsi penduduk yang menamatkan perguruan tinggi masih relatif kecil, yaitu sekitar 11%. Hal ini menunjukkan bahwa akses dan partisipasi pada pendidikan tinggi belum merata.
Sedangkan di jenjang pendidikan terendah, persentase penduduk yang belum tamat SD tercatat sebesar 8,52%, sedangkan yang tidak atau belum pernah sekolah hanya 2,85%. Meski jumlahnya paling kecil, kelompok ini harus menjadi perhatian penting dalam upaya pemerataan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.
Mayoritas penduduk yang hanya menyelesaikan hingga tingkat pendidikan menengah atas, memperlihatkan kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil. Mereka lebih memilih langsung bekerja untuk membantu pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya daripada harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang mengeluarkan biaya tidak sedikit..
Apalagi akses ke pendidikan tinggi masih belum merata, sehingga penduduk yang tinggal di daerah perdesaan cenderung tidak melanjutkan hingga ke bangku perkuliahan. Hal ini terlihat dari data yang dirilis oleh BPS bahwa hanya 6,03% masyarakat perdesaan yang masuk ke dalam kategori lulusan perguruan tinggi. Angka ini jauh dibawah bahkan dua kali lipat lebih rendah dibanding dengan penduduk yang tinggal di daerah perkotaan yakni sebanyak 14,33% merupakan lulusan perguruan tinggi.
Oleh karena itu dalam upaya pemerataan pendidikan di Indonesia pada tahun 2026, Alokasi anggaran pendidikan diproyeksikan mencapai sekitar Rp757,8–769,08 triliun, kurang lebih setara dengan 20% dari total belanja negara yang ditetapkan sebesar Rp3.786,5 triliun. Jumlah tersebut mengalami kenaikan sekitar 0,4% hingga 9,8% dibandingkan proyeksi anggaran pendidikan tahun 2025 yang berada pada kisaran Rp690–724,3 triliun. Menteri Keuangan menegaskan bahwa sektor pendidikan tetap menjadi prioritas utama pemerintah, sejalan dengan komitmen untuk meningkatkan kualitas sekaligus memperluas pemerataan layanan pendidikan di seluruh jenjang.
Baca Juga: Angka Partisipasi Kuliah di Indonesia Terus Meningkat 1 Dekade Terakhir
Sumber: https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTYxMCMx/persentase-penduduk-umur-15-tahun-ke-atas-menurut-klasifikasi-desa--jenis-kelamin--dan-jenjang-pendidikan-tertinggi-yang-ditamatkan--2009-2025.html
Penulis: Silmi Hakiki
Editor: Editor