Pasca bencana banjir bandang dan longsor yang menghantam sejumlah wilayah di Indonesia di akhir tahun 2025, termasuk Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Jawa Timur, ribuan fasilitas masih lumpuh hingga saat ini.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat tiga jenis bencana alam yang paling sering terjadi sepanjang tahun 2025, antara lain banjir (37,09%), cuaca ekstrem (26,91%), dan longsor (15,80%).
Selain itu, Kepala Pusat Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebutkan ada lima provinsi yang tercatat sebagai wilayah dengan frekuensi bencana tertinggi selama 2025, yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Riau, dan Sumatra Utara.
"Secara tahunan, lima provinsi tersebut menjadi penyumbang terbesar kejadian bencana di Indonesia sepanjang 2025," ungkapnya, Kamis (1/1/2026), mengutip dari Media Indonesia.
Dengan tingginya frekuensi kejadian bencana alam di Indonesia dan ekstremnya dampak yang ditimbulkan, pemerintah menunjukkan kehadirannya sebagai dukungan pemulihan pasca bencana dengan menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak, tak terkecuali para guru dan tenaga kependidikan (tendik).
Melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pemerintah menyalurkan tunjangan khusus untuk 16.467 guru dan tendik yang terdampak bencana alam. Penyaluran bantuan tersebut diberikan secara bertahap, dimulai dari bulan Desember 2025 sampai Februari 2026.
Baca Juga: 6 Kebijakan Purbaya Demi Pemulihan Bencana Sumatra, Dana Capai Rp51 Triliun
Jumlah Bantuan untuk Guru dan Tendik yang Terdampak Bencana
Para guru dan tendik yang berdomisili di Aceh mendapatkan jumlah tunjangan khusus senilai Rp15,7 miliar. Selanjutnya, pemerintah memberikan tunjangan khusus untuk guru dan tendik di wilayah Sumatra Utara dan Sumatra Barat, masing-masing senilai Rp11,6 miliar dan Rp5,6 miliar.
Terakhir, guru dan tendik di wilayah Lumajang, Jawa Timur yang juga terdampak bencana mendapatkan jatah tunjangan khusus senilai Rp56 juta.
Pemerintah memberikan tunjangan tersebut dengan tujuan untuk mendukung proses pemulihan guru dan tendik yang terdampak bencana, dengan harapan dapat meringankan beban dan menjaga keberlangsungan peran guru di masa pemulihan bencana.
Sejalan dengan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyatakan dukungannya untuk selalu menjalankan tugas mulia kepada para guru dan tendik.
"Dalam kondisi bencana, keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama. Namun, hak anak untuk tetap belajar tidak boleh terhenti. Pemerintah hadir untuk memastikan pendidikan darurat dapat berjalan sekaligus memberikan dukungan bagi para guru yang tetap mengabdi di wilayah terdampak," tuturnya, Rabu (31/12/2025).
Adapun bagi guru dan tendik yang memiliki pertanyaan terkait dengan tunjangan khusus, bisa disampaikan secara detail melalui laman resmi Kemendikdasmen.
Baca Juga: Jumlah Sekolah yang Beroperasi Pasca Bencana Sumatra 2025
Sumber:
https://www.instagram.com/p/DSwM6PHEotV/?img_index=3
Penulis: Faiza Az Zahra
Editor: Editor