Pasca penutupan Selat Hormuz pada Sabtu, 28 Februari 2026, harga minyak dunia langsung meroket dan menembus US$80 per barel. Lonjakan ini terjadi hanya dalam hitungan hari setelah eskalasi konflik di Timur Tengah. Hal ini memicu kekhawatiran besar terhadap pasokan energi global.
Mengacu pada Yahoo Finances, harga minyak mentah Brent pada 2 Maret 2026 sempat menyentuh US$82,11 pada pukul 14.51 WIB. Angka ini menjadi level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Kenaikan harga minyak dunia ini berpotensi menekan inflasi global, meningkatkan biaya logistik, serta memperbesar beban subsidi energi di beberapa negara yang bergantung dengan impor minyak.
Serangan AS-Israel dan Penutupan Selat Hormuz
Lonjakan harga minyak dunia tidak terjadi pada sebab. Pada 28 Februari 2026, militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran. Hal ini kemudian ditanggapi dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Pada hari Minggu, 1 Maret 2026, sekitar tiga kapal dari Inggris dan AS telah diserang di Selat Hormuz. Hal ini menunjukkan penutupan efektif Selat Hormuz yang dapat mempengaruhi harga minyak dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global. Ketika jalur ini terganggu, potensi kekurangan pasokan dapat meningkat sehingga harga minyak dunia dapat menjadi semakin tinggi. Direktur Energi dan Penyulingan Independent Commodity Intelligence Services (ICIS), Ajay Parmar, menyampaikan bahwa jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut, harga minyak diprediksi dapat mencapai US$100 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Goreng Curah Terjaga, Ini Daftar Provinsi Termahal Awal 2026
Statistik Perkembangan Harga Minyak Dunia Selama 6 Bulan Terakhir
Pergerakan harga minyak dunia dari September 2025 hingga awal Maret 2026 menunjukkan dinamika yang menarik, terutama setelah meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Data menunjukkan bahwa pada September 2025, harga minyak mentah Brent mencapai high atau tingkat tertinggi sebesar US$69,51 per barel, sebelum turun ke US$69,14 pada penutupan (close). Angka ini menandai puncak awal enam bulan terakhir sebelum terjadi penurunan bertahap.
Memasuki Oktober 2025, data menunjukkan penurunan harga. Puncak harga tercatat sebesar US$66,12 per barel dan ditutup di harga US$64,11. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 7,27% dari bulan sebelumnya.
Tren penurunan melambat pada November 2025. High tercatat US$65,31 atau hanya turun sekitar 1,23% dari Oktober. Sementara itu, harga minyak dunia ditutup pada angka US$64,89 atau naik sekitar 1,22%.
Pada akhir tahun 2025, harga minyak dunia masih menurun. Harga maksimum mencapai US$63,43 dan penutupan sebesar US$62,45. Penurunan ini terus berlanjut memasuki bulan Januari 2026. Harga maksimum minyak dunia sebesar US$61,36 dan ditutup di angka US$60,75. Angka ini merupakan titik terendah harga minyak dunia dalam enam bulan terakhir.
Pada Februari 2026, harga minyak mulai pulih. Harga maksimum tercatat US$68,81 atau naik 12,14% dari Januari. Sementara itu, penutupan berada di angka US$66,30 atau meningkat 9,14% dari bulan sebelumnya.
Harga minyak kemudian melejit di awal Maret 2026. Pada 2 Maret 2026 pukul 14.51 WIB, harga minyak mentah Brent mencapai angka US$82,11 atau naik sebesar 19,32%. Penutupan juga melonjak secara signifikan dengan kenaikan 20,41% di angka US$79,83. Menurut Ajay Parmar, aksi militer AS-Israel terhadap Iran memang berpengaruh besar, namun penutupan Selat Hormuz menjadi penentu kenaikan harga minyak dunia.
Infrastruktur Alternatif untuk Pengiriman Minyak Dunia
Menanggapi masalah ini, ekonom energi Rystad, Jorge Leon, menyampaikan pengalihan pengiriman minyak melalui jalur alternatif. Meskipun Selat Hormuz merupakan jalur utama, beberapa produsen juga memiliki infrastruktur alternatif untuk mengurangi dampak gangguan.
Salah satunya adalah Arab Saudi yang memiliki jaringan pipa Timur-Barat. Hal ini memungkinkan ekspor minyak dialihkan ke Laut Merah. Sementara itu, Uni Emirat Arab juga memiliki jalur pipa menuju pelabuhan Fujairah yang tidak melalui Selat Hormuz. Jalur-jalur alternatif ini diharapkan dapat menekan kenaikan harga minyak dunia untuk sementara selama Selat Hormuz masih ditutup.
Baca Juga: 10 Negara Cadangan Minyak Terbesar Dunia
Sumber: https://finance.yahoo.com/quote/BZ%3DF/history/
Penulis: Aisha Zahrany
Editor: Muhammad Sholeh