Pasang Surut Ekspor Hasil Pertanian dan Stagnansi Kesejahteraan Petani

Nilai ekspor hasil pertanian Indonesia mencapai US$3,96 miliar sepanjang Januari-Juli 2025. Namun, kesejahteraan petani cenderung stagnan.

Pasang Surut Ekspor Hasil Pertanian dan Stagnansi Kesejahteraan Petani Potret Tanaman Kopi | Michael Burrows /Pexels
Ukuran Fon:

Pertanian telah lama menjadi salah satu kekuatan utama Indonesia. Dengan tanah yang subur dan iklim tropis yang mendukung, negeri ini tumbuh sebagai ladang ideal bagi berbagai tanaman pangan dan hortikultura. Tak heran jika Indonesia dikenal sebagai negara agraris, mencerminkan kedekatan masyarakat dengan sektor pertanian sejak dahulu.

Tingginya permintaan hasil pertanian, baik di dalam maupun luar negeri, turut mendorong ekspor komoditas Indonesia ke pasar global. Sepanjang Januari hingga Juli 2025, nilai ekspor hasil pertanian tercatat mencapai US$3,96 miliar, menandakan tingginya produktivitas para petani dan daya saing produk lokal di kancah internasional. Lalu, bagaimana tren perkembangannya dari bulan ke bulan?

Ekspor hasil pertanian Indonesia sempat anjlok di April dan kembali meningkat pada Mei 2025 | GoodStats

Nilai ekspor hasil pertanian Indonesia sepanjang awal hingga pertengahan tahun 2025 menunjukkan tren yang kuat dan stabil. Pada Januari, nilai ekspor tercatat sebesar US$547,3 juta, kemudian meningkat menjadi US$564,3 juta pada Februari dan kembali naik ke US$575,1 juta pada Maret. Namun, pada April terjadi penurunan signifikan menjadi US$479,9 juta, yang menandakan adanya perlambatan sementara dalam kinerja ekspor.

Memasuki Mei, nilai ekspor melonjak tajam hingga mencapai US$634,3 juta, menjadi capaian tertinggi dalam periode tersebut. Meski pada Juni sedikit menurun ke US$586,9 juta dan Juli turun tipis menjadi US$576,2 juta.

Ekspor Hasil Pertanian Indonesia

Kopi jadi komoditas dengan nilai ekspor tertinggi pada pertengahan 2025 | GoodStats

Badan Pusat Statistik (BPS) merangkum bahwa sepanjang Juli 2025, kinerja ekspor pertanian Indonesia menunjukkan capaian yang cukup kuat dengan berbagai komoditas unggulan. Komoditas kopi menempati posisi tertinggi dengan nilai ekspor mencapai US$208,6 juta. Di posisi berikutnya, tanaman biofarmaka mencatat nilai US$62,9 juta, disusul oleh buah-buahan tahunan sebesar US$57,9 juta. Selain itu, sarang burung dengan nilai ekspor US$30,4 juta dan sayur-sayuran sebesar US$27,7 juta juga turut memperkuat kinerja ekspor subsektor hortikultura nasional.

Di sisi lain, komoditas rumput laut dan ganggang lainnya menyumbang US$18,3 juta, diikuti oleh tembakau senilai US$14,4 juta. Ikan tangkap dan biji kakao masing-masing mencatat nilai ekspor US$12,3 juta dan US$7,6 juta. Adapun kelompok komoditas lainnya memberikan kontribusi tambahan sebesar US$122,7 juta.

Bagaimana dengan Kesejahteraan Petani?

Salah satu indikator penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani adalah Nilai Tukar Petani (NTP). Indeks ini membandingkan antara nilai yang diterima petani dari hasil produksinya dengan nilai yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan rumah tangga dan modal usaha bertani.

Ketika NTP berada di atas angka 100, artinya pendapatan petani lebih besar daripada pengeluaran mereka. Kondisi ini menunjukkan daya beli dan kesejahteraan petani yang meningkat. Sebaliknya, jika berada di bawah 100, petani mengalami tekanan ekonomi. Lalu, bagaimana perkembangan NTP di sepanjang 2025?

NTP tidak mengalami perubahan signifikan dalam 9 bulan terakhir | GoodStats

Skor NTP sepanjang tahun 2025 menunjukkan pergerakan yang relatif stagnan tanpa perkembangan yang signifikan. Pada Januari, indeks tercatat sebesar 123,6 dan hanya mengalami sedikit fluktuasi pada bulan-bulan berikutnya, menjadi 123,45 pada Februari, 123,72 pada Maret, lalu turun ke 121,06 pada April dan bertahan di kisaran 121,15 hingga 121,72 pada Mei dan Juni.

Memasuki paruh kedua tahun, indeks memang sedikit meningkat menjadi 122,64 pada Juli, 123,57 pada Agustus, dan 124,36 pada September, namun perubahan tersebut tergolong tipis dan belum mencerminkan kemajuan yang substansial.

Baca Juga: Pertanian: Sektor dengan Serapan Tenaga Kerja Tertinggi, Namun Pendapatan Rendah

Sumber:

https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/09/01/2461/nilai-tukar-petani--ntp--agustus-2025-sebesar-123-57-atau-naik-0-76-persen-.html

https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjMxMCMy/nilai-ekspor-bulanan-hasil-pertanian-menurut-komoditas---juta-us--.html

Penulis: Faiz Al haq
Editor: Editor

Konten Terkait

Benarkah Indonesia Negara Paling Bahagia di Dunia?

Menurut GFS, Indonesia jadi negara paling sejahtera dengan skor mencapai 8,1 pada 2025.

Banjir Dominasi Bencana Alam di Indonesia 2025

Banjir menjadi bencana paling sering terjadi sepanjang 2025 dengan proporsi mencapai 37,09%, mengancam wilayah padat penduduk nasional.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook