Dewasa ini, Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu keterampilan yang penting untuk dimiliki. Hampir seluruh bidang kehidupan mulai dari pendidikan, pekerjaan, sampai dengan penyediaan konten hiburan, semuanya telah pengaruhi oleh kehadiran AI. Oleh karena itu, masyarakat mau tidak mau harus mampu beradaptasi dan menerima AI sebagai bagian dari kehidupan.
Dalam penerapannya, tingkat pemahaman dan penguasaan publik terhadap AI cenderung beragam. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti latar belakang pendidikan, lingkungan pekerjaan, budaya, dan lain sebagainya. Lantas bagaimana tingkat penguasaan publik Indonesia terhadap AI?
Baru-baru ini Kumparan telah merilis laporan bertajuk Kumparan Indonesia AI Report 2025 yang membahas tentang persepsi serta keterlibatan publik dalam pemanfaatan AI. Survei ini dilakukan terhadap 1.000 responden dari beberapa wilayah mencakup Jabodetabek, Surabaya, Makassar, Medan, Denpasar, dan Balikpapan melalui metode survei kuantitatif dan wawancara kualitatif secara daring.
Mayoritas Publik Berada pada Kategori Menengah
Secara keseluruhan, beberapa kategori penguasaan seperti pemula, menengah, dan mahir berbagi proporsi yang hampir setara. Kategori penguasaan menengah keluar sebagai yang dominan dengan capaian 43%. Pada tingkatan ini, mayoritas publik diartikan telah mampu menggunakan banyak fitur AI tetapi pemanfaatannya belum maksimal.
Selanjutnya capaian tertinggi kedua ditempati oleh kategori mahir dengan perolehan sebesar 31%. Pada kategori ini, publik dipahami telah mampu memaksimalkan penggunaan AI untuk beragam tujuan dan kebutuhan. Dengan kata lain, mereka yang berada di tahap ini memiliki kejelian yang tinggi dalam melihat peluang pelibatan AI untuk mempermudah kehidupan.
Kemudian tingkat penguasaan pemula tercatat sebanyak 22% dan diikuti kategori ahli dengan 4%. Berbeda dengan tingkat mahir, kategori ahli diartikan sebagai publik yang mampu memodifikasi kecerdasan buatan secara lebih lanjut. Walaupun proporsi ahli memiliki angka terendah, jumlahnya diperkirakan terus meningkat dengan pertimbangan adanya kemungkinan transfer ilmu yang dilakukan oleh ahli.
Dari Mana Publik Belajar AI?
Pengetahuan dan keahlian publik tentang pemanfaatan AI tentunya tidak datang dengan sendirinya. Hal tersebut didapat melalui proses pembelajaran panjang secara konsisten melalui berbagai sumber. Lalu sumber belajar apa saja yang digunakan?
Data dalam laporan yang sama menyebut bahwa mayoritas responden mengaku belajar AI dari media sosial dan YouTube dengan perolehan 84%. Temuan ini memperkuat fakta bahwa media sosial punya andil yang besar dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan publik mengenai kecerdasan buatan.
Lebih lanjut sumber belajar lainnya yang juga banyak diakses meliputi artikel online dan blog (51%), media massa dan pemberitaan (49%), teman dan kolega (43%), kemudian disusul percobaan otodidak alias trial and error (42%), serta melalui kursus daring atau luring (21%).
Keragaman sumber belajar ini menandakan tingginya semangat publik untuk bisa mengenal AI lebih dalam. Akan tetapi, beberapa media atau sumber pastinya memiliki keterbatasan dalam memberikan sejumlah pengetahuan. Jika ingin menguasai AI pada tingkatan tertinggi maka disarankan untuk mengombinasikan sumber belajar atau secara langsung mengikuti kursus yang berkaitan dengan kecerdasan buatan.
Baca Juga: Memahami Peran AI di Dunia Marketing
Sumber:
https://kumparan.com/kumparantech/kumparan-luncurkan-indonesia-ai-report-2025-pahami-persepsi-publik-terhadap-ai-265YCiMDzUo/full?fbclid=PAb21jcANmkelleHRuA2FlbQIxMQABpwdv8UrrPQU0Ya9doP2aq6xfUK00_B3o_iYYw_YSMrDDYngXpwhnd3-YbHHn_aem_iXz1_OeH3dDf_V3IEDrv5g
Penulis: NAUFAL ALBARI
Editor: Editor