Kakao merupakan salah satu komoditas andalan ekspor pertanian Indonesia karena neraca perdagangannya selalu mengalami surplus, yang berarti volume dan nilai ekspor kakao Indonesia lebih besar dibandingkan nilai impornya.
Pada tahun 2024, Indonesia mengekspor 348,1 ribu ton kakao ke pasar dunia. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak tahun 2020. Hampir 99% produksi kakao Indonesia tahun 2020-2024 berasal dari perkebunan rakyat, dengan pulau Sulawesi sebagai sentra produksi kakao terbesar.
Menurut pantauan Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) dalam Analisis Kinerja Perdagangan Kakao Semester II 2025, nilai ekspor kakao Indonesia mencapai US$2,64 miliar pada 2024, melonjak sekitar 120% dibanding tahun sebelumnya.
2024 Jadi Tahun Ekspor Kakao Tertinggi
Baca Juga: Strategi Pemerintah Dongkrak Produktivitas Kakao Indonesia 2025
Pada tahun 2020, Indonesia berhasil mengekspor 377.849 ton kakao dengan nilai mencapai US$1,24 miliar. Ekspor kakao pun mengalami fluktuasi perkembangan yang relatif stabil pada tahun-tahun selanjutnya. Pada 2021 nilai ekspor kakao menurun menjadi US$1,21 miliar, lalu meningkat kembali tahun 2022 menjadi US$1,26 miliar.
Kemudian pada tahun 2023, nilai ekspor kakao kembali turun menjadi US$1,20, namun melonjak mencapai US$2,65 miliar pada 2024. Lonjakan ini membuat neraca perdagangan kakao Indonesia mengalami surplus sebesar US$1,18 miliar.
Tingginya produksi kakao membuat Indonesia menempati posisi ke-12 sebagai negara eksportir kakao terbesar di dunia. Adapun negara tujuan ekspor utama Indonesia adalah India, yang telah menyumbang sebesar 17,94% dari total ekspor nasional. Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor kedua, disusul Malaysia dan China.
Indonesia sendiri mengekspor berbagai produk kakao ke pasar internasional, bukan hanya dalam bentuk primer seperti biji kakao, tetapi juga dalam bentuk olahan atau manufaktur yang diproses oleh industri nasional. Berdasarkan pantauan Kementan RI, produk kakao olahan mendominasi ekspor Indonesia dibandingkan biji kakao.
Produk Kakao Olahan Dominasi Ekspor 2024
Mentega, lemak, dan minyak kakao memiliki nilai ekspor terbesar yang menutup 64,61% dari total ekspor, atau senilai US$1,71 miliar. Mentega, lemak dan minyak kakao adalah lemak nabati alami yang berfungsi sebagai bahan baku manisan cokelat untuk memberikan tekstur lembut.
Sementara itu, bubuk kakao tanpa gula dan pemanis menempati posisi kedua sebagai produk manufaktur terbanyak dengan kontribusi ekspor mencapai 17,19% atau senilai US$454 juta. Lebih lanjut, pasta kakao tanpa lemak berkontribusi 7,13% dari total ekspor, dilanjut pasta kakao berlemak sebesar 4,85%.
Di sisi lain, ekspor kakao dalam wujud primer, yakni biji kakao, hanya menyumbang 3,05% atau sekitar US$80,6 juta dari total nilai ekspor pada 2024.
Rendahnya kontribusi ekspor biji kakao tak lepas dari kebijakan Bea Keluar (BK) yang diterapkan pemerintah untuk menahan laju ekspor bahan mentah dan mendorong pengolahan dalam negeri. Langkah ini sekaligus mengarahkan pelaku usaha agar fokus menghasilkan produk bernilai tambah.
Di pasar global, biji kakao memang memiliki nilai jual lebih rendah dari produk turunannya seperti pasta, mentega, maupun bubuk kakao. Oleh karena itu, dominasi ekspor produk manufaktur menjadi sinyal bahwa industri pengolahan kakao nasional semakin matang.
Indonesia kini tak lagi sekedar pemasok bahan baku, tetapi mulai mengukuhkan posisi sebagai produsen produk kakao olahan di pasar internasional.
Baca Juga: Potret Kakao Indonesia: Produksi Besar, Tapi Masih Impor?
Sumber:
https://satudata.pertanian.go.id/details/publikasi/944
Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor