Edukasi

Lulusan Sarjana Terus Meningkat, Ini 10 Universitas Negeri dengan Lulusan Terbanyak

Universitas negeri di Indonesia menyumbang hingga puluhan ribu lulusan setiap tahunnya. Universitas negeri manakah dengan lulusan terbanyak?

Lulusan Sarjana Terus Meningkat, Ini 10 Universitas Negeri dengan Lulusan Terbanyak

Ilustrasi Perayaan Wisuda I George Pak/Pexels

Jumlah lulusan universitas di Indonesia terus bertambah setiap tahunnya. Setiap universitas menyumbang belasan hingga puluhan tibu lulusan setiap tahun. Berikut 10 universitas negeri dengan lulusan terbanyak pada 2025.

Universitas Terbuka jadi universitas negeri dengan jumlah lulusan terbanyak.
Universitas Terbuka jadi universitas negeri dengan jumlah lulusan terbanyak.

 

Universitas Terbuka menjadi peringkat pertama universitas negeri dengan lulusan terbanyak pada 2025 yaitu 83.288 lulusan. Peringkat kedua ditempati oleh Universitas Negeri Surabaya dengan jumlah lulusan 41.131. Peringkat ketiga diisi oleh Universitas Negeri Padang dengan jumlah lulusan 35.798.

Peringkat keempat ditempati oleh Universitas Makassar dengan total lulusan 33.700.  Universitas Negeri Semarang menjadi peringkat kelima dengan jumlah lulusan 33.625. Universitas Sebelas Maret berada pada peringkat enam dengan jumlah lulusan 32.868. 

Di peringkat ketujuh ada Universitas Negeri Malang dengan jumlah lulusan 31.683. Peringkat delapan diisi oleh Universitas Negeri Medan dengan jumlah lulusan 24.997.

Peringkat kesembilan dan kesepuluh diisi oleh Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Pendidikan Indonesia dengan jumlah lulusan masing-masing 24.208 dan 19.311.

Baca Juga: 5 PTN dengan Program Studi Terbanyak di Indonesia

Dampak Positif Banyaknya Lulusan Perguruan Tinggi

  • Meningkatkan kualitas sumber daya manusia
    Pendidikan dan pelatihan dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan kerja. Melalui pendidikan inilah produktivitas tenaga kerja dapat meningkat. Lulusan dengan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing juga dapat meningkatkan inovasi dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
  • Memenuhi kebutuhan dunia kerja
    Program studi perguruan tinggi dibuka untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja tertentu. Lulusan yang kompeten pada bidangnya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Pendidikan tinggi dapat membantu seseorang mengasah kemampuan komunikasi, kerja sama, dan kemampuan menyelasaikan masalah sehingga lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru dan dinamis.
  • Mendorong pertumbuhan ekonomi
    Menurut penelitian, tingkat pendidikan suatu negara yang rata-rata tinggi akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.

Baca Juga: 10 Kampus Paling Berprestasi dalam Kontes Robot Terbang Indonesia 2026

Dampak Negatif Banyaknya Lulusan Perguruan Tinggi

  • Meningkatnya pengangguran terdidik
    Ketika jumlah lulusan perguruan tinggi semakin banyak, gelar sarjana atau di atasnya menjadi semakin umum. Akibatnya, gelar saja semakin kurang cukup untuk membedakan seorang pencari kerja dari kandidat lainnya.
  • Inflasi kualifikasi dan persaingan mencari kerja semakin ketat
    Terdapat persoalan pada lapangan kerja, pekerjaan yang sebelumnya tidak membutuhkan pendidikan tinggi dapat semakin sering menyaratkan gelar S1 sebagai kualifikasi. Artinya, standar pendidikan yang diminta menjadi lebih tinggi dan persaingan kerja semakin ketat.
  • Lulusan berpotensi bekerja di bawah tingkat pendidikannya
    Akibat ketatnya persaingan kerja, lulusan perguruan tinggi dapat masuk ke pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan pendidikan setinggi yang mereka miliki.

Baca Juga: 15 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027, Siapa di Posisi Puncak?

Sumber: https://data.kemdiktisaintek.go.id/publikasi/buku-statistik-pendidikan-tinggi-2025

Key Insights

  • Universitas Terbuka (UT) menyumbang lulusan terbanyak jauh di atas universitas negeri lainnya, menunjukkan peran pentingnya dalam pemerataan akses pendidikan tinggi.
  • Perguruan tinggi negeri di luar Jawa mendominasi daftar lulusan terbanyak, mengindikasikan distribusi SDM terdidik yang merata secara geografis.
  • Peningkatan jumlah lulusan berpotensi memicu inflasi kualifikasi, di mana gelar sarjana menjadi standar minimum, bukan lagi pembeda.
  • Tingginya angka lulusan juga berisiko meningkatkan pengangguran terdidik atau penempatan kerja di bawah tingkat pendidikan.

Penulis: Linda Lestari • Editor: Muhammad Sholeh

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?