Literasi Finansial Perempuan Naik, Sementara Inklusi Finansial Masih Didominasi oleh Laki-laki?

Literasi keuangan wanita tercatat meningkat per 2022 tetapi berbanding terbalik dengan aksesibilitas inklusi keuangan bagi wanita.

Literasi Finansial Perempuan Naik, Sementara Inklusi Finansial Masih Didominasi oleh Laki-laki? Sumber: Pinterest

Memasuki abad 21, keterampilan masyarakat agar terhindar dari paradoks utopia perekenomian maupun kesejahteraan sosial semakin mengalami tantangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdasarkan fakta tersebut tentunya semakin mendorong pemerataan literasi keuangan Indonesia. Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2021-2025 yang diluncurkan OJK menjadi suatu blueprint yang menandakan kedaulatan Indonesia untuk menanggulangi permasalahan literasi keuangan Indonesia.

Dilansir pihak OJK, terdapat ragam kegiatan yang diluncurkan untuk meningkatkan literasi keuangan Indonesia, seperti dalam lingkup pendidikan yaitu penerbitan buku literasi keuangan serta pemanfaatan Learning Management System (LMS) berupa topik Edukasi Keuangan.

Upaya ini juga terekam pada data yang mengungkapkan bahwa peningkatan literasi keuangan Indonesia meningkat per 2022 mencapai 49,68% dibandingkan per 2019 sebanyak 38,03%.

“Kemampuan mengelola keuangan adalah essential life skill yang harus dimiliki siapapun” jelas Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Frederica Widyasari Dewi pada acara penandatanganan kerjasama antara OJK dengan Kemenko Perekonomian serta Prakerja (04/02/2024).

Pernyataan Frederica tersebut nyatanya berhubungan dengan publikasi UNICEF pada 2021 bahwa literasi keuangan telah menjadi suatu keterampilan dasar di abad 21.

Indikator-indikator kunci yang dilansir OJK mengenai literasi keuangan yaitu pengetahuan, keterampilan, dan motivasi individu dalam mengambil keputusan dan pengelolaan keuangan sehingga tercapai suatu peningkatan kualitas pada kesejahteraan keuangan masyarakat.

Uniknya, data mengenai literasi keuangan per 2022 menyatakan bahwa literasi keuangan Indonesia berdasarkan gender “diketuai” oleh perempuan, mencapai 50,33%. Meskipun data ini berbanding tipis 1,28% dengan persentase laki-laki dalam berliterasi keuangan, sebanyak 49,05% tetapi OJK tetap menegaskan bahwa fakta ini untuk pertama kalinya terjadi secara nasional dalam suatu kurun waktu.

Frederica menyampaikan, “Capaian literasi keuangan terhadap perempuan tentunya juga dilatarbelakangi oleh sasaran prioritas literasi keuangan yaitu perempuan itu sendiri. Kami meyakini pentingnya peran perempuan dalam pengelolaan keuangan keluarga dan sosialisasi pendidikan keuangan di keluarga kepada anak anak”.

Namun, fakta ini masih disertai “keunikan” lainnya yaitu deklarasi terhadap capaian inklusi keuangan perempuan yang masih “tertinggal” sebanyak 2,4% berupa 83,88% dibandingkan capaian inklusi laki-laki sebanyak 86,28%. Inklusi keuangan menurut World Bank berarti suatu kesempatan aksesibilitas dalam bentuk kepemilikan akun keuangan, pelayanan keuangan, dan produk keuangan lainnya.

Georgetown Institute for Women, Peace, and Security mendeklarasikan melalui data yang dipublikasikannya bahwa Indonesia masih menduduki peringkat 82 dari 177 dengan skor indeks sebanyak 0,7 untuk status inklusivitas, salah satu indikatornya yaitu inklusi keuangan.

Frederica menyampaikan optimismenya, “Transformasi digital meningkatkan inklusi keuangan yang bertanggungjawab, untuk meningkatkan perekonomian Indonesia, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mengurangi gap kemiskinan di Indonesia”. Faktanya, data indeks inklusi oleh Georgetown Institute for Women, Peace, and Security menyatakan penggunaan telepon genggam oleh wanita di Indonesia hanya naik dari 69,5% pada 2017 ke 71% di 2023.

Sekar Putih Djarot dalam diskusi bertemakan “Menggapai Kesetaraan Gender dalam Fintech” menegaskan bahwa rendahnya inklusi keuangan pada perempuan masih berhubungan dengan tingginya kondisi mata pencaharian perempuan didominasi oleh pendapatan sebanyak 25% lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Situasi ini perlu menjadi “alarm” bagi kepemimpinan maupun sistem pemerintahan Indonesia untuk tidak hanya memandang dan menjadikan perempuan hanya sebagai tokoh psikologis sosial-masyarakat yang hanya berhak dan berkehendak melakukan desiminasi sosial tetapi juga optimis dapat berperan ganda sebagai pemegang otoritas dengan memberikan peningkatan aksesibilitas, termasuk keuangan, ekonomi, maupun faktor sosial lainnya.

Penulis: Andini Rizka Marietha
Editor: Iip M Aditiya

Konten Terkait

Melihat Perkembangan Layanan Perbankan Digital di Indonesia, Mulai dari Uang Elektronik Hingga QRIS

Saat ini, perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah industri perbankan. Seiring berkembangnya intenet, layanan ini semakin diminati masyarakat.

Anggaran KIP Kuliah 2024 Rp13,9 Triliun, Berapa Penerimanya?

Bantuan pembiayaan kuliah harus melindungi mahasiswa dari jerat hutang.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook