Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diciptakan untuk untuk melaksanakan beberapa fungsi, di antaranya adalah menyediakan layanan penting untuk masyarakat, mengelola sumber daya strategis, hingga memperoleh keuntungan yang nantinya akan digunakan kembali untuk kepentingan rakyat dan negara.
Menurut bidangnya, BUMN terdiri atas banyak lapangan usaha, seperti keuangan dan asuransi, pertambangan, konstruksi, pertanian, dan lain-lain. Seluruh lapangan usaha dijalankan dengan sistem dan mekanisme yang berbeda satu sama lain, menyesuaikan lini usaha yang dioperasikan.
Pada periode 2024, perolehan laba bersih BUMN dari seluruh lapangan usaha tercatat mencapai Rp322,18 triliun, turun 1,08% dari tahun sebelumnya. Kementerian BUMN bersama Kementerian Keuangan RI telah merilis detail perolehan laba bersih BUMN pada 2024 menurut jenis lapangan usahanya. Simak datanya berikut ini.
Baca Juga: Lapangan Usaha dengan Rata-Rata Upah Tertinggi dan Terendah per Agustus 2025
Sektor Keuangan & Asuransi Capai Laba Tertinggi
Berdasarkan data, sektor keuangan dan asuransi memperoleh keuntungan bersih tertinggi dengan total mencapai Rp153,03 triliun. Meski demikian, perolehan ini turun sebesar 0,15% dari tahun 2023.
Jika diperhatikan, sektor keuangan dan asuransi tidak hanya menjadi yang tertinggi pada 2024, melainkan juga 2023. Beberapa contoh BUMN yang menjalankan usaha di bidang ini adalah perbankan seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, dan bank lainnya.
Sementara itu, untuk bidang asuransi terdapat PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), PT Jaminan kredit Indonesia (Jamkrindo), dan lain-lain.
Selanjutnya, sektor pertambangan dan penggalian menempati posisi kedua dengan capaian keuntungan sebesar Rp95,89 triliun, turun 5,21% dari tahun sebelum. Nama-nama perusahaan besar seperti PT Pertamina, PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Timah Tbk adalah beberapa contoh BUMN yang termasuk dalam bidang ini.
Kemudian, lapangan usaha akomodasi, makan minum, informasi dan komunikasi berhasil mendapat keuntungan sebanyak Rp33,32 triliun, turun Rp0,06 triliun. Lalu, bidang pengadaan listrik dan gas mencatatkan laba Rp18,04 triliun dan industri pengolahan Rp7,31 triliun.
Di antara kelima sektor dengan laba tertinggi, bidang industri dan pengolahan jadi satu-satunya yang mengalami peningkatan laba. Kondisi ini terjadi karena industri pengolahan menghadapi masalah dan tantangan yang berbeda dengan keempat sektor lainnya.
Lapangan usaha seperti keuangan, pertambangan, serta listrik dan gas sering kali dihadapkan pada kebijakan pemerintah yang kemudian berdampak pada pembatasan penetapan harga jual produk dan jasa. Selain itu, tekanan harga dan pasar global juga turut memengaruhi capaian laba perusahaan.
Di sisi lain, sektor industri pengolahan sifatnya lebih stabil dalam hal harga dan tidak terlalu terpengaruh dengan gejolak ekonomi global. Subsidi dari pemerintah yang langsung menyasar operasional perusahaan juga semakin menambah potensi keuntungan yang diperoleh.
Adapun, capaian laba dari sektor lainnya yakni bidang perdagangan, reparasi kendaraan, transportasi, dan pergudangan (Rp7,08 triliun), pertanian, kehutanan, dan perikanan (Rp3,6 triliun), konstruksi (Rp2,6 triliun), real estat, profesional, ilmiah, dan teknis (Rp1,03 triliun), dan diikuti sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang (Rp0,28 triliun).
Baca Juga: Indeks Ketahanan Energi Indonesia Kembali Naik pada 2024
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/22/9cf01fcb87326af8b250e21f/statistik-keuangan-badan-usaha-milik-negara-dan-badan-usaha-milik-daerah-2024.html
Penulis: NAUFAL ALBARI
Editor: Editor