Ini Sederet Masalah yang Kerap Dihadapi Usaha Pertanian Perorangan

Menurut survei BPS, masalah utama yang paling banyak dihadapi usaha pertanian perorangan adalah serangan hama penyakit, capaiannya 55,03%.

Ini Sederet Masalah yang Kerap Dihadapi Usaha Pertanian Perorangan Ilustrasi Pertanian | Tom Fisk/Pexels
Ukuran Fon:

Petani memegang peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan di Indonesia. Melalui kerja keras mereka, kebutuhan pangan masyarakat di berbagai daerah dapat terpenuhi, sekaligus menopang stabilitas pangan nasional. Kontribusi para petani inilah yang menjadi fondasi bagi upaya Indonesia menuju ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Dalam praktiknya, usaha pertanian bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani. Dalam prosesnya, para petani banyak menghadapi tantangan sebelum pada akhirnya bisa memperoleh hasil panen.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis hasil survei mengenai ragam masalah yang dihadapi usaha pertanian perorangan pada 2024. Simak temuannya berikut ini.

Baca Juga: 7 Provinsi dengan Produksi Beras Terbanyak 2025

Hama Penyakit Jadi Masalah Utama

Ragam Permasalahan yang Dihadapi Usaha Pertanian Perorangan
Ragam Permasalahan yang Dihadapi Usaha Pertanian Perorangan | Goodstats

Berdasarkan data dari Survei Ekonomi Pertanian 2024, jenis permasalahan yang paling banyak dialami Usaha Pertanian Perorangan (UTP) adalah serangan hama penyakit, capaiannya 55,03%.

Sejak dulu hingga sekarang, hama memang kerap menjadi musuh utama bagi petani. Beberapa jenis hama yang umum ditemui di antaranya adalah tikus sawah, wereng, ulat grayak, dan lainnya. Keberadaan hewan-hewan ini membuat tanaman menjadi rusak dan pada akhirnya terancam gagal panen.

Selanjutnya, 46,39% responden menghadapi permasalahan berupa sulitnya akses terhadap barang input, menandakan bahwa problema utama para petani masih berasal dari awal proses produksi.

Lebih lanjut, faktor alam juga menjadi tantangan utama dalam menjalankan usaha pertanian. Agar bisa tumbuh optimal, tanaman memerlukan kondisi alam yang mendukung. Tumbuhan memerlukan pasokan sinar matahari dan air yang cukup untuk dapat menghasilkan panen yang berkualitas. Dalam banyak kasus, biasanya gagal panen terjadi karena porsi sinar matahari yang terlalu banyak (kekeringan) atau curah hujan yang begitu tinggi.

Setelahnya, 34,82% publik petani mengaku bahwa keterbatasan modal masih menjadi hambatan, menunjukkan bahwa beragam bantuan subsidi yang selama ini pemerintah berikan belum sepenuhnya menjawab permasalahan.

Kemudian, 15,82% responden mengeluhkan sempitnya lahan pertanian yang tersedia. Tak dapat dipungkiri bahwa seiring berjalannya waktu, lahan pertanian di berbagai daerah Indonesia mulai beralih fungsi menjadi bangunan-bangunan komersial.

Lalu, permasalahan lainnya yang juga dialami oleh UTP meliputi sulitnya akses ke infrastruktur (14,89%), sulitnya akses kredit (5,76%), dan sulitnya akses sarana produksi.

Adapun survei ini dilakukan oleh BPS dengan sebaran unit UTP yang cenderung mengelompok di suatu permukiman. Oleh karena itu, desain stratified two stage sampling dipilih agar lebih sesuai dan efisien.

Baca Juga: Hanya 0,07% Petani Indonesia yang Tergolong Kaya

Sumber:

https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/31/6864fb68ddf00383620cd053/analisis-isu-terkini-2025-sosial-ekonomi-pertanian.html

Penulis: NAUFAL ALBARI
Editor: Editor

Konten Terkait

Skor 2-0 Hasil Pertandingan Persita vs Borneo FC, Pendekar Cisadane Raih Victory di Pertemuan Sembilan

Persita mengemas poin penuh di kandang lawan Borneo FC.

Head-to-Head PSM vs Bali United, Serdadu Tridatu Pegang Kendali Sejak 2023

PSM kesulitan kalahkan Bali United dalam beberapa pertemuan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook