Menjelang bulan puasa 2026, harga daging sapi di pasar modern menjadi perhatian utama masyarakat seiring meningkatnya kebutuhan konsumsi.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia menunjukkan adanya dinamika harga yang dipengaruhi oleh faktor pasokan, permintaan musiman, serta kebijakan stabilisasi pangan.
Pergerakan Harga Daging Sapi di Pasar Modern Jelang Puasa
Berdasarkan data PIHPS periode 2 Februari 2026, harga daging sapi di pasar modern menunjukkan pergerakan yang cenderung tinggi menjelang bulan puasa.
DKI Jakarta menjadi provinsi dengan harga daging sapi tertinggi, yakni mencapai Rp208.400 per kilogram.
Tingginya harga di ibu kota mencerminkan kuatnya permintaan masyarakat urban serta tingginya biaya distribusi dan operasional pasar modern.
Papua menempati posisi kedua dengan harga Rp200.950 per kilogram, yang dipengaruhi oleh faktor geografis dan keterbatasan pasokan.
Provinsi tujuan wisata seperti Bali juga mencatat harga relatif tinggi sebesar Rp191.300, seiring meningkatnya konsumsi dari sektor pariwisata dan rumah tangga.
Wilayah Indonesia Timur lainnya seperti Maluku dan Kalimantan Timur berada di kisaran Rp190 ribu per kilogram, menunjukkan pola harga yang hampir seragam.
Di Pulau Jawa, Jawa Tengah dan Jawa Barat mencatat harga daging sapi masing-masing Rp187.200 dan Rp180.250 per kilogram.
Harga yang relatif lebih rendah di Jawa Barat mengindikasikan distribusi pasokan yang lebih stabil dibandingkan wilayah lain.
Nusa Tenggara Barat dan Lampung berada di tengah daftar dengan harga di atas Rp183 ribu per kilogram.
DI Yogyakarta menjadi provinsi dengan harga terendah dalam sepuluh besar, yaitu Rp179.550 per kilogram, meski tetap tergolong tinggi.
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa menjelang puasa, harga daging sapi di pasar modern cenderung meningkat dan berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Faktor yang Memengaruhi Harga Daging Sapi Menjelang Ramadan
Menjelang Ramadan, harga daging sapi dipengaruhi oleh peningkatan permintaan konsumsi masyarakat yang biasanya terjadi secara musiman.
Ketersediaan pasokan menjadi faktor penting, di mana proyeksi stok nasional yang mencukupi dan bahkan surplus berperan dalam menahan lonjakan harga.
Kebijakan pemerintah melalui penetapan harga sapi hidup Rp55.000 per kilogram serta pengaturan Harga Acuan Penjualan (HAP) turut menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar mempengaruhi biaya impor sapi hidup, khususnya dari Australia, yang berdampak pada struktur biaya produksi.
Selain itu, faktor distribusi, kondisi geografis antarwilayah, dan biaya operasional pasar modern juga menyebabkan perbedaan harga daging sapi di berbagai provinsi menjelang Ramadan.
Dampak Kenaikan Harga Daging Sapi terhadap Konsumen
Kenaikan harga daging sapi menjelang Ramadan berpotensi menekan daya beli konsumen, terutama rumah tangga berpendapatan menengah ke bawah.
Harga yang relatif tinggi di pasar modern membuat sebagian masyarakat harus mengurangi porsi pembelian atau beralih ke sumber protein lain yang lebih terjangkau.
Perbedaan harga antar provinsi juga memunculkan ketimpangan akses, di mana konsumen di wilayah dengan biaya distribusi tinggi menghadapi beban pengeluaran yang lebih besar.
Di sisi lain, stabilisasi harga melalui kebijakan pemerintah membantu menahan lonjakan harga agar tidak melampaui batas kewajaran. Meski demikian, fluktuasi biaya impor dan permintaan musiman tetap membuat konsumen perlu menyesuaikan pola belanja selama Ramadan.
Kondisi ini mendorong masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih pasar dan jenis daging yang dibeli.
Dengan pengawasan harga dan kecukupan pasokan yang terus dijaga, diharapkan kebutuhan daging sapi selama Ramadan hingga Idulfitri tetap dapat terpenuhi secara terjangkau bagi masyarakat.
Baca Juga: 10 Provinsi Penghasil Daging Terbanyak 2025, Jawa Timur Juaranya
Sumber:
https://www.bi.go.id/hargapangan
Penulis: Angel Gavrila
Editor: Editor