Memasuki 2026, ketidakpastian ekonomi masih menjadi lanskap utama yang dihadapi masyarakat Indonesia. Ketegangan geopolitik global yang belum mereda, arah kebijakan suku bunga yang terus berubah, serta tekanan inflasi yang kembali menguat membuat prospek ekonomi sulit diprediksi. Di dalam negeri, dinamika politik dan kebijakan fiskal turut menambah kehati-hatian pelaku ekonomi, mulai dari rumah tangga hingga investor.
Dalam situasi yang serba tak pasti ini, cara masyarakat memandang dan mengelola aset pun mengalami pergeseran. Instrumen yang sebelumnya menjanjikan imbal hasil tinggi kini diperlakukan dengan lebih waspada, seiring meningkatnya risiko volatilitas.
Menurut survei Populix, emas jadi aset yang paling dipercaya responden Indonesia di tengah kondisi penuh ketidakpastian. Sebanyak 80% memilih emas sebagai aset yang nilainya tidak berubah bahkan di tengah ketidakpastian, jauh memimpin di atas aset dengan volatilitas tinggi.
Pada awal 2026 ini, harga emas bahkan mencapai rekor tertingginya secara global maupun domestik, mencapai US$4.900 per ons, membuat banyak investor lebih memilih menginvestasikan asetnya dalam bentuk emas sebagai aset safe-haven.
Baca Juga: Negara dengan Investasi Terbesar di Indonesia
Selain emas, 7% responden mempercayakan asetnya dalam bentuk tunai, jauh lebih rendah dibanding peminat emas. Properti bertengger di urutan ketiga aset paling terpercaya dengan capaian 6%, diikuti saham dengan 3%, obligasi sebesar 2%, mata uang kripto dengan 1%, dan mata uang asing sebesar 1%.
Menariknya, tatkala menghadapi situasi ketidakpastian, publik Indonesia memilih untuk lebih berani mencari investasi dengan return yang lebih tinggi. Sebanyak 44% responden mengaku ingin mencari investasi yang lebih menguntungkan apabila kondisi ekonomi sedang tidak menentu.
Meski demikian, 30% responden lebih memilih menjaga aset yang dimiliki saat ini. Sekitar 13% memutuskan untuk mengurangi risiko dengan membatasi investasi, sedangkan 13% lainya memilih menunggu dan mengamati situasi. Data di atas menunjukkan bahwa sekalipun berada dalam kondisi ketidakpastian, kebanyakan publik Indonesia lebih memilih mengambil risiko besar guna memperoleh keuntungan yang besar pula.
Adapun survei ini melibatkan 2.373 responden pada 25-27 Januari 2026 secara daring melalui PopPoll.
Aman Inflasi, Bukan Berarti Bebas Risiko
Kementerian Keuangan menegaskan bahwa walaupun emas adalah aset yang tergolong aman dari inflasi, investasi emas bukan berarti sepenuhnya bebas dari risiko.
Di Indonesia, sejumlah platform digital untuk transaksi emas mencatatkan lonjakan yang signifikan terutama di kalangan pemuda berusia 20-35 tahun, menegaskan semakin tingginya minat terhadap aset satu ini.
Emas memang memiliki nilai yang stabil terhadap inflasi, sehingga ideal untuk investasi jangka panjang. Tidak hanya itu, likuiditasnya yang tinggi membuatnya mudah dijual kapan saja, bahkan secara digital. Nilai awal investasi pun tidak harus besar, dengan modal Rp10.000 saja, siapa pun kini bisa membeli emas.
Namun, emas tidak memberi dividen, sehingga keuntungan sepenuhnya hanya diperoleh dari selisih harga beli dan jual. Risiko kehilangan juga tinggi, termasuk pada emas digital, sehingga investor harus pintar-pintar memilih platform. Emas juga tidak cocok untuk investasi jangka pendek, keuntungan optimal biasa baru terasa setelah 3-5 tahun.
Untuk itu, pemilihan instrumen investasi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan. Untuk investasi jangka panjang, emas bisa jadi pilihan ideal, namun tidak untuk jangka pendek.
Baca Juga: 10 Produk Investasi yang Paling Diminati Indonesia pada 2025
Sumber:
https://www.instagram.com/p/DUDHWkTkgSq/?hl=en&img_index=3
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor