Rata-rata pengeluaran per kapita merupakan indikator penting yang menggambarkan seberapa besar pengeluaran setiap individu di suatu wilayah dalam periode tertentu. Oleh karena itu, mengetahui pengeluaran per kapita pada tingkat provinsi di Indonesia menjadi krusial karena dapat menunjukkan perbedaan biaya hidup serta kesenjangan kesejahteraan antar daerahnya.
Baca Juga: Kota dengan Standari Hidup Tertinggi di Indonesia
Grafik tersebut menampilkan sepuluh provinsi dengan rata-rata pengeluaran per kapita tertinggi dalam sebulan pada tahun 2025. Adapun komponen pengeluaran per kapita ini merupakan gabungan dari dua kelompok utama, yakni pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan.
DKI Jakarta menempati posisi teratas dengan pengeluaran sebesar Rp2.962.412, diikuti oleh Kepulauan Riau sebesar Rp2.468.319, dan Kalimantan Timur sebesar Rp2.117.354.
Selanjutnya, Bali mencatat pengeluaran Rp1.964.618, disusul Papua Pegunungan sebesar Rp1.941.997 dan DI Yogyakarta sebesar Rp1.843.212.
Di sisi lain, Papua Barat Daya memiliki rata-rata pengeluaran Rp1.816.875 dan Papua sebesar Rp1.810.767. Kepulauan Bangka Belitung mencatat Rp1.765.551, sementara Banten berada di posisi terakhir dalam daftar ini dengan Rp1.750.546.
Perbedaan nilai ini mencerminkan variasi tingkat kesejahteraan dan biaya hidup antarwilayah, yang mana daerah perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi cenderung memiliki pengeluaran per kapita yang lebih besar. Terutama DKI Jakarta yang berada di posisi puncak, mencerminkan tingginya mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakatnya.
Hal ini sejalan dengan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta yang menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Jakarta pada 2025 meningkat menjadi 5,21% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini salah satunya dipengaruhi oleh pengeluaran masyarakat, yang mana konsumsi rumah tangga mendominasi kontribusinya hingga 62,8%.
Provinsi di Luar Pulau Jawa Dominasi Daftar, Apa Penyebabnya?
Data menunjukkan bahwa mayoritas daerah yang masuk ke dalam daftar provinsi dengan pengeluaran per kapita tertinggi berasal dari luar Jawa. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya hidup di daerah-daerah tersebut seperti mahalnya biaya logistik dan distribusi. Oleh karena itu, pengiriman barang dari pusat produksi yang kebanyakan berasal dari Pulau Jawa menjadi sangat mahal.
Tidak hanya itu, terbatasnya infrastruktur yang memadai seperti sarana transportasi yang belum efisien membuat distribusi barang menjadi terhambat dan memicu kenaikan harga. Hal ini berbeda dengan Pulau Jawa yang memiliki infrastruktur lebih lengkap dan distribusi barang lebih lancar, sehingga membuat harga kebutuhan pokok cenderung stabil.
Fenomena ini menjelaskan bahwa tingginya pengeluaran penduduk di suatu wilayah tidak selalu mencerminkan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Justru hal ini lebih sering disebabkan oleh tingginya biaya hidup di daerah tersebut.
Baca Juga: Pengeluaran per Kapita Laki-Laki Lebih Tinggi daripada Perempuan
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/V1ZKMWVrSTNOek5ZZUZOcVZEZGFValJvV0hWalFUMDkjMyMwMDAw/rata-rata-pengeluaran-per-kapita-sebulan-makanan-dan-bukan-makanan-di-daerah-perkotaan-dan-perdesaan-menurut-provinsi--rupiah-.html?year=2025
Penulis: Silmi Hakiki
Editor: Editor