Menjelang bulan Ramadan, masyarakat di berbagai belahan dunia umumnya menyambutnya dengan penuh antusiasme. Beragam persiapan dilakukan, mulai dari menghias ruang publik hingga membeli aneka makanan dan minuman dalam jumlah lebih banyak sebagai stok selama sebulan berpuasa.
Fenomena serupa juga terlihat di Indonesia. Pola konsumsi dan perilaku belanja masyarakat mengalami perubahan yang cukup signifikan, khususnya di kalangan konsumen Muslim yang mempersiapkan kebutuhan Ramadan dengan lebih intens dibanding bulan-bulan lainnya.
Melansir laporan Populix bertajuk Perilaku Belanja di Bulan Ramadan 2025, sebanyak 34% konsumen Muslim cenderung membeli makanan dan minuman dalam jumlah yang besar di awal bulan puasa.
Adapun, survei ini melibatkan 1.119 responden dengan enam agama yang berbeda, mayoritas beragama Islam (89% responden). Sementara, periode pengumpulan data dilakukan dari 6-9 Desember 2024.
Secara keseluruhan, jumlah responden Muslim yang membeli lebih banyak makanan dan minuman selama Ramadan berjumlah 869 orang. Selama bulan puasa, mereka membeli lebih banyak bahan makanan pokok, seperti beras, gula, minyak, mentega. Kondisi ini menegaskan bahwa kebutuhan pangan pokok tetap mendominasi pola belanja mayoritas publik.
Baca Juga: Industri Makanan Jadi Tulang Punggung IKM Nasional, Capai 48 Ribu Unit pada 2024
Di urutan kedua, sebanyak 82% responden memprioritaskan membeli camilan atau makanan ringan untuk menu berbuka puasa. Kemudian, minuman kemasan, seperti teh, sirup, dan jus juga dibeli dalam jumlah banyak oleh 64% responden.
Selanjutnya, demi menjaga keseimbangan cairan tubuh, sebanyak 61% responden membeli produk protein, seperti daging sapi, ayam, dan ikan sebagai salah satu sumber energi untuk menjalani aktivitas di jam-jam berpuasa.
Tak ketinggalan, sebanyak 42% responden yang mengedepankan kepraktisan, membeli lebih banyak makanan siap saji atau frozen food selama bulan puasa.
Pembelian produk dalam jumlah besar oleh konsumen Muslim tidak terjadi tanpa alasan. Sebanyak 76% responden mengamankan persediaan makanan dan minuman untuk keperluan berbuka puasa dan sahur.
Uniknya, 61% responden mengaku melakukan pembelian dalam jumlah besar untuk persiapan menyambut Lebaran. Lalu, 44% responden lainnya berencana untuk membagikan makanan dan minuman kepada orang lain.
Sisanya, sebanyak 39% responden mengaku kalap membeli karena faktor diskon dan 20% lainnya melakukan pembelian dalam jumlah besar karena kebiasaan tahunan.
Kondisi Harga Pangan Jelang Ramadan 2026
Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda memperkirakan harga komoditas pangan, seperti daging ayam, telur, cabai, hingga sejumlah bahan pokok lainnya akan naik mendekati bulan Ramadan.
Ia menerangkan bahwa kenaikan harga komoditas yang mudah bergejolak juga akan naik menjelang Ramadan karena stok pangan terbagi dengan program pemerintah (Makan Bergizi Gratis). Pada awal tahun, program tersebut biasanya belum siap, sehingga permintaan meningkat cepat sementara pasokannya belum mencukupi.
Selain itu, cuaca ekstrem yang terjadi belakangan dapat memicu gagal panen. Akibatnya, jumlah pasokan terganggu, terutama pada komoditas hortikultura, seperti cabai.
"Pangan seperti daging ayam dan telur ayam harus diwaspadai kenaikannya. Begitu juga dengan cabai ketika cuaca tidak mendukung," ujar Nailul Huda, pada Selasa (17/2/2026), mengutip IDN Times.
Saat ini, pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas harga melalui bauran kebijakan moneter, fiskal, dan sektoral dengan strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Baca Juga: Provinsi dengan Harga Cabai Rawit Merah Termahal 2026, Teratas hampir Rp100 Ribu!
Sumber:
https://www.instagram.com/p/DUsYtfzEryV/?img_index=3
Penulis: Faiza Az Zahra
Editor: Editor