Belakangan ini, isu terkait toxic relationship semakin ramai dibahas oleh publik di sejumlah platform. Toxic relationship merupakan hubungan yang tidak sehat karena perilaku-perilaku toxic salah satu pihak terhadap korban yang mengakibatkan gangguan kesehatan mental atau bahkan fisik korban.
Hubungan toxic tidak selalu dipicu oleh kekerasan fisik, melainkan juga melalui hal-hal yang dianggap sepele, seperti komentar merendahkan, sikap pasif-agresif, manipulasi, atau pengabaian emosional. Apabila dibiarkan terus-menerus, korban yang mendapatkan perlakuan toxic akan mengalami stres berat, kecemasan, hingga depresi.
Seiring berjalannya waktu, publik semakin semakin sadar dan peduli terhadap pentingnya kesehatan mental. Hal ini dikarenakan meningkatnya pembahasan terkait isu toxic relationship, baik dari pengalaman korban yang berani bersuara melalui media sosial ataupun melalui edukasi dari profesional pada kanal media sosial.
Perlu digarisbawahi bahwa toxic relationship, tidak hanya terjadi pada hubungan romantis, tetapi juga bisa terjadi pada relasi pertemanan atau bahkan keluarga. Survei yang dilakukan oleh Populix melalui PopPoll yang melibatkan 6.446 responden pada 15-21 Januari mengungkapkan sejumlah bentuk perilaku toxic yang sering terjadi pada hubungan pribadi responden.
Baca Juga: 40% Kekerasan terhadap Perempuan di Ranah Personal Berupa Kekerasan Psikis
Kekerasan verbal merupakan bentuk perilaku toxic yang sering diterima oleh 68% responden. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas responden sering menerima penghinaan secara verbal yang berpotensi menjatuhkan mental korban.
Kemudian, sebanyak 13% responden mengaku pernah menerima kekerasan fisik. Kekerasan psikologis juga diterima oleh 11% responden, menyangkut sikap pengontrolan berlebih yang mempermainkan proses kognitif korban, seperti pengambilan keputusan pribadi.
Bentuk perilaku lainnya yang juga diterima oleh responden antara lain, kekerasan seksual, finansial, dan digital dengan persentase masing-masing sebanyak 3%.
Media atau Platform Paling Dipercaya Korban
Meskipun isu toxic relationship tergolong masalah pribadi, mayoritas responden sebanyak 63% justru lebih memilih media sosial untuk membahas permasalahan toxic relationship.
Sementara itu, sebanyak 22% responden memilih untuk membahas permasalahan tersebut kepada profesional, seperti psikolog atau konselor. Lalu, 10% responden memilih untuk curhat dan mencari saran di komunitas dan 6% responden memilih untuk berdiskusi di website. Sisanya, sebanyak 1% memilih untuk curhat dan mencari saran pada media/platform lainnya.
Langkah Menangani Toxic Relationship
Mengutip dari Halodoc, korban yang terjebak dalam toxic relationship bisa melakukan sejumlah langkah untuk mendapatkan hidup yang lebih bermakna. Mulai dari menyadari adanya masalah dalam hubungan, mencari pertolongan dan dukungan kepada orang terdekat yang dipercaya, membuat rencana keluar dari hubungan yang toxic, fokus membangun kemandirian, hingga meluangkan waktu untuk merawat diri sendiri.
Baca Juga: Hubungan Korban dan Pelaku Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan di Ruang Publik
Sumber:
https://www.instagram.com/p/DUAo7ykEhfw/?img_index=1
Penulis: Faiza Az Zahra
Editor: Editor