Nasional

Benarkah Lulusan Manajemen Mendominasi Pengangguran di Indonesia?

Benarkah lulusan manajemen paling banyak menganggur? Simak 5 jurusan dengan tingkat pengangguran tertinggi dan tren pengangguran lulusan perguruan tinggi.

Benarkah Lulusan Manajemen Mendominasi Pengangguran di Indonesia?

Ilustrasi Pencari Kerja | Arie Basuki/Jakarta Pusat.go.id

Isu pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi sering kali menjadi perbincangan hangat. Baru-baru ini, laporan dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkap data yang cukup mengejutkan mengenai jurusan-jurusan penyumbang pengangguran terbanyak di Indonesia. Namun, apakah angka ini benar-benar mencerminkan buruknya kualitas lulusan dari jurusan tersebut?

Manajemen Menjadi Jurusan yang Cakupannya Paling Besar

Berdasarkan laporan Labor Market Brief yang dirilis LPEM FEB UI pada Juli 2026, lulusan Manajemen menempati posisi teratas sebagai penyumbang angka pengangguran terbanyak dengan proporsi mencapai 10,3% dari total sarjana yang belum bekerja.

Fenomena ini disusul oleh lulusan Hukum (9%), Ekonomi (8,7%), Pendidikan (7,1%), dan Akuntansi (5,1%). Secara akumulatif, lima bidang studi ini menyumbang sekitar 40% dari total pengangguran berpendidikan S1 di Indonesia.

Penting untuk dipahami bahwa tingginya angka ini tidak serta-merta menandakan jurusan Manajemen memiliki prospek kerja terburuk. Laporan tersebut menjelaskan bahwa pola ini lebih berkaitan dengan besarnya basis lulusan dan cakupan program studi yang sangat luas.

Manajemen adalah bidang yang generalis, mencakup pengelolaan organisasi, keuangan, pemasaran, hingga sumber daya manusia, yang membuat program studi ini tersedia di hampir setiap universitas di Indonesia.

Karena populasinya yang sangat masif, jumlah lulusannya yang masuk ke pasar kerja pun jauh lebih tinggi dibandingkan jurusan spesifik lainnya.

Baca Juga: Seberapa Optimis Publik terhadap Pendidikan Indonesia?

1 Juta Pengangguran Lulusan Sarjana

Tantangan di dunia kerja memang nyata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan fluktuasi pada Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk kategori lulusan universitas (S1) dalam lima tahun terakhir. Berikut adalah tren TPT lulusan universitas yang perlu kita perhatikan:

Data Pengangguran Terbuka Periode 2021-2025 | Goodstats
Data Pengangguran Terbuka Periode 2021-2025 | Goodstats

Angka-angka pada data di atas ini mencerminkan dinamika pasar kerja yang kompetitif selama 5 tahun ke belakang. Meski sempat ada perbaikan, tren peningkatan pengangguran terbuka dalam tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja profesional belum sepenuhnya mampu mengimbangi lonjakan jumlah lulusan baru setiap tahunnya.

Kesenjangan ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemangku kebijakan untuk membuka lapangan kerja formal sebanyak mungkin, termasuk bagaimana memperbaiki kualitas pendidikan kita agar lebih relevan, seperti yang sering dibahas dalam urgensi anggaran pendidikan.

Mengapa Lulusan Perguruan Tinggi Masih Menghadapi Pengangguran?

Fenomena ini dipicu oleh beberapa faktor kompleks:

  1. Kesenjangan Kompetensi (Skill Mismatch): Kurikulum di perguruan tinggi terkadang belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan industri yang berubah cepat.
  2. Pasar Kerja yang Kompetitif: Di kota besar, lulusan harus bersaing tidak hanya dengan sesama lulusan lokal, tetapi juga dengan pendatang berpendidikan tinggi dari daerah lain.
  3. Persaingan Antar-Disiplin: Lulusan dari rumpun bisnis (Manajemen, Ekonomi, Akuntansi) seringkali bersaing untuk posisi yang sama, sehingga menciptakan persaingan yang lebih ketat dibandingkan bidang spesialis.
  4. Kurangnya Pengalaman Praktis: Minimnya program magang atau keterlibatan industri selama masa studi membuat lulusan baru kurang siap secara praktis saat terjun ke dunia kerja.

Publik pun kerap menyoroti masalah ini, menunjukkan adanya optimisme yang beragam terkait kualitas pendidikan kita saat ini.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Tingkat Pengangguran Ini?

Mengatasi masalah ini memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak:

  1. Adaptasi Kurikulum: Universitas perlu lebih proaktif melakukan kerja sama dengan industri untuk menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
  2. Peningkatan Soft Skills & Sertifikasi: Mahasiswa didorong untuk mengambil sertifikasi profesi atau mengikuti pelatihan upskilling di luar mata kuliah wajib agar memiliki nilai tambah.
  3. Penguatan Magang: Program magang harus lebih dioptimalkan sebagai jembatan langsung antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
  4. Belajar dari Praktik Global: Mengadopsi standar pendidikan internasional, seperti yang dilakukan negara-negara dengan anggaran pendidikan tinggi, bisa menjadi referensi untuk perbaikan sistem di Indonesia.

Pada akhirnya, gelar sarjana bukanlah jaminan akhir. Di era yang sangat dinamis ini, kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi adalah kunci utama agar lulusan manajemen dan semua jurusan lainnya dapat bersaing di pasar kerja global.

Baca Juga: 10 Negara dengan Anggaran Pendidikan Paling Sedikit di Dunia, Indonesia Urutan Pertama

Sumber:

https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/Njc0IzI=/pengangguran-terbuka-menurut-pendidikan-tertinggi-yang-ditamatkan.html

Penulis: Fadhlan Firdaus Syafrudin Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?