Pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara, namun pemerataan guru masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Pemerintah terus berupaya mengatasi ketimpangan distribusi guru yang membuat sebagian daerah kelebihan tenaga pendidik, sementara daerah lain justru kekurangan.
Menurut Dirjen Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTKPG) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Nunuk Suryani, distribusi guru saat ini memang belum merata. Ketimpangan ini berdampak pada kualitas pembelajaran dan memperlebar kesenjangan pendidikan antarwilayah.
Data semester ganjil tahun ajaran 2025/2026 mencatat ada 3,47 juta guru yang terdaftar di Data Pokok Pendidikan (Dapodik), mencakup seluruh jenjang dari pendidikan dasar hingga menengah.
Namun, jumlah tersebut tidak tersebar secara merata di setiap daerah. Ada provinsi yang memiliki lebih dari 400 ribu guru, sementara daerah lain hanya sekitar 8 ribu. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa pemerataan distribusi guru masih menjadi pekerjaan besar dalam sistem pendidikan Indonesia.
Dirjen GTKPG menegaskan ketimpangan tersebut dapat menimbulkan berbagai persoalan. Daerah yang kelebihan guru menghadapi penumpukan tenaga pendidik, sementara wilayah yang kekurangan guru kesulitan memastikan proses belajar berjalan optimal. Ketimpangan ini perlu segera diatasi agar kualitas pendidikan di seluruh Indonesia dapat lebih setara. Berikut sejumlah fakta seputar distribusi guru di Indonesia saat ini.
Masih dilansir dari data resmi Dapodik, per semester ganjil tahun ajaran 2025/2026, provinsi di wilayah Papua mendominasi jajaran wilayah dengan guru paling sedikit. Tiga provinsi baru yakni Papua Pegunungan (8.046 guru), Papua Selatan (8.820 guru), dan Papua Barat Daya (10.368 guru) menempati posisi terbawah.
Provinsi dengan jumlah guru paling sedikit keempat diisi Papua Barat (10.911 guru), disusul Papua Tengah (11.075 guru), Kalimantan Utara (13.206 guru), dan Papua (16.434 guru).
Kepulauan Bangka Belitung menjadi satu-satunya provinsi dari Sumatra yang masuk daftar ini, bertengger di peringkat kedelapan dengan total 19.187 guru. Gorontalo dan Maluku Utara menutup daftar dengan masing-masing 19.242 dan 28.746 guru.
Adapun provinsi yang memiliki jumlah guru terbanyak di Indonesia berturut-turut berasal dari Pulau Jawa, yaitu Jawa Barat (493.987 guru), Jawa Timur (411.358 guru), dan Jawa Tengah (355.181 guru). Jika ditotal, jumlah keseluruhan guru di Jawa mencapai 1.532.764, jauh lebih banyak ketimbang jumlah guru di wilayah timur Indonesia.
Inklusivitas dan Pemerataan Jadi Tantangan
Setiap warga negara berhak memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang setara. Hingga saat ini, pemerintah terus mendorong pemerataan pendidikan inklusif, namun kesenjangan fasilitas dan tenaga pengajar masih terlihat di berbagai daerah. Papua Pegunungan menjadi satu-satunya provinsi yang belum memiliki sekolah luar biasa (SLB) maupun guru khusus disabilitas, sehingga akses belajar bagi penyandang disabilitas belum terpenuhi.
Keterbatasan tenaga guru juga menjadi tantangan. Dengan sekitar 8.000 guru untuk melayani 1.600 sekolah dan lebih dari 255 ribu peserta didik, beban pengajaran di Papua Pegunungan jauh lebih berat dibanding banyak provinsi lain. Di sisi lain, Pulau Jawa masih menjadi pusat konsentrasi tenaga pendidik.
Untuk mencapai kesetaraan pendidikan yang sesungguhnya, pemerintah perlu meninjau ulang distribusi guru nasional, terutama di daerah terpencil. Pemerataan fasilitas, penyediaan guru inklusi, serta jaminan akses belajar bagi anak disabilitas harus menjadi prioritas agar setiap warga negara bisa mendapatkan pendidikan yang setara.
Baca Juga: Gaji Guru Jadi Top Isu Pendidikan Indonesia versi Anak Muda
Sumber:
https://dapo.kemendikdasmen.go.id/guru
Penulis: Tiara Juwita
Editor: Editor