Youth NEET atau not in employment, education, and training merupakan istilah untuk menggambarkan anak muda yang tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan, dan tidak mengikuti pelatihan atau kursus. Istilah ini digunakan secara internasional oleh International Labour Organization (ILO), termasuk di Indonesia.
Kelompok usia yang masuk dalam kategori youth NEET adalah penduduk berumur 15–24 tahun. Di Indonesia, pengukuran NEET dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilaksanakan dua kali setiap tahun, yakni pada Februari dan Agustus.
Cara menghitungnya adalah dengan membandingkan jumlah penduduk usia muda yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan terhadap total seluruh penduduk usia muda.
Baca Juga: 19% Anak Muda Indonesia Tidak Punya Kesibukan, Sulawesi Utara Tertinggi
Pada data terbaru tahun 2025, angka youth NEET Indonesia tercatat sebesar 19,44%. Angka ini kembali menurun dibanding tahun sebelumnya yang berada di level 20,31% pada 2024.
Jika melihat tren beberapa tahun terakhir, angka youth NEET di Indonesia memang cenderung mengalami penurunan setelah sempat meningkat pada masa pandemi. Pada 2020, youth NEET tercatat sebesar 24,28%, kemudian turun menjadi 22,40% pada 2021, naik tipis ke 23,22% pada 2022, lalu kembali turun menjadi 22,25% pada 2023, 20,31% pada 2024, hingga 19,44% pada 2025.
Apakah Pemuda NEET = Pengangguran?
Staf BPS, Desta Febriana Indriyantika menjelaskan bahwa youth NEET berbeda dengan pengangguran usia muda.
“Jadi penduduk usia muda dikatakan menganggur, jika ia tidak mempunyai pekerjaan, sedang mencari pekerjaan, dan bersedia untuk bekerja,” jelas Desta dikutip GoodStats, Senin (24/2/2025).
Secara umum, pengangguran usia muda adalah penduduk berusia 15–24 tahun yang belum memiliki pekerjaan namun sedang mencari kerja, menyiapkan usaha atau pekerjaan baru, merasa putus asa dalam mencari pekerjaan, ataupun sudah memiliki pekerjaan atau usaha tetapi belum mulai bekerja.
“Jadi tidak semua youth NEET bisa dikatakan pengangguran, karena bisa jadi mereka memang tidak sedang aktif mencari pekerjaan, contohnya ibu rumah tangga yang masih muda, atau orang yang sedang menekuni hobi,” lanjut Desta.
Karena itu, tidak seluruh pemuda yang masuk kategori NEET dapat disebut sebagai pengangguran. Sebagian dari mereka mungkin memang tidak sedang berupaya mencari pekerjaan karena memiliki aktivitas atau pilihan lain.
Meski begitu, fenomena youth NEET tetap menjadi perhatian karena menunjukkan masih banyak penduduk usia muda yang belum terlibat dalam pendidikan, pelatihan, maupun dunia kerja. Padahal, kelompok usia ini seharusnya dapat menjadi bagian penting dalam memanfaatkan bonus demografi sebagai tenaga kerja potensial.
Kemunculan youth NEET sendiri dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti kesulitan memperoleh pekerjaan, keterbatasan ekonomi, akses pendidikan dan transportasi, kondisi disabilitas, hingga faktor sosial lainnya.
Baca Juga: Lapangan Kerja Jadi Isu Paling Krusial Menurut Generasi Muda Q1 2026
Sumber:
https://www.bps.go.id/en/statistics-table/2/MTE4NiMy/percentage-of-youth--aged-15-24-years--not-in-education--employment-or-training--neet-.html
https://www.instagram.com/reels/DGc1US7yTeW/
Penulis: izzul wafa
Editor: Editor