Keputusan pemilih dalam menentukan presiden dan wakil presiden umumnya dipengaruhi oleh informasi dan ingatan kolektif yang terbentuk dalam jangka panjang. Hal ini mendorong sejumlah tokoh politik untuk secara konsisten membangun citra publik melalui berbagai platform, mulai dari media sosial hingga kanal digital.
Strategi komunikasi ini dilakukan untuk memperkenalkan rekam jejak serta kapasitas figur kepada masyarakat. Secara elektoral, upaya tersebut merupakan langkah jangka panjang untuk menjaga tingkat dukungan, termasuk membuka peluang pencalonan pada pemilu mendatang.
Efektivitas dari strategi ini tercermin dalam hasil survei elektabilitas terbaru yang dirilis oleh Poltracking Indonesia bertajuk Evaluasi Kinerja Pemerintah & Program Prioritas Prabowo-Gibran 2026. Dalam survei tersebut, tingkat popularitas tokoh diukur menggunakan metode top of mind, di mana responden menyebutkan nama calon secara spontan tanpa diberikan daftar pilihan.
Calon Presiden dengan Elektabiltas Tertinggi
Baca Juga: Keyakinan terhadap Pemerintah Turun per Q1 2026, Terendah Sejak Kepemimpinan Prabowo-Gibran
Jika pemilihan presiden digelar hari ini, Prabowo Subianto tercatat sebagai nama yang paling melekat di benak masyarakat. Dari pertanyaan terbuka tanpa bantuan kandidat, sekitar 32,9% responden menyebut Prabowo sebagai pilihan presiden mereka. Ini merupakan angka tertinggi di antara semua nama.
Sementara di posisi kedua, nama Dedi Mulyadi meraih persentase 13,5%, diikuti Anies Baswedan yang memperoleh 9,2%. Nama-nama lain yang muncul antara lain Gibran Rakabuming Raka (4,2%), Ganjar Pranowo (2,6%), dan Agus Harimurti Yudhoyono (1,9%).
Purbaya Yudhi Sadewa meraih 0,8% suara, disusul Mahfud MD (0,7%), Basuki Tjahja Purnama (0,5%), dan Surya Paloh (0,5%) yang melengkapi sepuluh besar.
Selain itu, nama seperti Yusril Ihza Mahendra (0,4%), Khofifah Indarn Parawansa (0,4%), Nasaruddin Umar (0,2%), Erick Tohir (0,1%), dan Sandiaga Uno (0,1%) turut menjadi perhatian publik.
Namun yang tak kalah penting, sebanyak 28,8% responden menjawab tidak tahu/tidak jawab. Angka ini cukup signifikan, menandakan lebih dari seperempat pemilih potensial belum terikat pada figur tertentu. Apabila mereka bergerak ke nama-nama yang sudah dikenal, peta elektabilitas masih sangat mungkin berubah.
Calon Wakil Presiden dengan Elektabilitas Tertinggi
Beralih ke simulasi wakil presiden, Gibran tampak paling kuat terekam dalam ingatan publik. Dalam pertanyaan terbuka, nama putra sulung Presiden Joko Widodo ini disebut oleh 26,8% responden. Posisi kedua kembali ditempati Dedi Mulyadi dengan 8,9%, diikuti Mahfud MD (4,3%) dan Agus Harimurti Yudhoyono (3,8%).
Menariknya, Anies Baswedan juga masuk dalam bursa cawapres dengan 3,1%, meski biasanya ia lebih sering dikaitkan dengan kursi presiden. Nama-nama lain seperti Muhaimin Iskandar (2,1%), Purbaya Yudhi Sadewa (2%), Prabowo Subianto (1,4%), Sandiaga Uno (1,4%), dan Teddy Indra Wijaya (1%) turut mengisi daftar sepuluh besar.
Di luar itu terdapat nama seperti Kaesang Pangarep (1,0%), Sherly Tjoanda (0,7%), Puan Maharani (0,5%), Khofifah Indar Parawansa (0,3%), dan Ahmad Luthfi (0,2%) yang ikut disebutkan oleh publik.
Fenomena yang paling mencolok di simulasi wapres adalah tingginya angka "tidak tahu/tidak jawab" yang mencapai 38,8%. Artinya, hampir empat dari sepuluh responden sama sekali belum terikat figur yang bisa mereka bayangkan untuk menjadi calon wakil presiden.
Secara umum, nama Prabowo dan Gibran masih tercatat paling kuat dalam ingatan spontan publik sebagai calon presiden dan calon wakil presiden. Hal ini menunjukkan keduanya memiliki tingkat eksposur dan keterikatan simbolik yang relatif tinggi di benak masyarakat, baik karena posisi mereka saat ini maupun dinamika panggung politik nasional beberapa tahun terakhir.
Kendati, tercatat sebanyak 28,8% responden tidak mampu menyebut nama calon presiden manapun secara spontan, sementara angka untuk calon wakil presiden bahkan lebih tinggi, yaitu mencapai 38,8%. Ini berarti hampir empat dari sepuluh orang tidak memiliki gambaran mental yang melekat pada sosok cawapres tertentu.
Tingginya angka tanpa figur ini dapat menandakan peta elektoral masih sangat cair. Publik belum terpatri pada satu nama, sehingga ruang bagi tokoh-tokoh lain untuk muncul dan membangun keterkenalan spontan masih sangat terbuka, terutama jika dinamika politik ke depan menghadirkan figur alternatif yang lebih dekat dengan aspirasi keseharian masyarakat.
Metodologi Survei
Adapun survei ini diselenggarakan oleh Poltracking Indonesia pada 2-8 Maret 2026 dengan populasi survei seluruh warga negara Indonesia yang sudah memiliki hak pilih, yaitu mereka yang berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah.
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 1.220 responden. Survei memiliki margin of error sekitar 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%, Data diperkuat melalui wawancara tatap muka langsung bersama responden yang terpilih.
Baca Juga: Tingkat Kepuasan Anak Muda terhadap Gibran Tembus 62%, Unggul dari Prabowo
Sumber:
https://www.youtube.com/watch?v=FmHn1yloD50
Penulis: Anggia Leksa
Editor: Editor