Sosial

68% Gen Z dan Milenial Maknai Agama Sebagai Wujud Rasa Syukur

Fungsi utama agama bagi gen z dan milenial yakni sebagai wujud rasa syukur, persentasenya mencapai 68%.

68% Gen Z dan Milenial Maknai Agama Sebagai Wujud Rasa Syukur

Ilutrasi orang yang sedang berdoa | Tugba Kobal Yilmaz/Pexels

Agama merupakan kepercayaan yang diimani seseorang sebagai pedoman hidupnya. Seiring dengan perubahan zaman, pemaknaan terhadap agama pun ikut berkembang. Salah satunya ditandai dengan terpisahnya spiritualitas dari religiusitas institusional, yakni seseorang yang dinilai memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi tidak lagi harus diidentikkan dengan keterlibatan aktif dalam lembaga keagamaan atau ritual terstruktur.

Adanya transformasi tersebut merupakan sebuah perbedaan cara keyakinan yang dipahami dan dipraktikkan dari generasi sebelumnya. Bagi Milenial dan Gen Z, ekspresi kebutuhan beragama tersebut menjadi lebih bersifat personal dan reflektif. Mereka terus mencari makna dan rasa keterhubungan meskipun tanpa terikat pada lembaga agama tertentu.

3 Fungsi Utama Agama Bagi Gen Z & Milenial | GoodStats
3 Fungsi Utama Agama Bagi Gen Z & Milenial | GoodStats

Baca Juga: Gen Z Lebih Toleran dalam Beragama Dibanding Milenial dan Baby Boomers 2025

Berdasarkan survei Indonesia Millenial and Gen Z Report 2027 dari IDN Research Institute, terdapat tiga fungsi utama agama menurut sudut pandang Gen Z dan Milenial. Agama sebagai sarana rasa syukur menunjukkan persentase tertinggi mencapai 68%. Angka ini menunjukkan bahwa bagi mayoritas Gen Z dan Milenial, keberadaan agama dipandang sebagai bentuk ekspresi rasa terima kasih atas kehidupan yang mereka jalani.

Fungsi krusial lainnya yang juga dominan di mata Gen Z dan Milenial adalah sebagai bimbingan moral, yang menempati posisi kedua dengan proporsi sebesar 64%. Sementara itu, terdapat sebanyak 50% memandang agama sebagai sumber ketenangan batin.

Seberapa Sering Gen Z dan Milenial Mengakses Konten Astrologi?

Pesatnya arus informasi dan teknologi juga berdampak pada berbagai sektor kehidupan termasuk cara seseorang mempelajari ilmu agama. Tercatat sekitar 49% Gen Z menggunakan platform digital untuk belajar tentang agama, menunjukkan bahwa proses eksplorasi spiritual semakin bergeser ke arah ruang yang lebih luas dan terbuka.

Intensitas Akses Konten Tarot Pada Generasi Z & Milenial | GoodStatsI
Intensitas Akses Konten Tarot Pada Gen Z & Milenial | GoodStatsI

Di samping mengikuti saluran keagamaan di sosial media karena merasa relevan, beberapa responden Milenial dan Gen Z juga mengeksplorasi bentuk spiritualitas yang lebih fleksibel, seperti astrologi dan tarot. Hasil survei menunjukkan mayoritas dari kedua generasi ini belum atau tidak lagi mengonsumsi konten tersebut secara rutin. Porsi terbesar dipegang oleh kelompok yang tidak pernah mengakses konten tarot dengan persentase mencapai 42,3%, diikuti oleh kelompok yang hanya mengakses sesekali (penasaran) sebesar 39%.

Di sisi lain, sebagian Gen Z dan Milenial tercatat pernah bersentuhan dengan konten ramalan ini namun memilih untuk tidak melanjutkannya, mencatatkan angka 17,9%. Sementara itu, kelompok yang mengakses konten tarot secara rutin berada pada tingkat yang sangat kecil, yakni hanya 0,8%.

Data ini menegaskan bahwa meskipun konten tarot cukup ramai dibicarakan di media sosial, persentase Gen Z dan Milenial yang benar-benar menjadi penikmat terbilang sangat sedikit. Hal ini mengindikasikan bahwa mereka hanya penasaran terhadap konten tarot dan menganggapnya sebagai hiburan, pemahaman diri, dan kebutuhan untuk merasa dipahami.

Di tengah ketidakpastian zaman, praktik seperti membaca tarot hadir sebagai alat refleksi yang ringan dan mudah diakses untuk mendapatkan rasa kendali. Meskipun demikian, minat pada spiritualitas alternatif ini tidak serta-merta menggeser keyakinan mendasar Milenial dan Gen Z terhadap agama.

Survei ini dilakukan terhadap 628 responden yang berasal dari kelompok Milenial (279 responden) dan Gen Z (349 responden). Mayoritas responden merupakan perempuan (52%) dan berasal dari Pulau Jawa khususnya daerah Jabodetabek dengan persentase mencapai 36%.

Baca Juga: Bagaimana Peran Sosial Media dalam Kehidupan Beragama Gen Z?

Sumber:

https://www.indonesiasummit.com/id

Penulis: Silmi Hakiki Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?