Secara historis, bank-bank sentral di seluruh dunia telah mengakumulasikan emas rata-rata sebanyak 1.000 ton per tahun selama empat tahun terakhir. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan dengan rata-rata dekade sebelumnya yang hanya berada di kisaran 500 ton per tahun. Akselerasi akumulasi yang mencolok ini terjadi di tengah latar belakang gejolak ekonomi makro dan tensi geopolitik yang terus membayangi para manajer cadangan devisa di berbagai negara.
Sehubungan dengan hal tersebut, survei Central Bank Gold Reserves (CBGR) yang dirilis oleh World Gold Council (WGC) berfungsi untuk memetakan tren global, sentimen pasar, dan rencana kebijakan cadangan emas oleh bank-bank sentral serta pelaku ekonomi di seluruh dunia.
Data tahunan ini menjadi acuan penting untuk memahami arah kebijakan moneter, pengelolaan risiko, dan prospek harga emas global. Pada laporan terbarunya yang dipublikasikan pada 16 Juni 2026, WGC menyoroti pergeseran besar dalam strategi pengelolaan aset devisa global di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.
45% Bank Sentral Memiliki Proyeksi Menambah Cadangan Emas
Baca Juga: Anak Muda Kian Melek Investasi, Emas Jadi Instrumen Favorit 2026
Terdapat proyeksi jangka pendek yang menunjukkan 45% dari total responden (33 dari 74 bank) mengindikasikan cadangan emas mereka akan meningkat dalam 12 bulan ke depan. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan survei tahun 2025 yang berada di posisi 43%. Jika dibedah berdasarkan klasifikasi ekonomi negara, terlihat perbedaan perilaku yang cukup kontras.
Bank sentral yang berasal dari negara berkembang atau emerging market jauh lebih agresif dengan total 53% (30 dari 57 bank) berencana menambah cadangan emas mereka sedangkan hanya 18% atau 3 dari 17 bank dari kelompok negara maju yang memiliki rencana serupa dalam setahun ke depan.
Tingginya minat terhadap emas ini didasari oleh karakteristik instrumen itu sendiri. Alasan utama bank sentral memegang emas adalah performanya di masa krisis (performance in times of crisis) yang diakui oleh 90% responden. Alasan kuat lainnya meliputi peran emas sebagai alat penyimpan nilai jangka panjang (long-term store of value) sebesar 84%, diversifikasi portofolio yang efektif (effective portfolio diversifier) sebesar 83%, kebijakan diversifikasi (diversification policy) sebesar 80%, serta sebagai pelindung risiko geopolitik (geopolitical risk hedge) sebesar 78%.
Proyeksi Perubahan Total Cadangan Devisa dalam 5 Tahun
Lebih lanjut, ketika para responden ditanya mengenai ekspektasi perubahan total cadangan devisa, muncul tren de-dolarisasi yang cukup kuat. Untuk komoditas emas, sebanyak 84% responden memperkirakan porsi kepemilikannya akan menjadi lebih tinggi, sementara 11% memperkirakan tetap dan hanya 5% yang melihat kemungkinan porsinya akan lebih rendah.
Sentimen positif juga mengalir pada mata uang Renmibi China yang diproyeksikan menguat oleh 67% responden untuk posisi lebih tinggi, 27% untuk posisi tetap, dan 5% untuk posisi lebih rendah. Selanjutnya, Euro mencatatkan proyeksi peningkatan dari 42% responden, dengan 38% memperkirakan porsinya tetap dan 19% memperkirakan menurun.
Kontras dengan aset-aset tersebut, dominasi mata uang Dolar Amerika Serikat justru diprediksi merosot tajam dalam lima tahun ke depan karena hanya 11% responden yang memperkirakan porsinya akan lebih tinggi, sedangkan 15% memproyeksikan tetap, dan mayoritas mutlak sebesar 74% memproyeksikan porsi mata uang tersebut akan menjadi lebih rendah.
Mengingat mayoritas respons masuk setelah eskalasi konflik di Timur Tengah, hasil survei ini memberikan gambaran yang riil mengenai pandangan para manajer cadangan devisa. Tingginya keterlibatan institusi moneter ini menjadi sinyal kuat mengenai semakin krusial dan strategisnya posisi emas dalam manajemen cadangan devisa global di tengah gejolak geopolitik saat ini.
Metodologi
Survei Central Bank Gold Reserves 2026 yang dilakukan pada 5 Februari-19 Mei 2026 ini berhasil menjaring 76 responden dari berbagai bank sentral dunia, mencatatkan angka partisipasi tertinggi dalam sembilan tahun terakhir. Komposisi responden terdiri atas 58 bank dari negara berkembang dan 18 bank dari negara maju, sehingga sampel data ini sangat representatif secara geografis maupun volume kepemilikan emas global.
Baca Juga: Emas Jadi Aset Paling Terpercaya di Indonesia 2026
Sumber:
https://www.gold.org/goldhub/research/central-bank-gold-reserves-survey-2026#registration-type=google&just-verified=1
Penulis: Anggia Leksa
Editor: Editor