Wilayah metropolitan adalah wilayah perkotaan padat penduduk yang terdiri atas satu kota pusat dan beberapa kota yang lebih kecil di mana satu kota dengan kota lainnya saling terintegrasi satu sama lain. Bentuk integrasi utama antara kota pusat dengan kota penyangganya adalah jaringan transportasi dan mobilitas yang mampu menghubungkan setiap titik kota secara lebih terstruktur dan efisien. Integrasi inilah yang kemudian mendorong lahirnya golongan pekerja komuter di Indonesia.
Pekerja komuter adalah istilah yang diberikan kepada mereka yang pergi bekerja di luar kota tempat tinggal tetapi secara rutin juga pulang di hari yang sama. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pekerja komuter selalu didominasi oleh pekerja formal dengan rata-rata proporsi 83%.
Lebih lanjut, pekerja komuter di setiap wilayah metropolitan Indonesia memiliki proporsi yang berbeda-beda. Dari total sepuluh wilayah yang ada, BPS telah mengurutkan wilayah dengan persentase pekerja komuter tertinggi per Agustus 2025. Simak temuannya.
Jabodetabekpunjur Jadi yang Tertinggi
Wilayah metropolitan Jabodetabekpunjur (Jakarta, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Depok, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Puncak, dan Cianjur) menempati posisi pertama dengan proporsi pekerja komuter sebanyak 16,34%.
Jakarta sebagai pusat ibu kota dan jantung perekonomian negara memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi publik di berbagai kota. Integrasi ekonomi antara Jakarta dengan ragam kota penyangganya membantu menciptakan pemerataan pembangunan yang signifikan bagi wilayah di sekitarnya. Warga dari kota penyangga yang setiap harinya bekerja di pusat kota, secara tidak langsung turut membangkitkan perekonomian di wilayah asalnya.
Beranjak pada posisi kedua, yakni wilayah Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan) dengan 14,78% pekerja komuter. Berbeda dengan Jabodetabekpunjur, Sarbagita cenderung memiliki dua kota pusat yakni Denpasar dan Badung. Denpasar sebagai ibu kota Bali berfungsi sebagai pusat layanan administratif pemerintahan sedangkan Badung lebih condong pada sektor pariwisata internasional. Kemudian Gianyar berperan sebagai penyangga di sisi timur dan Tabanan di sisi barat.
Selanjutnya, terdapat wilayah Banjarbakula (Banjarmasin, Barito Kuala, Banjar, Banjar Baru, dan Tanah Laut) dengan capaian 10,7%. Wilayah ini berlokasi tepat di Kalimantan Selatan dan ditetapkan masuk dalam rencana tata ruang kawasan strategis nasional.
“Rencana detail tata ruang Banjarbakula baru saja kami bahas bersama pemerintah daerah,” tutur Nusron Wahid, selaku Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional di Banjarbaru Mengutip Antara (31/7/2025).
Berikut daftar lengkap sepuluh wilayah metropolitan dengan persentase pekerja komuter tertinggi.
- Jabodetabekpunjur: 16,34%
- Sarbagita: 14,78%
- Banjarbakula: 10,7%
- Mamminasata (Makassar, Maros, Gowa, dan Takalar): 10,34%
- Kedungsepur (Grobogan, Kendal, Demak, Salatiga, Kota Semarang, dan Kabupaten Semarang): 8,87%
- Mebidang (Medan, Binjai, dan Deli Serdang): 7,55%
- Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan): 7,54%
- Cekungan Bandung (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Sumedang, Bandung Barat, dan Cimahi): 7,11%
- Bimindo (Bitung, Minahasa, Minahasa Utara, Tomohon dan Manado): 6,64%
- Patungraya Agung (Palembang, Ogan Komering Ilir, Banyu Asin, dan Ogan Ilir): 3,23%
Baca Juga: Jumlah Penumpang Kereta Api Tembus 261,8 Juta Semester I 2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/11/05/2479/keadaan-ketenagakerjaan-.html
Penulis: NAUFAL ALBARI
Editor: Editor