Pendidikan dasar menjadi fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia. Kualitas belajar pada dasarnya tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan tenaga pengajar, melainkan juga dari kondisi sarana pendidikan yang digunakan sehari-hari. Ruang kelas yang aman dan layak menjadi syarat dasar agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung optimal.
Sayangnya, dunia pendidikan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam hal infrastruktur. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa dari 1,18 juta ruang kelas SD di Indonesia, 60,2% di antaranya berada dalam kondisi rusak pada tahun ajaran 2024/2025. Dengan rincian, 27,22% rusak ringan, 22,27% rusak sedang, dan 10,81% rusak berat. Ruang kelas SD yang berada dalam keadaan baik hanya sebanyak 39,7%.
Jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding jenjang pendidikan lain. Sebut saja, di jenjang SMP, tercatat 50,33% ruang kelas yang berada dalam kondisi baik. Sisanya mengalami kerusakan, dengan rincian 24,73% mengalami rusak ringan, 17,96% dalam kondisi rusak sedang, dan 6,97% mengalami rusak berat.
Sebanyak 20 provinsi memiliki proporsi ruang kelas SD rusak berat yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Sulawesi Barat dan Papua Pegunungan berada di puncak, dengan masing-masing 21,35% ruang kelas SD mengalami kerusakan berat pada tahun ajaran 2024/2025.
Baca Juga: Revitalisasi Sekolah dan Insentif Guru Dorong Mutu Pendidikan Indonesia
Di bawah kedua provinsi tersebut, Kalimantan Utara mencatatkan 17,5% ruang kelas SD yang rusak berat, diikuti Maluku dengan 17,14%, Nusa Tenggara Timur sebesar 16,75%, dan Papua dengan 16,36%.
Provinsi dengan proporsi ruang kelas SD rusak berat terbanyak berikutnya diisi provinsi asal Pulau Sulawesi, yakni Sulawesi Tenggara dengan 15,73% dan Sulawesi Tengah dengan 15,1%.
Papua Selatan dan Maluku Utara menutup daftar sepuluh besar dengan persentase ruang kelas SD yang rusak berat masing-masing sebesar 14,99% dan 14,96%.
Sebaliknya, DKI Jakarta jadi provinsi paling minim ruang kelas rusak, dengan hanya 1,03% ruang kelasnya yang mengalami kerusakan berat. Peringkat kedua dipegang DI Yogyakarta dengan 4,11%, diikuti Bali (5,91%), Nusa Tenggara Barat (6,05%), dan Bengkulu (7,09%).
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), jumlah ruang kelas yang rusak di jenjang SD, SMP, dan SMA malah terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Sebaliknya, ruang kelas dalam kondisi baik juga menurun.
"Selama tiga tahun terakhir dari 2022 hingga 2024 kondisi ruang kelas justru memburuk di banyak tempat," ujar Peneliti Pusat Riset Pendidikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yuyun Libriyanti, dalam diskusi daring, Jumat (2/5/2025).
Menurutnya, kondisi ini mencerminkan kebutuhan akan ruang kelas yang lebih layak, bukan semata-mata hanya terus membangun lebih banyak ruang kelas. Ia turut menyarankan program rehabilitasi sekolah yang disusun pemerintah untuk bisa dilakukan secara holistik.
"Program ini (rehabilitasi sekolah) harus dilihat sebagai langkah awal membangun ruang belajar yang aman, ramah anak, inklusif, dan tahan terhadap berbagai hal, apakah itu bencana atau perubahan iklim," ungkapnya.
Baca Juga: Persentase Ruang Kelas Rusak Cenderung Tinggi pada 2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2025/11/21/d048070f37740b0e04d99350/statistik-pendidikan-2025.html
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor