Harga bahan bakar minyak dunia mengalami peningkatan akibat terganggunya jalur pasokan energi global di Selat Hormuz. Gangguan ini terjadi setelah konflik antara Iran dengan blok Amerika Serikat–Israel memanas dan memicu ketegangan di kawasan Teluk.
Sebelumnya, penutupan Selat hormuz memicu kenaikan harga minyak mentah di pasar global. Lonjakan harga ini menambah beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, sekaligus memengaruhi harga BBM di pasaran.
Data harga energi global yang dihimpun oleh Global Petrol Prices menunjukkan tren kenaikan tersebut mulai terlihat setelah konflik pecah.
Baca Juga: Ranjau Laut Iran di Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia Terancam
Global Petrol Prices, platform yang melacak dan menerbitkan harga energi ritel di sekitar 150 negara, menunjukkan setidaknya 85 wilayah telah melaporkan kenaikan harga bensin setelah serangan awal terhadap Iran oleh AS–Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Dalam periode 23 Februari hingga 9 Maret 2026, harga bensin global menunjukkan tren kenaikan bertahap. Harga yang semula berada di kisaran US$1,20 per liter pada 23 Februari meningkat menjadi US$1,21 per liter pada 2 Maret, lalu naik lagi menjadi US$1,27 per liter pada 9 Maret 2026.
Meski rata-rata harga BBM global berada pada kisaran US$1,27–US$1,35 per liter, tiap negara memiliki harga eceran berbeda tergantung kebijakan masing-masing pemerintah.
Perbedaan harga antarnegara sendiri dipengaruhi berbagai kebijakan fiskal, seperti pajak bahan bakar dan subsidi energi. Akibatnya, harga eceran bensin dapat berbeda cukup jauh antarnegara, meskipun lonjakan harga minyak mentah dunia tetap memengaruhi stabilitas energi di hampir seluruh wilayah.
Lantas, negara mana saja yang mengalami peningkatan harga BBM tertinggi akibat konflik Iran–AS?
Negara dengan Kenaikan Harga BBM Tertinggi
Berdasarkan analisis data Global Petrol Prices hingga 12 Maret 2026, sejumlah negara mencatat lonjakan harga bensin yang cukup signifikan dalam waktu relatif singkat.
Kenaikan tertinggi terjadi di Vietnam. Harga bensin di negara tersebut meningkat dari US$0,75 per liter pada 23 Februari menjadi US$1,13 per liter pada 9 Maret 2026, atau naik sekitar 49,73%.
Di posisi kedua terdapat Laos yang mengalami kenaikan 32,94%, dari US$1,34 menjadi US$1,78 per liter.
Sementara itu, beberapa negara lain yang juga mengalami kenaikan harga bensin cukup besar antara lain:
- Kamboja: dari US$1,11 menjadi US$1,32 (naik 19,03%)
- Australia: dari US$1,11 menjadi US$1,31 (naik 18,23%)
- Amerika Serikat: dari US$0,87 menjadi US$1,01 (naik 16,55%)
- Jerman: dari US$2,08 menjadi US$2,36 (naik 13,3%)
- Seychelles: dari US$1,34 menjadi US$1,52 (naik 13,04%)
- Guatemala: dari US$1,04 menjadi US$1,17 (naik 12,9%)
- Lebanon: dari US$0,91 menjadi US$1,02 (naik 12,25%)
- Nigeria: dari US$0,59 menjadi US$0,66 (naik 11,78%)
Dirasakan Hampir Seluruh Negara
Dilansir dari Al Jazeera, Asia menjadi salah satu kawasan paling rentan terhadap lonjakan harga akibat konflik ini. Hal tersebut disebabkan banyaknya negara Asia bergantung pada pasokan minyak dan gas yang melewati Selat Hormuz.
Di Asia Timur, Jepang bergantung pada kawasan Teluk untuk sekitar 95% impor minyaknya, sementara Korea Selatan bergantung sekitar 70% dari kebutuhan minyaknya.
Gangguan di Selat Hormuz juga berdampak signifikan bagi negara Asia Selatan, seperti Pakistan dan Bangladesh, yang memiliki cadangan energi lebih kecil dengan kondisi keuangan yang lebih rapuh.
Di sisi lain, lonjakan harga energi turut membuat negara-negara maju khawatir. Para menteri keuangan negara anggota G7 bahkan menggelar pertemuan darurat untuk membahas kenaikan harga energi global.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, juga mengusulkan pelepasan sekitar 20%–30% cadangan minyak strategis guna meredam tekanan harga bagi konsumen.
Bagaimana dengan Indonesia?
Di Indonesia, kenaikan harga minyak yang diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah berisiko menekan stabilitas fiskal, memicu inflasi, dan mengganggu ekonomi domestik.
Lonjakan harga minyak juga berkaitan erat dengan kenaikan harga pangan. Hal ini karena BBM memengaruhi hampir seluruh rantai pasok makanan, mulai dari produksi hingga distribusi bahan pangan ke pasar.
Meski demikian, pemerintah Indonesia telah mengambil langkah antisipatif terhadap potensi berkurangnya pasokan minyak yang diikuti lonjakan harga akibat penutupan Selat Hormuz. Salah satunya melalui diversifikasi sumber impor minyak mentah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, selama ini impor minyak mentah dari Timur Tengah hanya sekitar 20%–25% dari total impor Indonesia. Sisanya dipasok dari negara lain seperti Angola, Amerika Serikat, hingga Brasil.
Untuk BBM jenis bensin seperti RON 90, 93, 95, dan 98, impor Indonesia selama ini juga tidak bergantung ke Timur Tengah, karena sebagian besar berasal dari Asia Tenggara. Sehingga, harga BBM Indonesia dipastikan pemerintah relatif tidak melonjak.
Baca Juga: Simak Ragam Emosi dan Kekhawatiran Publik RI terhadap Konflik Iran dan AS-Israel
Sumber:
https://www.globalpetrolprices.com/fuel_price_trend.php
Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor