Tingkat pengangguran menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kondisi ekonomi dan ketenagakerjaan di suatu daerah. Semakin rendah angka pengangguran, semakin besar peluang masyarakat usia kerja terserap ke dunia kerja maupun sektor usaha produktif.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Indonesia tercatat sebesar 7,24 juta orang per Februari 2026, berkurang 35 ribu orang secara tahunan.
“Angkatan kerja yang tidak terserap menjadi pengangguran 7,24 juta orang, di mana yang jumlah pengangguran ini mengalami penurunan sebesar 35 ribu orang dibandingkan Februari 2025,” ujar Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers, Selasa (5/5).
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 4,68%, yang berarti 5 dari 100 orang angkatan kerja merupakan pengangguran, angkanya turun 0,08 persen poin dibanding periode yang sama tahun lalu.
Jika ditinjau menurut provinsinya, maka provinsi di wilayah timur Indonesia mendominasi jajaran wilayah dengan tingkat pengangguran terendah per Februari 2026.
Baca Juga: Tingkat Pengangguran Pemuda Indonesia 2020-2025
Bali menjadi provinsi dengan tingkat pengangguran terendah di Indonesia, yakni hanya 1,59%. Pulihnya sektor pariwisata dan meningkatnya aktivitas ekonomi kreatif menjadi faktor utama yang mendorong penyerapan tenaga kerja di daerah tersebut. Industri pariwisata Bali yang kembali ramai memberikan dampak besar terhadap lapangan kerja, mulai dari sektor perhotelan hingga UMKM.
Di urutan kedua terdapat Papua Pegunungan dengan tingkat pengangguran 1,70%. Meski tergolong rendah, kondisi ini juga dipengaruhi oleh karakteristik ekonomi daerah yang masih didominasi sektor informal dan pekerjaan berbasis keluarga.
Sementara itu, Sulawesi Barat berada di posisi ketiga dengan tingkat pengangguran sebesar 2,93%. Aktivitas pertanian, perkebunan, dan sektor informal masih menjadi penopang utama penyerapan tenaga kerja di wilayah tersebut.
Sulawesi Tengah menyusul di peringkat keempat dengan 2,95%. Pertumbuhan sektor industri pengolahan dan pertambangan dalam beberapa tahun terakhir turut membantu membuka lapangan pekerjaan baru di daerah ini.
Di posisi kelima ada Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan tingkat pengangguran 2,99%. Sektor pertanian, pariwisata, dan usaha mikro menjadi penyangga ekonomi masyarakat sekaligus membantu menjaga tingkat pengangguran tetap rendah.
Kemudian DI Yogyakarta mencatat tingkat pengangguran sebesar 3,05%. Tidak hanya dikenal sebagai kota pendidikan, Yogyakarta juga berkembang sebagai pusat ekonomi kreatif, pariwisata, dan UMKM yang cukup kuat.
Nusa Tenggara Timur (NTT) berada di posisi ketujuh dengan angka 3,16%, disusul Gorontalo sebesar 3,17%. Kedua wilayah ini masih mengandalkan sektor pertanian dan usaha informal dalam menyerap tenaga kerja.
Selanjutnya ada Bengkulu dengan tingkat pengangguran 3,23% dan Sulawesi Tenggara sebesar 3,25%. Keduanya berhasil mempertahankan tingkat pengangguran di bawah rata-rata nasional yang berada di angka 4,68%.
Sebaliknya, Papua jadi provinsi dengan TPT tertinggi secara nasional, mencapai 7,02% pada Februari 2026, disusul Kepulauan Riau (6,87%) dan Jawa Barat (6,64%).
Tingginya pengangguran tidak selalu terjadi di daerah miskin atau tertinggal. Beberapa wilayah industri dan perkotaan seperti Banten (6,59%) hingga DKI Jakarta (6,03%) justru memiliki angka pengangguran lebih tinggi akibat tingginya persaingan kerja dan perubahan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Untuk itu, peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan, serta penciptaan lapangan kerja baru menjadi langkah penting untuk menekan angka pengangguran di Indonesia.
Baca Juga: Tingkat Pengangguran di Indonesia 2024-2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NTQzIzI=/tingkat-pengangguran-terbuka-menurut-provinsi.html
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor