Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) adalah angka yang menggambarkan tingkat usaha yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah (tingkat provinsi dan kabupaten/kota) dalam membina dan mengembangkan perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat untuk mencapai budaya literasi masyarakat. Oleh karena itu IPLM dapat menjadi cerminan dalam melihat kualitas intelektual SDM di suatu daerah.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Indeks Pembangunan Literasi Tertinggi dan Tantangan bagi Santri
Grafik tersebut menggambarkan sepuluh provinsi dengan IPLM tertinggi pada tahun 2025 menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Jawa Timur menempati posisi puncak dengan skor yang cukup signifikan, yakni sebesar 56,29, menjadikannya satu-satunya provinsi yang berhasil meraih skor di atas 50. Posisi selanjutnya diikuti oleh Banten (48,59), DI Yogyakarta (48,05), dan Sulawesi Selatan (47,74).
Secara keseluruhan, sebaran literasi ini mencakup berbagai wilayah dari barat hingga timur Indonesia, termasuk Aceh (45,29) dan Nusa Tenggara Timur (40,56). Di daftar sepuluh besar ini, terdapat Sumatra Barat dan Sumatra Utara dengan skor masing-masing sebesar 43,36 dan 40,54. Rentang skor antara peringkat pertama dan peringkat kesepuluh menunjukkan adanya variasi tingkat capaian pengembangan literasi antarwilayah unggulan tersebut.
Perubahan Instrumen Penyusun IPLM
Sebelumnya, instrumen yang dinilai dalam IPLM ini mencakup tujuh hal yang disebut Unsur Pembangunan Literasi Masyarakat (UPLM). Komponennya terdiri dari pemerataan layanan perpustakaan, ketercukupan koleksi, ketercukupan tenaga perpustakaan, tingkat kunjungan masyarakat per hari, jumlah perpustakaan ber-SNP, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sosialisasi, dan anggota perpustakaan.
Namun pada 2025, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) telah melakukan perubahan instrumen penilaian IPLM. Jika pada mulanya IPLM menekankan pada aspek kepatuhan administratif, kini penekanannya ada pada kinerja dan aktivitas nyata dalam meningkatkan budaya baca.
“Jadi indeks ini dibangun berdasarkan dua dimensi yaitu dimensi kepatuhan dan dimensi kinerja. Untuk dimensi kepatuhan terdiri dari koleksi dan Sumber Daya Manusia (SDM). Kemudian dimensi kinerja yaitu pelayanan dan pengelolaan, ini terkait dengan jumlah buku yang dilayangkan, orang yang berkunjung dan lain sebagainya,” jelas Ketua Kelompok Kerja Analisis Perkembangan Semua Jenis Perpustakaan Perpusnas, Irhamni, pada Jumat (26/9/2025), melansir laman resmi Perpusnas.
Komitmen Perpusnas Jalankan Program Prioritas Tahun 2026
Pada tahun 2026 ini, anggaran Perpusnas mengalami penyesuaian, tetapi di tengah keterbatasan tersebut, sejumlah program strategis tetap menjadi prioritas. Seperti Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), program yang telah dilaksanakan sejak 2018 ini akan tetap dijalankan meski lokusnya dikurangi dari sekitar 1.000 menjadi 650 titik lokasi.
Selain itu, program lain yang akan dipertahankan yakni KKN Tematik Literasi yang dinilai memiliki dampak yang besar terhadap pembangunan literasi masyarakat di daerah. Berikutnya untuk program Relawan Literasi Masyarakat (ReLima) akan ditingkatkan jumlahnya.
“Program ini berdampak cukup besar dalam memperkuat koordinasi antara para pegiat literasi dan pemerintah daerah. Dengan adanya relawan di kabupaten dan kota, sinergi literasi lebih mudah dipantau dan dievaluasi,” tutur E. Aminudin Aziz, selaku Kepala Perpusnas RI, pada Sabtu (31/10/2025), melansir laman resmi Perpusnas.
Baca Juga: NTT jadi Provinsi dengan Tingkat Minat Membaca Tertinggi 2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/VEd0V05FTjBaRVJuYzA1bVkwcHlhVk5KUjJGTlVUMDkjMw==/indeks-pembangunan-literasi-masyarakat-dan-unsur-penyusunnya-menurut-provinsi.html?year=2025
Penulis: Silmi Hakiki
Editor: Editor