Di kota-kota besar, waktu istirahat sering kali menjadi hal pertama yang dikorbankan demi mengejar produktivitas yang tiada habisnya. Sebuah data menarik dari Preply mengungkapkan daftar ibu kota di dunia dengan rata-rata waktu tidur paling sedikit. Sayangnya, Jakarta masuk dalam deretan kota dengan waktu istirahat yang tergolong rendah, yang menunjukkan betapa tingginya tekanan ritme hidup urban di ibu kota kita ini.
Rata-rata waktu tidur masyarakat di Jakarta tercatat hanya sekitar 7 jam per malam. Angka ini menempatkan Jakarta di bawah rekomendasi ideal waktu tidur untuk orang dewasa yang seharusnya berada di rentang 7 hingga 9 jam. Fenomena ini mencerminkan ritme kerja yang sangat padat, waktu tempuh komuter yang panjang dan melelahkan, hingga aktivitas malam hari yang tetap tinggi di kota yang seolah tidak pernah tidur ini.
Perbandingan Waktu Tidur di Berbagai Ibu Kota Dunia
Secara global, posisi pertama ditempati oleh Berlin dengan rata-rata waktu tidur yang sangat minim, yaitu hanya 6 jam per malam. Menariknya, terdapat selisih yang cukup jauh hingga 3 jam jika dibandingkan dengan kota yang memiliki waktu tidur terbanyak, yaitu Buenos Aires di Argentina.
Berikut adalah daftar sepuluh ibu kota dunia dengan rata-rata waktu tidur paling sedikit.
Baca Juga: Jakarta Masuk Jajaran Kota Terpadat di Dunia 2025
Dampak Kurangnya Istirahat Bagi Kesehatan
Minimnya waktu tidur ini sebenarnya bukan sekadar masalah rasa kantuk yang mengganggu di pagi hari. Secara medis, kurangnya waktu istirahat sering kali berkorelasi langsung dengan produktivitas tinggi yang dipaksakan, namun berisiko menimbulkan masalah kesehatan yang serius di masa depan. Mulai dari meningkatnya level stres secara signifikan, gangguan metabolisme tubuh, hingga risiko penyakit kronis lainnya.
Kualitas istirahat yang baik sebenarnya merupakan investasi jangka panjang yang sangat berharga bagi kesehatan mental dan fisik para warga kota. Tingginya tekanan hidup di Jakarta menuntut adanya keseimbangan yang sehat antara ambisi dalam pekerjaan dengan kepedulian terhadap kebutuhan dasar tubuh untuk melakukan pemulihan. Menjaga ritme tidur agar tetap stabil di tengah kesibukan kota yang serba cepat adalah tantangan tersendiri bagi setiap warga Jakarta saat ini.
Pada akhirnya, data ini menjadi pengingat penting bahwa produktivitas yang nyata tidak seharusnya mengabaikan hak tubuh untuk beristirahat. Dengan pengelolaan waktu yang lebih bijak dan kesadaran akan pentingnya kesehatan, diharapkan masyarakat Jakarta bisa mulai memperbaiki kualitas tidurnya. Kualitas tidur yang lebih baik tentu akan membantu setiap individu agar tetap bugar dan fokus dalam menghadapi kerasnya persaingan serta dinamika hidup di ibu kota.
Baca Juga: Jajaran Kota Termahal Dunia 2025, Jakarta Masuk 20 Besar!
Penulis: Emily Zakia
Editor: Editor