Banjir Dominasi Bencana Alam Indonesia Awal 2026

Dari 205 kejadian bencana di Indonesia pada 1-27 Januari 2026, 127 di antaranya merupakan banjir.

Banjir Dominasi Bencana Alam Indonesia Awal 2026 Ilustrasi Banjir | Syahrir Maulana/iStock Photo
Ukuran Fon:

Mengawali 2026, tingginya intensitas bencana hidrometeorologi di Indonesia kembali menjadi sorotan.  Di antara berbagai jenis bencana yang terjadi, banjir muncul sebagai kejadian paling dominan dan melanda banyak wilayah dalam waktu yang relatif singkat. 

Tingginya curah hujan, perubahan pola iklim, serta kondisi lingkungan yang rentan membuat banjir masih mendominasi daftar bencana yang paling sering terjadi. Dampaknya pun meluas, tidak hanya menimbulkan kerusakan pada infrastruktur dan kawasan permukiman, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi serta keseharian masyarakat.

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa hingga Selasa (27/1/2026) pukul 08.00 WIB, terdapat total 205 kejadian bencana di Indonesia sepanjang 2026, dengan 127 di antaranya merupakan bencana banjir.

Angka ini menegaskan bahwa persoalan banjir belum sepenuhnya tertangani dan memerlukan upaya mitigasi yang lebih komprehensif.

Jumlah bencana alam di Indonesia | GoodStats
Jumlah bencana alam di Indonesia | GoodStats

Baca Juga: 86% Publik RI Yakin Cuaca Ekstrem Meningkat pada 2026

Sementara itu, cuaca ekstrem tercatat sebanyak 46 kejadian, diikuti 15 kejadian tanah longsor, 14 kali kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 2 kejadian gelombang pasang dan abrasi, serta sebuah kejadian gempa bumi.

Adapun bencana alam ini mengakibatkan 57 orang meninggal dunia, 2 orang hilang, 1.528 luka-luka, dan 1,14 juta orang menderita dan mengungsi.

Tidak hanya itu, sebanyak 1.059 rumah mengalami kerusakan ringan, 533 rusak sedang, dan 519 rusak berat. Tidak hanya tempat tinggal, bencana ini juga mengakibatkan kerusakan pada 4 fasilitas umum, terdiri atas 1 satuan pendidikan, 2 rumah ibadat, dan 1 fasyankes.

Dorong Respons Lebih Cepat

Anggota Komisi VIII DPR, Muhamad Abdul Azis Sefudin mendorong pemerintah pusat dan daerah agar dapat bergerak lebih cepat dalam menangani bencana banjir yang kini semakin marak.

“Penanganan darurat harus cepat, mitigasi harus diperkuat, dan recovery pascabencana tidak boleh diabaikan. Keselamatan warga adalah prioritas utama,” tuturnya, Minggu (25/1/2026), mengutip Liputan6.

Menurutnya, banjir yang terus terjadi berulang belakangan ini bahkan hingga menimbulkan korban jiwa menunjukkan perlunya langkah konkret sejak fase pencegahan, tidak hanya setelah bencana terjadi.

“Kalau banjir sudah berulang dan menimbulkan korban, artinya ada yang harus dibenahi dari hulu ke hilir. Negara tidak boleh datang terlambat,” tegasnya.

Ada sejumlah langkah pencegahan yang dapat dilakukan, salah satunya dengan rekayasa cuaca.

“Rekayasa cuaca bisa menjadi opsi mitigasi dalam kondisi tertentu, tentu dengan perhitungan yang matang dan koordinasi yang kuat antara pusat dan daerah,” ujarnya.

Baca Juga: Banjir Dominasi Bencana Alam di Indonesia 2025

Sumber:

https://gis.bnpb.go.id/

Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor

Konten Terkait

10 Kota dengan Konsumsi Bubur Kacang Hijau Tertinggi

Jakarta Selatan menjadi kota dengan konsumsi bubur kacang hijau tertinggi, mencapai 0,246 porsi per kapita per minggu.

7 Kecelakaan Pesawat Paling Mematikan di Indonesia 2000-2025

Awal tahun 2026, dunia penerbangan Indonesia berduka dengan terjadinya kecelakaan pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook