Cek Data, Benarkah Bisnis Mal Mulai Jatuh?
Ekonomi dan Bisnis • 5 Januari 2026Data Snapcart pada 2025 menyebut bahwa hanya separuh dari responden yang masih mengunjungi pusat perbelanjaan atau mal Indonesia
Data Snapcart pada 2025 menyebut bahwa hanya separuh dari responden yang masih mengunjungi pusat perbelanjaan atau mal Indonesia
Kelas menengah Indonesia lebih suka belanja di pasar dan e-commerce ketimbang mal maupun toko ritel, dengan lebih dari 40% respoden rutin kunjungi keduanya
Fashion wanita jadi produk yang paling banyak dibandingkan harganya oleh publik, capaiannya 62%.
Sebanyak 65,8% publik menghabiskan waktu di mal hanya dengan berjalan santai dan menikmati suasana di dalamnya.
Ramai istilah rohana dan rojali, pelaku ritel sebut karena daya beli menurun, pemerintah bilang karena pergeseran pola belanja.
Mal tetap ramai dikunjungi, namun tren menarik muncul: semakin banyak orang datang ke mal hanya untuk berjalan-jalan tanpa membeli apa-apa. Apa penyebabnya?
Rojali, alias rombongan jarang beli, merefleksikan pergeseran konsumsi masyarakat dari belanja ke investasi dan rekreasi, dengan dampak nyata pada sektor ritel.
Demi menunjang gaya hidup warga kota yang cepat dan dinamis, mal-mal besar mulai bermunculan di berbagai negara. Intip 10 mal terbesar dunia, adakah Indonesia?
Pada tahun 2022 ini, tingkat okupansi tersebut masih turun ke angka 68,9 persen. Meskipun begitu, penurunannya tidak terlalu drastis seperti pada 2021 lalu.
Worldatlas merangkum daftar mal-mal terbesar di dunia yang memiliki luas area sangat besar mencapai ratusan ribu m2 bahkan hingga 1 juta m2.
Iran Mall menduduki peringkat teratas sebagai mal terbesar
Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.
Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook