Sudah sebulan sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel meluncurkan serangan ke Iran setelah diplomasi gagal dibentuk pada Sabtu (28/2/2026). Serangan ini merupakan puncak dari ketegangan panjang terkait negosiasi nuklir di Jenewa, rivalitas geopolitik menyangkut pasokan minyak dunia, hingga insiden pembunuhan tokoh militer Iran.
Eskalasi kemudian berkembang menjadi serangan udara terkoordinasi oleh AS-Israel yang menyasar fasilitas nuklir, sistem rudal, dan pusat komando Iran.
Iran pun membalas dengan menyerang pangkalan militer AS dan sejumlah wilayah Israel. Dalam sepuluh hari pertama konflik, sedikitnya 4.300 orang dilaporkan tewas menurut laporan Hengaw Organization for Human Rights pada 10 Maret 2025.
Total korban tersebut mencakup 390 warga sipil dan 3.910 anggota pasukan militer pemerintah Iran. Angka kematian warga sipil tertinggi berada di Provinsi Hormozgan, dengan sebagian besar adalah siswi sekolah dasar di SD Shajareh Tayyebeh.
Dampaknya pun turut meluas ke ekonomi global, terutama setelah Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia terganggu. Hormuz merupakan jalur laut utama yang digunakan untuk mengangkat minyak, gas alam, dan kargo lainnya dari Teluk Persia menuju berbagai negara.
Kawasan Asia Tenggara, tak terkecuali Indonesia, menjadi salah satu yang merasakan dampak dari melonjaknya harga minyak dunia.
Untuk mengetahui bagaimana respons masyarakat Indonesia terhadap serangan AS-Israel terhadap Iran, Lembaga Survei Indonesia (LSI), Indikator Politik Indonesia, serta SaifulMujani Research & Consulting kemudian merilis survei yang melibatkan 1.066 responden.
Survei ini bertujuan untuk melihat legitimasi publik atas perang AS–Israel dan Iran dengan melibatkan responden di atas umur 17 tahun yang memiliki ponsel selama periode 12–31 Maret 2026, dengan margin of error 6%.
Mayoritas RI Tidak Setuju Serangan AS-Isarel ke Iran
Baca Juga: 42% Publik RI Cemas terhadap Konflik Iran Vs AS-Israel
Hasil dari survei tersebut menunjukkan, terjadi penolakan yang sangat kuat terhadap serangan AS-Israel ke Iran. Sebanyak 83,1% responden menyatakan tidak setuju terhadap serangan tersebut. Rinciannya, sebanyak 60,1% menyatakan tidak setuju dan 23% sangat tidak setuju.
Sebaliknya, hanya sebagian kecil responden yang mendukung serangan tersebut, yakni 0,2% sangat setuju dan 4,7% setuju. Sementara 7,4% responden lainnya berada di posisi netral dan 4,5% tidak bersikap.
Secara keseluruhan, data ini mencerminkan sikap tegas mayoritas publik Indonesia yang menolak aksi militer tersebut. Penolakan ini tidak hanya dipengaruhi oleh dampak ekonomi global, tetapi juga pertimbangan rasa kemanusiaan. Publik memandang serangan tersebut sebagai bentuk eskalasi berisiko yang memperburuk krisis kemanusiaan di Timur Tengah.
Kecaman serupa juga datang dari komunitas internasional. Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Volker Türk, menegaskan bahwa warga sipil selalu menjadi korban terbesar dalam konflik bersenjata.
“Saya mengecam serangan militer di seluruh Iran pagi ini oleh Israel dan Amerika Serikat, dan serangan balasan berikutnya oleh Iran. Seperti biasa, dalam setiap konflik bersenjata, warga sipillah yang akhirnya membayar harga tertinggi,” ujar Türk, dilansir dari akun resmi PBB pada Sabtu (28/2/2026).
Pemerintah Indonesia pun mengambil sikap diplomatik dengan menyerukan penghentian operasi militer. Melalui Kementerian Luar Negeri, Indonesia meminta AS dan Israel segera menghentikan serangan, sekaligus mendorong Iran untuk menahan diri agar konflik tidak meluas ke kawasan lain.
Baca Juga: 40% Publik RI Harap Pemerintah Aktif Dorong Perdamaian di Tengah Konflik Iran Vs AS-Israel
Sumber:
https://www.lsi.or.id/post/rilis-survei-02-april-2026
Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor